Nonik

Munawar*

Dua bulan sudah hidup menjanda, ibu si Nonik kembali mendapat ujian berat, pasalnya anak gadis semata wayang pergi meninggalkannya menghadap yang Maha Kuasa. Setelah sebelum itu Tuhan juga telah mengajak pergi suaminya, Badrun pergi ke tempat yang sama. Ibu si Nonik belum begitu ikhlas menerima kenyataan atas dua ujian berat tersebut, terlebih lagi setelah kepergian anak gadis satu-satunya itu yang bernama lengkap Nonik Manik. “Tidak Rela” itulah dua kata yang tergambar dari keseharian ibu si Nonik yang menjalani hidup tak bersemangat dan berwajah murung juga pucat pasi. Hingga suatu ketika, sikap ketidakrelaan yang melekat kuat pada ibunya membuat mendiang Nonik Manik yang telah tiada merasa diusik di tempat peristirahatan sana.

“Nikahilah dia untukku, Bu!”

Kalimat itu yang terus membayangi ibu si Nonik. Ini bukan pertama kalinya Nonik Manik meminta hal yang sama. Sudah berminggu-minggu permintaan itu dia sampaikan pada ibunya. Namun, belum juga diperoleh jawaban yang pasti dari sang ibu. Padahal permintaan serupa juga telah disampaikan Nonik dengan penuh harap pada seorang lelaki. Ya, permintaan yang serupa. Nonik juga meminta lelaki itu untuk menikahi ibunya. Namun alhasil masih saja sama, lelaki itu pun tidak memberikan jawaban sampai hari ini. Dia masih menimbang-nimbang soal serius atau tidak permintaan itu.

Bagaimana tidak, ini permintaan yang sangat sulit diputuskannya. Permintaan bahkan datang dari orang yang sama sekali tidak disangka-sangka. Nonik Manik memintanya untuk menikahi ibunya. Ini sedikit membingungkan bagi lelaki yang kesehariannya menghabiskan waktu di bengkel sepeda motor. Menikah lagi bukan lah perkara yang mudah, terlebih wanita itu adalah ibu si Nonik. Mesti berpikir lebih dari seribu kali untuk mengambil keputusan. Ini sungguh sangat membuatnya bimbang. Permintaan itu antara nyata atau tidak, jelas telah benar mengusik ibu Nonik dan lelaki pekerja bengkel.

“Permintaan ini sungguh nyata, Bu!”

Nonik Manik kembali lagi dengan penegasan yang lebih tegas. Seakan-akan dia tahu benar bahwa ibunya dan lelaki bengkel itu masih menyimpan kebingungan yang luar biasa. Namun, semakin tegas dia berucap, maka semakin dalam kebimbangan tertancap. Baik ibu maupun lelaki bengkel itu sama sekali tidak pernah terbayang akan permintaan Nonik. Itu jelas permintaan konyol. Andai sekali waktu mereka diizinkan bercakap secara nyata dengan Nonik, maka pasti perihal permintaan itu akan dipertanyakan kembali sampai tuntas. Hingga kemudian tidak ada kebingungan yang membekas. Tapi apa hendak dikata. Takdir belum mengizinkan, atau memang tidak pernah. Nonik yang akhirnya hanya berani datang sesekali untuk mengajukan permintaan yang itu-itu saja. Nonik manik entah tidak menyadari atau sengaja membiarkan ibu dan lelaki bengkel itu dalam penderitaan yang tak berkesudahan. Penderitaan bersebab mereka telah kehilangannya, dan kemudian penderitaan bersebab permintaan yang sama sekali tak masuk akal.

***

Tampak sumbringah di dua wajah. Wajah sepasang pengantin yang sedang duduk di atas singgasana. Ya, ini hari bahagia memang, hari bahagia bagi mereka berdua dan semoga saja menjadi hari bahagia bagi siapa saja. Sepasang pengantin itu tampak benar-benar bahagia. Mereka terus saja menyalami setiap tamu dengan senyuman yang tiada putus. Beberapa mahkota menyemat indah dan terususun rapi pada sanggul pengantin perempuan. Sedangkan kopiah meuketob gagah perkasa di atas kepala pengantin laki-laki. Ini pasangan dunia-akhirat yang telah disandingkan di pelaminan. Beberapa tamu berebut foto demi berbagi kebahagiaan. Alunan musik terus menemani dengan sesekali diselingi gelak tawa tetamu. Dan dari pintu itu, ibu si Nonik penuh bahagia menatap pasangan pengantin. Senyum berkali-kali tersungging dari bibirnya. Bahagia benar ia, bahagia bukan buatan.

