Karena Mualem di Jalur Keliru

Muzakir Manaf.

Peristiwa penghadangan rombongan Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf, saat melintas di jalur darurat, tepatnya di Gampong Blang Mee, Kecamatan Kutablang, Bireuen, Rabu (3/5/2017) menyedot perhatian banyak pihak. Mantan Panglima Teuntra Neugara Atjheh (TNA) yang merupakan sayap militer Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dihadang dan dipaksa balik arah, justru oleh rakyat Aceh, yang notabenenya adalah pendukung garis keras gerakan perlawanan yang dibangun oleh alm. Hasan Tiro.

Rakyat marah, karena rombongan yang membawa Mualem dari Banda Aceh menuju timur, telah melawan arus. Seminggu sebelum rombongan Ketua Umum Partai Aceh (PA) itu melintas dari jalur yang salah, masyarakat di sana sudah melakukan sweeping. Mereka kesal, orang-orang yang mampu membeli mobil itu, dengan pongahnya melawan arus, yang diperuntukkan untuk pengguna jalan dari arah timur menuju barat.

“Mereka mampu membeli mobil, namun belum mampu membeli akal. Atau mereka telah terlalu biasa melanggar aturan, sehingga selalu saja menyempatkan diri untuk mengangkangi setiap hal yang sudah ditetapkan,” gerutu seorang warga kepada aceHTrend.

Kembali ke persoalan pencegatan terhadap rombongan Mualem. Sejatinya bukanlah hal yang disengaja. warga memang sedang melakukan penertiban. Siapapun, selama bukan warga tempatan dan tidak memiliki stiker khusus, akan diminta untuk putar haluan,bila ditemukan melawan arus. Kendaraan yang berasal dari barat harus melewati jalur sepanjang pinggiran Tingkeum, yang sudah dipersiapkan–dengan segala kekurangannya–.

Awalnya warga tidak mengira bahwa rombongan yang dipimpin oleh CRV putih berplat BK itu adalah group yang sedang membawa elit Aceh. Seperti biasa, warga tetap menyetop dan meminta agar berbalik arah. Namun –entah karena Mualem effect, atau karena hal lain– awalnya rombongan menolak untuk memutar arah. Mereka sempat berhenti di badan jalan untuk beberapa saat.

Warga tiba-tiba semakin marah, begitu mengetahui bahwa rombongan itu dipimpin oleh Mualem. Akhirnya, siapapun memilih tak peduli. “Hana wakil-wakil gubernur, balek-balek!” teriak seorang warga dengan nada tinggi. Seseorang yang mencoba melobi pun, kena bentakan. Tak menunggu lama, Mualem dan rombongan pun memilih putar haluan. warga sempat bersorak.

***
Anggap saja bahwa warga yang memaksa Mualem putar haluan, tidak memiliki komunikasi yang baik. terlalu kasar cara mereka meminta “pemimpin tertingginya” untuk mematuhi aturan. Namun, itulah fakta. Mungkin mereka kecewa, bersebab mengapa harus Mualem yang justru melanggar aturan. Apakah Mualem tidak bisa menghormati sesuatu yang dibuat untuk kemaslahatan bersama? Ataukah ia sudah terlalu sering tidak patuh. Padahal di Simpang Gle Kapai, Peusangan, sudah ditulis amaran dengan sangat jelas.

Tentu, marwahnya sebagai seorang petinggi KPA/PA sekaligus Wakil Gubernur Aceh, sedikit tercoreng. Sebagai orang yang berada di puncak, terlalu “brengsek” rakyat kecil itu memaksa ia memutar stior mobil, padahal jarak untuk mencapai jalan nasional tinggal sedikit lagi. Apakah rakyat sudah tidak lagi menghormati mantan sopir lori di Malaysia itu?

Bukan, warga Kutablang tidak sedang membenci Mualem. Mereka hanya kesal, orang sekaliber Mualem ternyata belum bisa menghargai aturan yang paling minimal itu. Apa susahnya sih untuk terus melaju sesuai jalur yang sudah ditetapkan? Bukankah Mualem tidak akan berdebu. Toh mobil yang ia tumpangi adalah kendaraan ber AC dan tidak mungkin mencipratkan lumpur ke pakaiannya. Melewati jalur sepanjang sungai itu hanya sedikit memakan waktu, karena kondisi jalan memang hancur. Bukankah, bagi seorang pemimpin itu bukan sebuah kendala? Atau ia memang tidak terbiasa susah semenjak menjadi petinggi formal di negeri antah berantah ini?

Saya berharap Mualem tidak marah terhadap sikap tegas warga Blang Mee–juga kepada [enulis artikel ini. Sebagai Umar bin Khattab masa kini, beliau seyogianya terlalu agung untuk disentuh. Namun, saat melintas ia berada di jalur keliru, maka ia pun harus ditegur. Bukankah hukum harus ditegakkan walau besok langit akan runtuh? []

KOMENTAR FACEBOOK