Aceh Butuh Pemimpin Muda, Sekarang!

Oleh: Teuku Rahmad Iqbal

USIA memang bukan faktor utama penentu bisa tidaknya Aceh keluar dari krisis akut yang melanda nanggroe saat ini. Namun, jika kita bersedia memberi jalan bagi kaum muda menjadi pemimpin di Aceh, kesedian ini patut disebut sebagai ikhtiar politik rakyat untuk mensukseskan proyek revolusi mental yang sedang dijalankan bangsa ini.

Memimpin nanggroe tidak boleh lagi dilihat sebagai proyek balas budi. Misalnya, karena si A sudah mengorbankan segalanya dimasa perjuangan, maka selayaknya diberi kehormatan untuk memimpin Aceh. Sikap politik ini melawan hukum politik akal sehat.

Memimpin nanggroe itu membutuhkan energi kepemimpinan yang besar. Seorang pemimpin yang diharapkan adalah sosok yang pada dirinya terhimpun energi pemikiran, energi hati, dan energi sikap yang besar, kuat dan menyatu.

Ketiga energi inilah yang menjadi dasar kepemimpinan untuk dapat memancar cahaya visi, misi, program dan kegiatan yang prospektif sekaligus solutif, juga praktis, dan komunikatif. Tanpa ini semua maka yang hadir dihadapan kita adalah pemimpin yang dikendalikan, pemimpin yang disetir, dan diarahkan oleh pihak-pihak yang sekedar mencari keuntungan politik.

Inilah yang terjadi selama ini. Kita rakyat, “dipaksa” untuk menerima sosok yang sejatinya lemah dalam kepemimpinan, namun lewat proyek pencitraan, tindakan intimidasi, rekayasa suara, kita digiring untuk percaya dan pada akhirnya menerima demi ragam macam, seperti demi perdamaian, demi ketiadaan jatuh korban, demi menjaga marwah, atau demi asal bukan orang lain yang menang.

Taruhannya apa? Bertahun-tahun kita rakyat tidak pernah berpindah dari keadaan semula jadi. Kita rakyat masih tetap hidup hanya dengan kemampuan bertahan hidup yang sudah diwariskan oleh keluarga. Pemerintah tidak pernah hadir membantu rakyat. Dalam bahasa “nyindir” disebutkan: “Rakyat baru bisa mengais rezeki jika penguasa tidur.”

Oleh karena Aceh membutuhkan energi kepemimpinan yang besar maka kondisi Aceh hari ini harus dikembalikan ke kondisi seperti periode pembebasan yang dikombinasikan dengan cita rasa kepemimpinan masa kini.

Artinya, baik di masa gerakan pembebasan maupun trend kepemimpinan di masa kini, orang-orang mudalah yang tampil menjadi pemimpin. Muhammad zainul majdi menjadi Gubernur di usia 44 tahun, ridwan kamil menjadi walikota di usia 45 tahun dan emil dardak menjadi bupati di usia 31 tahun. dibeberapa negara juga telah terjadi gelombang kepemimpinan muda. Misalnya, Obama menjadi presiden pada usia 45 tahun.

Setidaknya, usia pemimpin di Aceh nanti pada Pilkada 2019 tidak melebihi usia 45 tahun. Bagi mereka yang berusia di atas 45 tahun sudah saatnya kita dorong untuk berkompetisi di capres, atau kita ajak untuk rela menjadi penasehat nanggroe.

Ikhtiar politik rakyat untuk memudakan usia pemimpin tentu bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan Aceh keluar dari krisis yang makin rumit. Ada banyak faktor lain, misalnya penyelenggara yang adil, kontestan yang baik, dan pemilih yang cerdas.

Ada juga soal lanjutan terkait birokrasi pemerintahan yang bagai sudah dikendalikan oleh mafia proyek. Atau, ada juga tantangan soal kultur birokrasi yang masih sangat kuat mentalitas ampon belandanya, dan ragam tantangan lainnya yang juga sangat rumit. Tapi, inilah kenapa kita rakyat butuh energi kepemimpinan yang besar dan itu ada pada pemimpin muda.

Sungguh, ikhtiar politik rakyat itu, jika benar mendapat dua keuntungan, dan bila salah tetap mendapat manfaat, meski hanya satu manfaat. Ketimbang kita terus menyumbang kesempatan kepada para mafia kekuasaan, lebih bagus kita melakukan iktiar politik rakyat. []

*Aktivis Muda yang bergiat di Bola Basket

KOMENTAR FACEBOOK