“Bencana” Menanti Irwandi Yusuf

Irwandi tidak akan menang andaikan segenap rakyat tidak bersatu padu. Ia berhasil menggulingkan Abu Doto dan Mualem karena faktor dukungan rakyat yang luar biasa. Kini, setelah menang dan rakyat kembali ke “ladang” masing-masing, sebagian orang yang mengaku timses berencana membuat ladang baru yaitu semacam persatuan timses yang dilembagakan. Kekuasaan Irwandi pun dibayangi “Neo jamaah”.

Pembicaraan telepon itu, berhasil saya curi dengar tatkala berada di ruang publik. Si penelpon ketika sedang berbicara dengan koleganya di seberang jinjit itu, beberapa kali terbahak. Mereka sedang membicarakan tentang sebuah perkumpulan timses Irwandi yang sudah dibentuk di Banda Aceh. ” Kita juga harus bikin satu. Masa, mereka saja bisa main klaim. Kita kan juga bekerja untuk pemenangan Irwandi-Nova,” kata sang lelaki.

Adalah Selawat atau sejuta relawan hebat yang menjadi pemicu. Belasan orang di Banda Aceh bertemu sembari minum kopi dan kemudian bersepakat melembagakan diri dalam sebuah wadah. Tidak jelas tujuannya untuk apa, namun oleh sebagian orang disebutkan bila badan itu didirikan sebagai upaya agar “boh manok mirah” jangan sampai diambil oleh orang lain.

Pasca lembaga ini dideklarasikan, dunia pertimsesan pun goyang. Bahkan jauh hari sebelumnya ada beberapa pihak yang merasa berjasa memenangkan Irwandi, pun pindah alamat ke Kutaraja. Alasannya pun beragam. Namun terbaca bahwa “eksodus” itu dilakukan dalam rangka menjaga boh manok mirah.

Terkait dengan grub timses yang sudah terbentuk, Irwandi pun membuat status khusus di Facebook. Berikut saya kutip utuh:
SELAWAT
sejuta relawan hebat

Mohon di-nonaktifkan dulu atau dibubarkan sementara sampai ada perintah dari saya. Nanti akan kita bentuk lagi secara komprehensif dan sesuai dengan tatacara pembentukan ormas.

Terimakasih.

Dalam dunia politik praktis, baik pileg maupun Pilkada, timses merupakan salah satu gerombolan yang paling susah dihadapi. Mereka akan terus-menerus menempel pada penguasa yang berhasil meraih kekuasaan. Kehadiran mereka dalam pemerintahan tentu memiliki ragam dampak. Tapi secara garis besar, timses yang tidak kunjung kembali ke habitat masing-maaing justru menjadi “Jen lintah” yang terus-menerus “netek” tanpa jeda. Kelompok yang demikian tidak kunjung mandiri, karena tidak mau susah dan hanya mau diperhatikan.

Dalam konteks ini– tanpa berencana menggurui– saya kira Irwandi harus tegas terhadap manuver para timses yang justru tak kunjung membubarkan diri tersebut. Kehadiran mereka yang dilembagakan justru akan melahirkan beban baru bagi Irwandi-Nova. Mungkin pengalaman ketika berhubungan dengan jejaring Komite Peralihan Aceh (KPA) di masa lalu bisa dijadikan iktibar bahwa tatkala organisasi pemenangan tak kunjung dileburkan ke dalam wadah yang bernama rakyat biasa, ia kelak akan menjadi beban serius bagi roda pemerintahan.

Irwandi harus berani berkata bahwa ia berhasil kembali ke tahta bukan karena perkumpulan timses sangat hebat. Kemenangan itu diraih karena rakyat sudah bosan pada kondisi yang mereka hadapi dalam kehidupan nyata. Rakyat memiliki penilaian tersendiri kepada BW. Bahkan tak jarang mereka tidak menyukai timses, tapi tetap mencoblos BW. Hal ini harus disadari oleh timses-timses itu.

Di sisi lain, bilakah seluruh pemilih Irwandi merasa sangat berjasa, dan kemudian pun menghimpun diri dalam wadah timses, bagaimana? Misal: Perhimpunan seribu pemuda hebat pendukung Irwandi-Nova (Peusep Pin). Atau Himpunan Manula Pendukung Irwandi-Nova Nova, Persatuan RBT Pendukung BW, perkumpulan janda pendukung BW, Sejuta jomblo hebat pendukung Irwandi, dll, pakiban?

Saya melihat ada beberapa pihak yang sedang mengkooptasi kemenangan Irwandi-Nova. Tujuannya jelas untuk dapat meraih pundi di APBA. Bila Irwandi terlena, maka bencana akan menanti di hadapan.

Mari “bersalawat” sepantasnya. []

KOMENTAR FACEBOOK