Belum habis bahagia yang tampak dari setiap raut wajah, kini pemandangan aneh disuguhkan dari setiap sudut ruangan pesta ini. Bagaimana tidak? Dalam satu kedipan mata, tiba-tiba saja ada yang berubah. Ini aneh, benar-benar aneh. Pengantin itu sudah tidak lagi berada di singgasana. Sepasang pengantin beserta singgasananya telah roboh, hancur berantakan. Mereka semua tergeletak di lantai berbalut dengan lumpur hitam pekat. Nyaris tidak dikenali siapa pemilik wajah. Pengantin perempuan tak tampak lagi mahkotanya. Pelaminan yang lengkap dengan riasan kini tak lagi berbentuk. Masih dari pintu itu, ibu si Nonik menatap semuanya dengan penuh keheranan dan menggigil ketakutan.

Sebelumnya senang, kini berubah menjadi kesedihan, ia putus asa. Bercampur aduk perasaannya. Kesedihan bertambah ketika ibu si Nonik menyadari bahwa di antara semua tubuh-tubuh manusia yang tergeletak, pengantin pria masih tegak berdiri dalam keadaan ketakutan menyaksikan semuanya, sama seperti ibu si Nonik. Hingga akhirnya, tatapan pengantin pria dan ibu si Nonik bertemu. Ada gurat kesedihan di antara keduanya. Ada kesedihan mendalam yang tak dapat diceritakan. Ada beribu-ribu perasaan yang membuncah, namun tak kunjung pecah. Hingga bungkam adalah pilihan.

***

“Mimpi itu lagi, Nak! Datang berkali-kali dalam rupa yang sama!”

Sekali waktu di pagi hari, ibu si Nonik masih sedang menyapu daun-daun jambu dan daun-daun belimbing yang jatuh menimpa tanah halaman rumahnya. Memang tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk menutup muka tanah halaman yang tidak begitu luas ini. Batang jambu ini, dulu waktu Nonik kecil sering benar ia memanjatnya meskipun beberapa kali jatuh dan terluka.

Lamunan tentang batang jambu dan Nonik terjatuh itu kemudian diluruhkan oleh kemunculan lelaki itu. Laki-laki bertubuh tinggi besar, perut rata, berkulit tidak begitu gelap dan berkumis itu melintas dengan sepeda motornya di depan rumah ibu si Nonik, dia sedang menuju ke bengkel tempatnya bekerja. Bengkel yang letakknya berdempetan dengan rumah ibu si Nonik. Sesampai di lokasi, lelaki itu masuk lalu kembali keluar dari bengkel untuk melepaskan satu persatu jejeran papan persegi panjang yang berdiri saling terkait satu sama lain di bagian depan bengkel, kemudian tersenyum sekali pada ibu si Nonik. Si ibu yang sedari tadi menatap ke arahnya juga membalas dengan senyuman takzim. Ada gurat iba di antara keduanya. Ada kisah kesedihan pada keduanya. Ada kisah-kisah sedih yang kemudian tak mampu dibicarakan. Tak mampu untuk dikisahkan. Hingga keduanya kemudian lebih memilih bungkam. Dan di tengah kebungkaman itu, keduanya tersentak, seakan teringat pada sesuatu. Ibu si Nonik kembali menatap lelaki itu dengan potongan kenangan yang tiba-tiba hinggap di kepala. Lelaki itu pun sama. Ia menatap ibu si Nonik seperti teringat pada satu peristiwa yang sudah saling tahu: Mimpi.

Tak lama setelah itu, ibu si Nonik memilih untuk masuk ke dalam meninggalkan halaman rumah. Meninggalkan beberapa potong kenangan pada batang jambu. Sedangkan laki-laki itu memulai aktifitas perbengkelannya dengan beberapa kenangan yang tetap melekat di kepala.

***
“Jangan pernah alihkan pandanganmu darinya, Bu! Demi aku.”

Potongan-potongan percakapan yang sering dititipkan Nonik pada ibunya melalui mimpi sungguh menguncang jiwa. Ibu si Nonik kini terduduk lemas pada sandaran ranjang. Mimpi-mimpi itu terus saja hadir pada setiap tidurnya. Membangunkan ibu si Nonik sebelum waktunya. Jika sudah begini, ibu si Nonik hanya mampu mengelus dada dan menghela napas panjang dan amat berat. Lalu keluar rumah untuk menyapu, ini rutinitasnya setiap pagi.

