Kegilaan yang Mungkin Belum Berakhir

Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf (Foto: Dok.aceHtrend)

Walau duet Abu Doto -Mualem (Adomu) sudah dipastikan tinggal mengitung bulan di tahun 2017, keraguan mulai muncul. Akankah duet Teungku Agam-Nova (Teugava) akan mampu membawa Aceh ke gerbang kegemilangan yang sebenarnya? Atau ia menang hanya karena era 2012-2017 lebih buruk dari masa 2006-2012, kala Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar (Irna) memegang kendali Aceh?

Tatkala Doto Zaini-Mualem berhasil memenangkan tarung politik di tahun 2012, Partai Aceh (PA) masih sangat solid. Para kader dan simpatisan masih sangat meyakini bila biang kerok tidak berjalannya amanah MoU Helsinki dan UUPA, karena pemgkhianatan oleh Irwandi Yusuf. Juru propaganda GAM yang kala pengepungan Cot Trieng di Aceh Utara oleh TNI, sukses memainkan opini bersama Nur Djuli–sehingga TNI mengepung rawa kosong– dinilai sebagai duri dalam daging. Banyak yang mengaku menyesal telah membantu mulusnya perlawanan Irwandi–kala itu ia bukan siapa-siapa– terhadap keinginan GAM tua yang mendukung Humam-Hasbi Oke (H2O) sebagai paslon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, pada pilkadasung pertama di Indonesia di tahun 2006.

Rakyat Aceh ditambah dengan berbagai intimidasi politik, kembali menghukum Irwandi di tahun 2014. Partai Nasional Aceh (PNA) yang berwarna orange (kuneng kunyet-pen) hanya mampu meraih suara yang memprihatinkan. Sosok eks kombatan yang bergabung bersama Irwandi kala itu, dianggap sebagai oknum bermasalah. Sehingga pantas untuk tidak dipilih. Bilapun ada daerah yang berhasil diorangekan oleh PNA, itu hanya Bireuen. Mereka memiliki satu fraksi di DPRK dan mengirim satu wakil ke DPRA. Selebihnya, nasib PNA mirip PDI-P. Menjadi partai gurem di tengah kecamuk semangat pembaharuan di tanoh Aceh.

Kini, rakyat pun memilih menghukum Abu Doto dan Mualem. Dua pentolan di tubuh GAM ini dihukum karena dinilai lebih buruk kinerjanya dibandingkan Irwandi. Bilapun tetap ada JKRA dan beasiswa anak yatim, itu dinilai sebagai “warisan” dari Irwandi. Selebihnya, peh tem!

Terpilihnya Irwandi sudah terlihat jauh sebelumnya. Rapat umum yang digelar di berbagai tempat dihadiri oleh ribuan pendukung. Walau PA tetap membayangi, tapi kuneng kunyet kali ini punya modalitas yang lebih besar. Rakyat awam tanpa rasa takut memakai baju orange dan datang ke tempat-tempat kampanye. Mobilitas mereka cukup tinggi. Bahkan mereka tidak perlu bekerja sangat keras untuk mengumpulkan massa. Siapapun bersedia datang.

Pilkada 2017 tetap miliknya GAM. Bilapun ada paslon lain yang menawarkan gagasan yang lebih pasti, rakyat masih menolak. Tarmizi Karim hadir dengan gagasan yang luar biasa. Rakyat menggeleng. Abdullah Puteh yang tampil brilian di atas panggung debat kandidat, timsesnya tak bergerak di lapangan. Mungkin, hanya Apa Karya, walau tidak dipilih, tapi timsesnya madih meuwet-wet bak taloe jalan, kala itu.

Dalam kajian saya, terpilihnya Irwandi karena rakyat hanya punya pertimbangan satu hal: Mereka hanya mempertimbangkan siapa yang lebih baik kinerjanya di kalangan GAM. Rakyat hanya alergi terhadap PA –semacam menunjukkan kebosanan dan perlawanan– atas sikap yang petantang petenteng selama ini. Terlalu kejam untuk menghukum Mualem, tapi ia juga harus diberi pelajaran. Bahwa dalam ketidakberdayaan, rakyat masih punya kekuatan. Selama prasyarat demokrasi masih berjalan pada relnya, rakyat tentu bisa melawan, minimal lima tahun sekali.

Lalu, akankah Irwandi akan mampu mewujudkan impian segenap rakyat Aceh? Tentu untuk menjawab ini, harus menunggu waktu. Tapi, bila ia tenggelam dalam puja-puji serta terbawa arus bisikan manis para pembisik dan kutu loncat serta agen politik, ia akan terpuruk.

Di tataran bawah, rakyat masih menghadapi persoalan klasik yaitu kemiskinan, ketidak berdayaan dan berada dalam ketidakpastian hukum. Rakyat juga berada pada titik nadir antara kepentingan pemodal dan ketidakpedulian penguasa. Mereka terintimidasi oleh ragam kepentingan orang besar yang selama ini kerap bersikap jadah terhadap kepentingan rakyat.

Irwandi harus menyadari bahwa rakyat Aceh sedang mengalami gangguan jiwa akut. Mereka terperangkap dalam siklus tidak sehat yang kemudian menggunungnya perilaku tidak jujur. Rakyat kecil selalu salah, dan orang besar selalu benar. Segala program pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan hanya lelucon pembangunan yang kerap menjadi olokan para agen pasca berhasil meraup pundi rupiah setelah menipu rakyat dengan tanpa rasa malu.

Lalu, kenapa rakyat masih bisa bertahan? Satu-satunya alasan karena adanya subsidi. Baik subsidi kesehatan, pendidikan tingkat dasar maupun subsidi beras. Selebihnya, mereka hidup dalam ketidakpastian. Rakyat masih sebatas komoditas politik lima tahunan yang kerap ditembak sesuka hati, tatkala orang besar ingin meraih tujuannya dengan cara instan.

Sebagai bergaining point GAM, Irwandi harus memahami bahwa ia berada pada posisi sentral. Baik sebagai juru selamat marwah MoU Helsinki dan UUPA, ia juga menjadi duta bagi GAM agar tetap tersambung dengan rakyat. Tugas ini maha berat. Tapi ia harus dan wajib menjalaninya sebagai “karma” karena telah dipilih oleh rakyat. Bila ia tak sanggup mengawal, sungguh kegilaan ini belum akan berakhir, sampai “juru selamat” selanjutnya hadir di pesta demokrasi yang akan datang. []

KOMENTAR FACEBOOK