Kautsar dan Kesangkilan Ide

Pasca huru-hara Pilkada Aceh 2017 usai dan Irwandi -Nova keluar sebagai pemenang, Ketua Fraksi Partai Aceh (F-PA) Kautsar, S.H.I memberikan signal bahwa pihaknya siap berkoalisi dengan Irwandi, untuk membangun Aceh yang lebih baik.

“Saya berbicara atas nama ketua fraksi. Kita semua harus move on. Semua yang terlibat dalam pilkada sudah saatnya kita saling bergandeng tangan untuk membawa Aceh ini ke arah yang lebih baik,” kata Kautsar kepada Serambi Indonesia, Kamis (6/4/2017). Dalam kesempatan itu, mantan aktivis Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat (SMuR) itu tidak menampik bila gagasan itu belum ada intruksi dari pimpinan PA, apakah ke depan PA akan menjadi partai koalisi atau opisisi terhadap pemerintah Irwandi-Nova.

Publik Aceh sempat menyambut baik apa yang disampaikan oleh politisi muda tersebut. Namun, semua apresiasi yang lahir dari berbagai kalangan, segera berubah menjadi cemohan, tatkala PA justru menolak pernyataan Kautsar dan mengatakan apa yang disampaikan oleh Plt Sekjen PA Bireuen itu semata pernyataan pribadi. Lagi-lagi Kautsar tak membantah.

Bola panas pun kian menggelinding. Kautsar dibully oleh pendukung dan anggota PA serta oleh orang-orang yang selama ini berseberangan dengan PA. Apa yang dia lakukan dianggap sebagai bentuk kelancangan dari seorang “bocah” yang tidak pernah ikut mengangkat senjata. Ia diejek sebagai si tukang rusak dari internal PA yang punya banyak nafsu politik dan kerap mengabaikan orang lain. Segala stigma buruk dituangkan ke wajah sang politisi yang telah banyak makan asam garam pergolakan Aceh-Jakarta.

***
Sebagai orang yang kerap tidak sepakat dengan perilaku oknum yang jumlahnya banyak di tubuh PA, saya melihat apa yang dilakukan oleh Kautsar merupakan sebuah komunikasi politik yang cemerlang. Ia cepat bergerak untuk membangun kalam dengan lawan di Pilkada. sebagai Fraksi yang memiliki jumlah kursi di DPRA, bukan suatu yang tabu bila ia segera menyatakan pendapat. Toh apa yang ia sampaikan tidak bertentangan dengan nilai apapun–kecuali rasa sakit hati yang melow–

Banyak yang lupa, atau justru memang tidak memahami sama sekali, bahwa politisi harus bergerak cepat dan mampu menguasai diri di tiap kondisi. Tanpa ingin menafikan tentang banyaknya orang berpengaruh di tubuh PA, saya kira apa yang dilakukan oleh Kautsar merupakan sesuatu yang sangkil–sesuatu yang berdaya guna/efektif– baik untuk membangun citra positif PA, maupun bergaining di mata penguasa eksekutif.

Lihatlah, betapa sangkilnya pernyataan Kautsar. begitu ia mengutakan “ide” tersebut, banyak kalangan yang segera memberikan respon positif. Tentu ini menunjukkan bahwa apa yang dia sampaikan memang benar-benar mangkus (berhasil guna-pen) untuk membangun image.

Terlepas bahwa ada “tarian” lain yang sedang dimainkan oleh PA untuk membangun daya tawar di mata kubu Irwandi, dan mungkin kautsar terlibat di dalamnya, saya kira sesuatu yang sangkil dan mangkus jangan begitu cepat ditangkis dengan pernyataan-pernyataan yang justru menunjukkan kelas tak cukup gizi. Voter kelas tradisional selamanya akan melihat sesuatu secara lahiriah. []

KOMENTAR FACEBOOK