Seperti sebelumnya, ibu si Nonik kembali menyapu halaman rumahnya. Dan dari sanalah dia menatap laki-laki bengkel itu dengan penuh hasrat. Laki-laki yang sejatinya jauh lebih muda darinya. Laki-laki yang sepantasnya menjadi anak. Tapi, mimpi Nonik dan pesan yang disampaikannya melalui mimpi itu sungguh sangat mengganggu.

Masih dari pandangan ibu si Nonik, lelaki bengkel itu terus fokus pada pekerjaannya. Beberapa baut dicabut dari dudukan lalu dipilin-pilin, baru setelahnya dipasang kembali. Di antara aktivitas pilinan biji-biji baut itu beberapa kali pikiran nakalnya merasuk. Lelaki bengkel coba mengusir rasukan itu dari dalam pikiran dan lamunannya. Hingga beberapa kali sepeda motor digas dengan kencang dan meraung-raung. Namun, itu sama sekali tidak meluruhkan apa yang sudah merasuk di pikirannya, ya atau mungkin juga sedang merasuk di dalam diri ibu si Nonik. Hingga dalam kondisi yang demikian, lelaki bengkel itu bangkit dari tempat duduk. Menatap tajam ibu si Nonik dengan penuh pesan yang ingin disampaikan. Ibu si Nonik tak tahu cara yang tepat menangkap pesan itu. “Pesan yang samakah? Pesan yang disampaikan Nonik, kah?” hanya pertanyaan-pertanyaan itu yang terbesit dalam pikiran si ibu.

Dalam kebingungan dan saling terka-menerka yang demikian itu, lelaki bengkel terus saja melangkah menuju ke arah ibu si Nonik. Ada rasa rindu menggebu-gebu di matanya. Ada rasa cinta yang baru mampu muncul setelah mematahkan berbagai pahitnya kenangan. Ada serupa kebahagian bersebab melihat perempuannya yang lama pergi kini kembali. Begitu juga dengan ibu si Nonik. Kebimbangan perlahan-lahan hilang. Putus asa berubah jadi lain rasa. Dan ketika dua telapak tangan kasar lelaki pekerja bengkel itu menyentuh bahu ibu si Nonik, serta-merta seakan-akan bayangan sosok isterinya Nonik melekat di ibunya. Kerinduan pada Nonik yang pergi akibat gulungan air bah,kini seakan terbayar. Bayangan tubuh Nonik yang terkulai dengan baju pengantinya yang telah berbalut dengan lumpur itu sirna.

Dalam tatapan ibu si Nonik hanya tampak wajah seorang lelaki bengkel bertelapak tangan kasar. Tatapan bertemu seperti waktu itu, ketika ibu si Nonik melihat pengantin pria tetap gagah berdiri di tengah-tengah tubuh Nonik dan para tetamu lain tergeletak berbalut lumpur. Sedangkan dalam tatapan lelaki itu, tampak Nonik yang telah kembali ke pangkuannya. Sosok wanita yang amat dirindukannya. Wanita yang pergi meninggalkannya bahkan dengan masih menggunakan baju pengantin.

Di luar kesadaran masing-masing, lelaki bengkel masih berdiri tegak di depan ibu si Nonik. Sedangkan si ibu juga masih menatapnya dengan tatapan yang entah, mungkin nakal? Hingga akhirnya, kaki mereka menuntun masuk ke dalam rumah yang sepi. Sedangkan di luar, angin sepoi-sepoi berhembus dengan gemulainya, membawa terbang beberapa daun belimbing kuning layu, hilang entah kemana.

“Jagalah lelakiku seperti lelakimu, Bu!” Ibu si Nonik seperti mendengar samar-samar bisikan Nonik di dalam dirinya
Lalu ia membatin, “Inilah akibat teramat mencintai dan tak ikhlas melepaskanmu, Nak.”

Di luar sana, tepatnya di bagian belakang rumah ibu si Nonik yang berdekatan dengan semak belukar, terdapat segerombolan bocah tengik sedang berjalan, mereka mengalungi leher masing-masing dengan cabang ketepel siap pakai. Ya, peralatan tempur para pejuang di bumi jajahan kaum zionis itu. Berkali-kali para bocah tersebut menghajar kawanan beburung yang hinggap di pokok-pokok kayu, tapi berkali-kali juga bidikan para bocah meleset, hingga peluru-peluru ketapel itu menyasar dan menghujani atap rumah ibu si Nonik.
Keduanya terperanjat.

“Astagfirulloooh!!”

Banda Aceh, 25 April 2017.

*Penulis, Anggota Teater Nol Unsyiah Aceh, juga pegiat di Forum Lingkar Pena Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK