Habis Terang Terbitlah Lilin

Ia baru dua menit jongkok di dalam water closed model leher angsa. Segenap konsentrasi difokuskan untuk urusan cleansing usus. Belum selesai ia dengan urusan pembuangannya, listrik tiba-tiba mati. Byar pet! Ruang 1×1 meter itupun gelap gulita.

Bukan perihal gelap yang membuat lajang tanggung itu marah. Tetapi, begitu listrik mati, maka pompa air yang akrab disebut dap, tak bisa bekerja. Otomatis ia tak bisa cebok. Ia sempat menunggu sekitar 10 menit, tapi arus PLN tak kunjung menyala. Dengan sangat terpaksa, lelaki berkulit sawo matang mendekati hitam itupun dengan gaya gangnam style keluar bilik termenung.

Tatkala ia bercerita kepada aceHTrend, Rabu (5/4/2017) wajahnya terlihat jengkel. Sesekali tertawa tatkala mengenang “azabnya” di kamar mandi.

“Sial betul Aku, Bang. Padamnya listrik tak bisa diprediksi. Sesuka hati dan tanpa pemberitahuan,” kata bujang baru mekar itu sembari menolak namanya ditulikan.

Cerita menarik lainnya datang dari seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) yang bernama Wati. Ia dan keluarganya harus bergelap-gelapan begitu kumandang azan magrib bergema di meulasah gampong. Sialnya lagi, ia lupa mengecek nasi yang ditanak menggunakan rice cooker.

“Begitu makan malam tiba, saat hendak menciduk nasi, eh masih berupa beras yang sudah agak bengkak karena direndam air. Akhirnya setelah 20 menit kemudian kami makan tanpa selera,” kenang perempuan 40 tahun itu.

Padamnya arus listrik tanpa pemberitahuan dan sudah terlalu sering, sudah menjadi keluhan publik di Aceh. Hal ini disebabkan semua hajat hidup dan aktivitas berhubungan erat dengan daya listrik. Mulai dari makan minum, hingga aktivitas BAB membutuhkan dukungan listrik. Warga semakin menderita karena dengan semakin meningkatnya suhu alam, ketergantungan mereka kepada listrik pun kian kentara.

Risman A. Rachman, warga Banda Aceh mengaku agenda minum kopi di Bireuen bersama Sulaiman Abda yang pulang dari lawatan di Lhokseumawe terpaksa dibatalkan. “Mesin pembuat kopi tak bisa bekerja. Sehingga kami membatalkan ngopi bersama,” terang Risman, Rabu pagi (5/4/2017) via whatshap.

Beberapa ibu-ibu kepada aceHTrend mengatakan, selama listrik kian tak jelas kapan menyala dan kapan padam, mereka pun tiap malam minimal menghabiskan lilin sebanyak tiga batang ukuran sedang. “Itu paling sedikit. Rata-rata 10.000 rupiah. Ini di luar halangan lainnya. Bayangkan kami yang tak punya lagi alat tradisional untuk urusan memasak. Repot betul dan benar-benar menyusahkan,” ujar Ita, salah seorang IRT di Bireuen.

Di sektor pendidikan, dengan padamnya listrik di malam hari, aktivitas belajar-mengajar di balai pengajian turut terganggu. Demikian juga dengan anak-anak yang mengulang pelajaran di rumah.

Hasil penelusuran aceHTrend, semua profesi, termasuk karyawan PLN sangat dirugikan dengan pemadaman yang kian tak terkontrol.

Humas PLN Aceh, Selasa (4/4/2017) meminta warga untuk memaklumi terkait pemadaman listrik bergilir. Pihaknya sedang melakukan uprating konduktor dan pemeliharaan lainnya, dalam rangka persiapan untuk bulan Ramadhan.

Hukum Ganti Rugi

Ahli hukum perdata, El Rhoy P. Sihombing, SH, dalam salah satu rubrik konslutasi di Hukum Online.Com menyebutkan, Pasal 56 angka 1 Undang-Undang No. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan (“UU Ketenagalistrikan”) disebutkan bahwa:

“PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) sebagai badan usaha milik negara yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1994 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum (Perum) Listrik Negara menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) dianggap telah memiliki izin usaha penyediaan tenaga listrik.”

Yang dimaksud dengan usaha penyediaan tenaga listrik adalah pengadaan tenaga listrik meliputi pembangkitan, transmisi, distribusi, dan penjualan tenaga listrik kepada konsumen.‘Konsumen’ sendiri adalah setiap orang atau badan yang membeli tenaga listrik dari pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik.

PT PLN sebagai perusahaan yang melakukan penjualan tenaga listrik kepada Anda sebagai konsumen, mempunyai kewajiban yaitu:
a. menyediakan tenaga listrik yang memenuhi standar mutu dan keandalan yang berlaku;
b. memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada konsumen dan masyarakat;
c. memenuhi ketentuan keselamatan ketenagalistrikan; dan
d. mengutamakan produk dan potensi dalam negeri.

Di sisi lain, Anda sebagai konsumen mempunyai hak-hak sebagai berikut:
a. mendapat pelayanan yang baik;
b. mendapat tenaga listrik secara terus-menerus dengan mutu dan keandalan yang baik;
c. memperoleh tenaga listrik yang menjadi haknya dengan harga yang wajar;
d. mendapat pelayanan untuk perbaikan apabila ada gangguan tenaga listrik; dan
e. mendapat ganti rugi apabila terjadi pemadaman yang diakibatkan kesalahan dan/atau kelalaian pengoperasian oleh pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik sesuai syarat yang diatur dalam perjanjian jual beli tenaga listrik.

Namun, sebagai catatan, bahwa tidak semua pemadaman dapat dimintakan ganti rugi pengurangan tagihan listrik kepada PT PLN. PT PLN dibebaskan dari kewajiban memberikan pengurangan tagihan listrik kepada Konsumen terhadap indikator lama gangguan dan jumlah gangguan yang disebutkan dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a dan huruf b Permen ESDM No. 8 Tahun 2016, apabila:
a. diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan pemeliharaan, perluasan atau rehabilitasi instalasi ketenagalistrikan;
b. terjadi gangguan pada instalasi ketenagalistrikan yang bukan karena kelalaian PT PLN;
c. terjadi keadaan yang secara teknis berpotensi membahayakan keselamatan umum; dan/atau
d. untuk kepentingan penyidikan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Selain itu, PT PLN juga dibebaskan dari kewajiban pemberian pengurangan tagihan listrik kepada konsumen apabila terjadi sebab kahar. Sebab kahar tersebut maksudnya sebab-sebab di luar kemampuan kendali PT PLN meliputi kekacauan umum, huru-hara, sabotase, kerusuhan, demonstrasi dengan kekerasan, pemogokan, kebakaran, banjir, tanah longsor, gempa bumi, akibat kecelakaan, bencana alam lainnya, atau perintah instansi yang berwenang.[]

KOMENTAR FACEBOOK