Lelaki “Gila” Ingin Bertemu Ulama

Tatkala hujan mulai membasahi Kota Matangglumpangdua, Bireuen, Jumat (7/4/2017) pukul 21.30 WIB, lelaki itu sudah pulas tertidur di sebuah kursi panjang di emperan toko. Sebuah gerobak sorong yang terbuat dari kayu ditaruh di dekatnya. Dilihat dari dengkuran, lelaki berperawakan kecil itu sangat kelelahan.

Di badan gerobak sorong beroda dua itu, penuh dengan botol bekas air mineral, dan sejumlah barang rombeng lainnya termasuk beberapa potong baju loak yang dijemur di dinding.

“Apakah ia sudah makan?” Tanya istri saya.

“Entah. Coba Adik cek piring plastik itu,” kata saya sembari memutar haluan sepeda motor matic keluaran tahun 2011. Istri saya mendekat. Dengan agak berhati-hati ia membuka piring plastik. Tiga potong ubi rebus tergeletak di dalamnya. Kemudian ia menutup kembali piring itu.

“Coba Abi bangunkan. Siapa tahu Bapak ini belum makan,” kata istri saya.

Awalnya ada rasa segan. Orang yang sedang tidur sepulas itu, sungguh tidak etis untuk diganggu. Tapi, siapa tahu ia tidur dalam rasa lapar. Setelah menarik nafas, segera saya bangunkan.

Dengan agak terkejut ia membuka mata. Tatapannya penuh tanda tanya. Mungkin baru pertama kali ada orang yang membangunkan dirinya. Setelah menguasai dirinya, lelaki itu segera bangun. Bau keringat segera bangkit. “Saya tak tahu bahasa sini. Bapak pakai Bahasa Indonesia saja,” katanya sembari menarik kain sarung yang dijadikan selimut.

“Bapak sudah makan?”

“Sudah,” jawabnya sembari tersenyum.

Nama lelaki itu Yoyo. Begitu ia menunjukkan tulisan di gerobak, saya hanya membacanya sepintas. Umurnya sekitar 50-an dan rambut serta kumisnya sudah memutih. Bibirnya agak memerah, mungkin ia tidak merokok. Nafasnya juga normal, tanpa campuran bau nikotin tembakau.

“Saya dari Jawa Tengah. Awalnya hanya ingin sampai Jakarta. Tapi akhirnya tiba di sini. Saya ingin bertemu ulama untuk meminta berkat. Saya punya keluarga di Jawa Tengah,” katanya dengan gurat wajah agak linglung. Ia seperti kebingungan.

“Apa Bapak sudah bertemu ulama di sini?,” Saya bertanya.

“Belum,” jawabnya singkat.

“Kapan rencana mau pulang ke Jawa,? Saya bertanya.

Ia tidak menjawab. lelaki itu hanya tersenyum sembari menatap lurus ke depan. Ada kesan bahwa agak terganggu dengan kehadiran saya. Ia banyak diam daripada menjawab. Istri saya berkesimpulan bahwa lelaki itu seperti mengalami sedikit gangguan.

“Dari tadi kurang nyambung,” kata istri saya.

Saya masih berusaha mengorek informasi sebanyak mungkin. Tapi memang tak banyak yang bisa digali. “Saya ingin bertemu ulama untuk meminta berkat dan hendak belajar @#$%&@#%&,” jawabnya. Kalimat diujung tidak jelas. Ia seperti berbicara dengan dirinya sendiri.

Akhirnya, setelah 15 menit, saya pun pamit. Lelaki di samping saya hanya ingin tidur. Istri saya memberikan sedikit uang untuk bekal lelaki itu. Ia menerima, tapi ekspresinya datar saja.

Sejenak, dari seberang jalan yang diserbu rintik hujan, ia terlihat meneguk air. Kemudian membetulkan selimut. Ia tak kembali tidur. Mungkin, kenikmatan tidurnya terganggu karena saya usik. Duh, saya tiba-tiba merasa bersalah.

***
Tadi siang, Sabtu (8/4/2017) saya melihat ia mendorong gerobak ke arah barat. Dilihat dari mata angin, tujuannya semakin benar. Bukankah di barat sana banyak ulama yang membuka dayah? Semoga ia bertemu dengan apa yang ia ingini.[]

KOMENTAR FACEBOOK