PNA, Mungkinkah Tanpa Irwandi?

Pilot Irwandi Yusuf

Partai Nasional Aceh (PNA) menggelar kongres I di Banda Aceh pada Senin-Selasa (1-2/5/2017). Ada dua nama yang semenjak awal telah dibicarakan sebagai kandidat Ketua Umum partai itu. Irwansyah yang saat ini menjabat Ketua Umum DPP PNA, dan Irwandi Yusuf yang memegang tampuk Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) DPP PNA.

Jauh sebelum kongres ini digelar, aura tarung antara Irwansyah- Irwandi sudah bergema. Walau tidak menjadi santapan publik, tapi sangat membuat elit-elit di tubuh PNA sakit kepala. Hal ini karena kengototan Irwansyah alias Muksalmina yang tetap maju sebagai calon ketua. Di sisi lain, Irwandi pun tak mau lagi duduk sebagai Ketua MPP. Ia butuh kursi ketua umum agar bisa menahkodai langsung partai orange itu.

Dari selentingan kabar, Irwansyah tidak sekedar gertak sambal. Bahkan ia disebut-sebut siap head to head dengan Teungku Agam. “Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi. Ini bukan bicara siapa lebih kuat secara suara, tapi tentang masa depan partai,” ujar tokoh senior di dalam tubuh PNA.

Bukan Semata Ideologi

Partai politik di Indonesia yang dibentuk paska orde baru, tidaklah lagi membawa jargon ideologi. Tiga partai besar semisal PPP, PDI dan Golkar serta parpol lainnya yang lahir pasca reformasi, tidak lagi menjadi agen ideologi. Falsafah mereka sudah berubah menjadi paham pasar bebas. Walau semuanya pada kampanye selalu bicara perubahan, akhirnya terwarnai dalam rangka mencari peluang untuk tetap bertahan.

Politik, sosok dan dan dana adalah tiga hal yang saling terkait. Ketiganya menjadi satu kesatuan yang tidak bisa diceraikan atas dalih apapun.

Kembali ke PNA yang akan menggelar kongres I. Banyak hal yang harus dibenahi oleh partai lokal yang satu ini. Pada pileg 2014 suara yang berhasil mereka Raup masih sangat sedikit. Berbagai hal, masih menjadi pertimbangan pemilih. Khususnya yang menjadi faktor utama karena kalahnya Irwandi di Pilkada Aceh 2012.

Di tubuh PNA Irwandi adalah individu yang sudah menjelma menjadi sosok sentral yang memiliki daya magis luar biasa. Di luar PNA, banyak orang yang tidak mengenal Muksalmina , tapi sampai anak kecil pun mengenal Irwandi Yusuf. Dilihat dari keterkenalan, mantan juru propaganda GAM itu, telah melampaui siapapun di PNA, termasuk Nur Djuli, yang di era konflik justru lebih terkenal daripada Irwandi.

Hal ini tidak bisa dipisahkan dari sejarah, bahwa Irwandi Yusuf adalah Gubernur Aceh periode 2006-2012 yang memiliki program JKA dan beasiswa untuk anak yatim. Dalam memori rakyat, Irwandi adalah sesuatu yang diyakini dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik, pasca ketidakmampuan Zaini-Muzakkir Manaf (Zikir) yang justru membawa Aceh lebih buruk sepanjang 2012-2017.

Kedua, secara pergaulan, link dan pengalaman, Irwandi berada di level top. Ia bahkan memiliki jaringan sampai ke luar negeri. Kemampuan komunikasi lelaki asal Gampong Sagoe, Peusangan itu, sangatlah baik.

Ketiga, faktor bahwa Irwandi adalah Gubernur Aceh merupakan kunci dari semua hal. Sebagai pemimpin tertinggi di tubuh Pemerintah Aceh, ia memiliki akses dan kuasa terhadap finansial. “Ketua Umum harus punya uang. Pintar saja tidak cukup. Irwandi memiliki setidaknya tiga syarat, pertama cerdas, berwawasan dan memiliki link sampai ke tokoh luar negeri serta ia juga adalah Gubernur Aceh,” ujar tokoh di tubuh PNA.

Pada akhirnya, walau PNA bertekad hendak menjadi partai kader, terbuka, demokratis dan modern, itu bukan bermakna bahwa siapapun akan mampu membesarkan partai ini di kemudian hari. PNA butuh ketua umum yang memiliki pengaruh dan belanja. Untuk saat ini hanya Irwandi yang memiliki Kombinasi itu. []

KOMENTAR FACEBOOK