Mengenang PRA, Parlok Tertua di Aceh

ACEHTREND.CO- Partai Rakyat Aceh (PRA) merupakan partai lokal tertua di Aceh yang didirikan oleh sekumpulan anak muda yang awalnya bergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR). Didirikan pada 16 Maret 2006 sebagai Komite Persiapan (KP) PRA, partai yang digawangi oleh aktivis mahasiswa itu dideklarasikan sebagai partai dalam kongres pada 2007. Nama-nama seperti Aguswandi, Ridhwan H. Mukhtar, Thamren Ananda, Maarif, Mulyadi Rusman, Sofyan, dll adalah para punggawa dari parlok ini.

Dalam buku Tranformasi Gerakan Aceh Merdeka: Dari Kotak Peluru ke Kotak Suara yang diterbitkan oleh Friedrich Ebert Stiftung, pada artikel: Kami Memang Selalu Menjadi Pelopor, kepada Linda Crhistanty, Thamren Ananda yang pernah menjabat sebagai sekjen partai mengaku bahwa, kala itu ia dan teman-temannya mendeklarasikan PRA jauh sebelum UU tentang parlok diterbitkan, dalam rangka menekan pemerintah agar segera mewujudkan point-point MoU Helsinki.

“Lagipula, aparat nggak bakalan menangkap kami. Mereka bisa dituduh melanggar perjanjian Helsinki. Kami memang selalu menjadi pelopor. Tak lama (setelah itu-red) lahir peraturan pemerintah tentang partai politik lokal,” kata Thamren kepada Linda dari FES.

Namun sayang, partai yang dibangun dengan semangat anti kapitalisme itu tidak mendapat dukungan dari rakyat Aceh. Pada pileg 2009 PRA yang sempat membuat kontrak politik dengan rakyat Aceh di salah satu surat kabar terkemuka di Aceh, tidak dilirik oleh rakyat yang masih eforia dan cinta mati kepada GAM.

Sofyan, salah seorang pendiri PRA, kepada aceHTrend, Selasa (18/4/2017) mengatakan, sebagai partai yang didirikan dengan bermodalkan semangat dan minim dana, PRA merupakan model parlok yang modern. Pendidikan politik kader terstruktur rapi. Semua tujuan partai dipahami dengan benar oleh kader.

PRA juga sebagai parlok yang memahami persoalan dan kebutuhan rakyat Aceh.”Isu yang kami angkat di pileg 2009 adalah tiga tuntutan mendesak rakyat Aceh yaitu lapangan kerja, pendidikan gratis dan kesehatan gratis,” ujar Sofyan.

Menurut Sofyan, semenjak didirikan pengurus sudah mengerti tentang kelemahan mendasar dari partai ini. Pertama tidak memiliki modal finansial. Efeknya mereka tidak mampu membangun jejaring sampai ke akar rumput. Hal lainnya, PRA tidak mampu melawan “takdir” bahwa rakyat Aceh masih tergila-gila dengan GAM yang mendirikan Partai Aceh (PA).

Hasil rapat pimpinan pada 2010, PRA memutuskan mendukung Irwandi-Muhyan yang maju dari jalur independen pada Pilkada 2012. Harapannya, bila Irwandi menang, PRA akan ikut pemilu 2014. Namun sejarah berkata lain, Irwandi kalah, dan PRA gagal ikut pileg. “Teman-teman mungkin lelah. Juga faktor logistik. Saya pribadi kala itu bergabung dengan PNA dan duduk sebagai sekretaris untuk Aceh Utara,” ujar Sofyan.

Kepada aceHTrend, Sofyan mengatakan, sebagai kader dan bagian dari pendiri ia masih berharap PRA kembali muncul. Bila memungkinkan maju di pileg 2019. “Parlok ini punya konsep yang jelas. Persoalannya ya perihal finansial. Sedangkan SDM, saya kira kami sudah sangat matang pasca ditempa beberapa kali momen politik,” imbuhnya.

KOMENTAR FACEBOOK