Padamnya Cahaya Gubernur “Maling Taik”

19 November 2014, Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo, melantik Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta. Cina asal Bangka Belitung itu menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh Jokowi yang melenggang ke kursi presiden.

“Saya berjanji akan memenuhi kewajiban saya sebagai gubernur dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh UUD Negara Republik Indonesia 1945, dan menjalankan segala Undang-Undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya, serta berbakti kepada masyarakat, nusa dan bangsa,” demikian yang janji yang diucapkan Ahok saat dilantik di Istana Negara.

Duet Joko Widodo-Ahok yang sebelumnya menang sebagai paslon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI, memang ibarat air dan api. Jokowi yang dalam kesehariannya tampil santai, tenang, senyam-senyum dan gemar blusukan, berbeda jauh dengan Ahok yang kasar, rapi, mulutnya bak tong sampah dan tak mengenal sopan santun. Bila Anda sering menonton sinema Tiongkok, maka Ahok seperti pemeran tokoh antagonis yang mulutnya tak pernah merasakan bangku perguruan tinggi.

Pasca menggantikan Jokowi, mantan kader Gerindra yang oleh sebagian kalangan dicap berpaham sosialis itu, selalu menjadi pemberitaan media. Ini seputar aktivitasnya yang selalu tampil mengamuk dan memaki. Semakin hari makiannya pun kian liar. Bukan saja PNS yang berkinerja bobrok yang kena semprot, warga yang mengadu ke dia pun ikut dikata-katain dengan diksi yang tidak layak. Acapkali Ahok menyebut kata: Maling lu. Taik, sekali lu maling ya maling!

Awalnya aksi blak-blakan Ahok mendapat simpati dari massa. Ia dinilai jengah dengan perilaku korup birokrat yang sudah tidak mengenal batasan. Namun karena tak kunjung reda, dukungan yang sebelumnya selalu didengungkan, pun berubah menjadi antipati. Hal ini kian bertambah tatkala ia menyatakan maju dalam pilkada DKI 2017. Lidahnya pun akhirnya keseleo tatkala menyebut surat Al-Maidah. Ia telah salah langkah, membicarakan sesuatu yang di luar imannya, di depan publik dan direkam. Plek!

Ahok pun berubah menjadi public enemy bukan hanya oleh lawan politiknya di DKI, tapi juga oleh “seluruh” elemen umat muslim yang ada di Indonesia. Ahok telah menciptakan keresahan sosial. Bagi umat Islam, Ahok tidak pantas membicarakan Al Maidah. Konon lagi ia coba mengintepretasi sesuai dengan kebutuhannya menjelang pilkada.

Elemen sipil seperti FPI dkk pun menggelar aksi menuntut Ahok agar dihukum karena telah menista Islam. Gelombang massa pun beberapa kali berhasil memutihkan Jakarta. Aksi ini sempat juga coba diimbangi dengan aksi tandingan yang bertajuk bhinneka. Pesertanya yang sedikut itu kebanyakan PNS dan karyawan BUMN yang dipaksa hadir, kalangan mata sipit, ultra nasionalis, pemimpin parpol berhaluan nasional, gay, waria, dll. Bahkan, dalam satu kesempatan mereka mencatut identitas HMI. Kurang ajar!

Organisasi sebesar PBNU, GP Ansor dan PPP–ketiga mewakili identitas Islam– dengan ragam alasan tetap keukeuh memberikan dukungan kepada Ahok-Djarot yang menurut mereka merupakan pasangan calon gubernur yang berintegritas dan mewakili keberagaman dan kebhinnekaan.

Umat Islam pun semakin gerah. Tiga organisasi besar itu dinilai telah mengkhianati agama Islam–karena mendukung Ahok yang kafir– dan mengabaikan Anies Baswedan–yang sebelumnya dituduh syiah– dan Sandiaga Uno.

Mungkin, PPP, Ansor, PBNU, dan beberapa parpol lainnya menilai Basuki Tjahaja Purnama akan bersinar pada pilkada DKI putaran kedua ini. Apalagi Ahok-Djarot didukung oleh propaganda media mainstream.

Namun hasil quick qount menunjukkan hasil yang berbeda. Anis-Sandi memimpin perolehan suara. Walau KPU belum mengumumkan hasil akhir, tapi dengan quick count, semua telah jelas. Cahaya Ahok pudar. Ia tenggelam, kalah. Akankah karir politiknya akan berakhir pula? Belum tentu. Ia hanya gagal menjadi Gubernur DKI. Bisa jadi ia akan jadi menteri atau duta besar. Satu hal lagi, tak ada lagi gubernur (Jakarta) yang bicara maling dan taik atau maling taik di depan publik.

Lalu bagaimana dengan PPP, Ansor, PBNU dan segenap entitas politik yang mengatasnamakan diri sebagai perwakilan Islam, namun mendukung Ahok-Djarot? Saya kira umat Islam Indonesia akan menghukumnya. Tunggu saja.

KOMENTAR FACEBOOK