EDITORIAL: Selamat Tinggal Politik Primitif

Bisakah hasil Pilkada 2017 menjadi saleum bagi mengucapkan “selamat tinggal politik primitif?”

Setidaknya, ucapan goadbye kepada politik primitif sudah disampaikan oleh Bupati Abdya terpilih, Akmal Ibrahim.

Merujuk pada suasana Kongres I PNA di Banda Aceh, bupati penyuka pertanian dan perkebunan itu menangkap suasana sejuk saat melihat Irwandi Yusuf dan Zaini Abdullah saling menyambut, berangkulan, saling memuji, dan saling menitip pesan.

Meski Akmal tidak mengurai, semua orang tahu bahwa Zaini Abdullah dan Irwandi Yusuf adalah seteru politik sejak Pilkada 2012, sebuah Pilkada yang menghadirkan tumbal darah, air mata dan jiwa yang melayang. Bahkan, Irwandi pernah menjadi korban bogem saat pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur hasil Pilkada 2012.

Tapi, keduanya mampu melepas ego, dendam, dan kemarahan politik serta akhirnya memilih membangun keakraban, bahkan persaudaraan. Sebagai gubernur terpilih, Irwandi melepaskan jumawanya sebagai pemenang, dan meski kalah, Zaini Abdullah memberi jalan bagi transisi pemerintahan.

Bukan hanya Akmal Ibrahim, Zaini Djalil, Ketua DPW NasDem Aceh juga mendapatkan iklim politik baru paska Pilkada 2017. Dalam perjalanan Rakerda NasDem di wilayah Pante Barat Selatan, Aceh suasana keakraban, kebersamaan, dan kedekatan kepala daerah terpilih dengan rakyat juga ditemuinya, dan ia menyebut ini adalah iklim politik yang dirundui dan diinginkan rakyat.

Zaini percaya, iklim politik yang humanis ini terbentuk dari hasil pilkada tanpa mahar, kedewasaan rakyat, dan karena itu menjadi pertanda berakhirnya “politik tumbal” dengan korban manusia.

“Ini kemenangan bersama kita semua, dan saya mau iklim politik demokratis, humanis dan demokratis ini dipertahankan dan dikembangkan terus,” ajaknya.

Senada dengan Akmal Ibrahim dan Zaini Djalil, Sulaiman Abda dalam berbagai kesempatan juga mendorong tumbuhnya iklim politik yang makin dewasa, tanpa gaduh, apalagi sampai memakan korban.

Politisi senior dari Golkar itu sangat miris setiap kali disajikan data korban tindak kekerasan di setiap pilkada dan pileg di Aceh. Meski begitu, politisi senior itu percaya, pada saatnya kedewasaan politik akan tiba.

Akhirnya, kita pasti setuju bahwa di dalam suksesi ada kompetisi, yang terkadang keras dan tajam. Tapi kita tentu lebih bersetuju jika kompetisi yang keras dan tajam itu karena kita semua berusaha keras untuk menawarkan jalan terbaik bagi daerah dan rakyat. Bukan keras dan tajam untuk kekuasaan itu sendiri, sebab kekuasaan hanya alat, dan bukan tujuan.

Jika sudah begitu, beranikah kita semua dengan mantap hati mengucap “selamat tinggal politik primitif?” Jika berani, ini pertanda bahwa kita sedang meneguhkan tekad di hati masing-masing untuk menjemput masa depan Aceh yang lebih baik. Di atas segalanya, yang paling kita rindukan adalah berkerjanya para kepala daerah untuk pemajuan daerah dan mensejahterakan rakyat. Sebab, politik tanpa jawaban kesejahteraan, kemajuan dan kedamaian adalah omong kosong. []

KOMENTAR FACEBOOK