Puisi: Pada Jeda Rehat Dini Hari

Munajat Sembilan Asnidar

Teruntuk kita yang puisi,
Berhentilah saling melukai lewat kenangan.
Mari rayakan kehilangan lalu pulang ketujuan masing-masing.

Ada rintih dalam doa yang berhamburan. Juga tangis yang bernyanyi di gelap malam. Katamu; Aku milikmu, tapi bukan satu-satunya.

Bagaimana dunia mampu membantumu melepaskannya, jika kau sendiri enggan melepaskan kenangan-kenangan dalam benak?

Kelak, bila semesta merestui.. Kau akan menemukanku, di tempat yang mengingatkanmu akan kesetiaanku.
Ini tentang perjalanan kita..

Bahkan, ketika dunia membencimu, aku tak akan beranjak, bahu ku siap menjadi sandaranmu.
Meski hati kita tak layak bersanding.

Aku mampu menjadi malam-malammu meski sekedar tempat singgah yang coba kau pertahankan.
Saat kau rindu untuk digembirakan, aku selalu ada.

Namun pena mengucapkan kata maaf, sebab waktu terus memaki.
Menyaksikan insan terbuai ilusi dan asyik berselimut mimpi.

Katamu cinta bisa diatur, bisa menyesuaikan sesukamu.
Nyatanya, kini kau telusuri cinta itu. Terlunta pada perjalanan kisah bisu.

Pada jeda rehat dini hari. Kita sering lengah, sebab hati ternodai rasa. Rasa kita yang fatamorgana. Yang entah akan bertemu di mana.

Asnidar adalah perempuan Aceh penikmat senja. Penyuka warna merah ini lahir 14 April 1982 di Banda Aceh, dan kini tinggal di Jakarta dan aktif di kegiatan medis kemanusiaan.

KOMENTAR FACEBOOK