Jenderal Indonesia Versus Jurnalis Amerika, Allan Nairn

Para jenderal Indonesia dan Allan Nairn, jurnalis Amerika Serikat adalah kisah tuduhan berbalas bantahan, lalu hilang senyap, dan muncul kembali tiba-tiba, kini juga dahulu.

Terkini, jurnalis Amerika Serikat itu kembali menyebut keterlibatan sejumlah jenderal yang ingin menggulingkan Jokowi, bahkan ikut menyebut Jenderal Gatot, dan Ahok hanya sebagai dalih menuju makar.

Terhadap tulisan investigasi Allan Nairn yang dipublish ulang oleh Tirto itu TNI bermaksud menempuh jalur hukum karena apa yang ditulis oleh jurnalis Amerika itu disebut sebagai hoax.

Rencana TNI itu disebut Allan Nairn sebagai ancaman terhadap pers berani Indonesia, dan ia menantang untuk mengancam dirinya. “Bapak2 TNI: Kalau mau mengancam pers Indonesia yang berani, mohon mengancam saya juga,” demikian cuit Allan Nairn di Twitter, Jumat (21/4/2017).

Terhadap tulisan Allan Nairn itu Ulil Abshar Abdalla ikut memberi komentar, melalui twitter politisi Partai Demokrat itu menyebut: Kelemahan mendasar tulisan Allan Nairn itu: 1. Sumbernya banyak yg menolak di-wwc. 2. Yg mau di-wwc, cenderung narasumber yg nge-bluff.

Seteru para jenderal dengan Allan Nairn bukan hanya terjadi saat ini. Sebelumnya, pada 2014, jurnalis Amerika Serikat itu berhasil merontokkan perolehan suara Prabowo Subianto setelah membuka perbincangan off the recordnya dengan Prabowo, Juli 2001.

Nairn menulis di blognya bahwa dalam wawancaranya dengan Prabowo pada Juni dan Juli 2001 lalu, Prabowo menyebut Presiden RI Abdurrahman Wahid itu buta dan memalukan.

Selain itu, Prabowo juga mengatakan bahwa Indonesia perlu rezim otoriter yang jinak. Prabowo juga mengatakan bahwa keragaman etnis dan agama adalah penghalang demokrasi.

Saat itu Prabowo murka, tapi Nairn menantang Prabowo untuk menyeretnya ke pengadilan untuk buka-bukaan. Seiring waktu, seteru itu menghilang dengan sendirinya.

Tahun 2010 Allan Nairn melalui blognya juga pernah menuduh TNI melakukan pembunuhan aktivis partai lokal di Aceh pada Pemilu 2009. Dan, TNI melalui webnya juga membantah.

Siapa Allan Nairn?
Allan Nairn adalah jurnalis spesialis investigasi kelahiran Morristown, New Jersey, Amerika Serikat, yang lahir pada tahun 1956. Nairn, lewat aktivitas jurnalistiknya lebih banyak menulis artikel tentang hasil investigasinya terkait kebijakan luar negeri Amerika Serikat di negara negara seperti Haiti, Guatemala, Indonesia, dan East Timor.

Perkenalan Nairn dengan Indonesia dimulai pada 1991 ketika ia datang ke Timor Timur. Fokus utama investigasinya sebenarnya adalah kebijakan-kebijakan AS di negara-negara konflik. Dan Timor Timur saat itu salah satunya, selain ia pernah meliput ke Haiti dan Guatemala. Di sana ia menjadi saksi “Pembantaian Santa Cruz”, yaitu peristiwa pembunuhan massal demonstran Timor Timur di Pemakaman Santa Cruz, 12 November 1991.

Saat itu Nairn dan Amy Goodman menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh tentara Indonesia hingga ia dilarang masuk Timor Timur lantaran dituduh bahwa penanya menjadi ancaman nasional. Namun, ia kemudian masuk secara ilegal, mengais info, dan membuat laporan yang, sebagaimana menjadi tujuan awal dan utamanya: pada 1993 laporannya membantu meyakinkan Kongres AS untuk memutus bantuan militer ke Indonesia.

Nairn disebut pernah tujuh kali masuk ke Indonesia secara ilegal. Di jaman rezim Soeharto dulu, melalui andil Amerika Serikat, Allan Nairn pernah merasakan dinginnya jeruji besi karena dipenjara oleh pasukan militer Indonesia.

Allan Nairn juga disebut saksi kunci dalam insiden Santa Cruz di Dili, East Timor, pada tanggal 12 November 1991 yang silam. Militer Indonesia kala itu dituduh melakukan pembantaian terhadap 271 warga sipil di Santa Cruz, Dili. Allan mengalami luka retak di kepala akibat dihajar popor senapan M16 tentara Indonesia.

Pada tahun 2010, Allan Nairn kembali menjadi incaran Militer Indonesia karena dianggap telah melakukan fitnah yang keji terhadap militer Indonesia. Allan Nairn menantang dan mengancam balik akan membuka semua borok militer Indonesia jika ia ditangkap.

Untuk karya jurnalistiknya, Allan Nairn telah dianugerahi sejumlah penghargaan atas kepiawaiannya menulis berita investigasi di berbagai negara.

Pada 1993, Nairn dan rekannya, Amy Goodman, menerima penghargaan Robert F Kennedy Memorial First Prize untuk laporan radio mengenai Timor Timur. 

Pada 1994, dia mendapat George Polk Award atas artikel feature-nya dan juga menerima James Aronson Award atas tulisannya mengenai Haiti di majalah The Nation. []

Dari berbagai sumber