Legend of Rujah, Sinopsis Novel Fiksi Sejarah Karya Ali Asral

Memegang Novel “Legend of Rujah” Karya Ali Asral, Os seperti memegang “cermin waktu” yang menyedot pembacanya untuk kembali ke masa silam, masa Kejayaan Aceh Darussalam pada 1614-1636. Ini baru novel, pasti akan lebih dasyat jika kisah masa silam yang sudah tertanam dalam ingatan sejarah orang Aceh di filmkan, sungguh akan kembali menggairahkan pemahaman sejarah keacehan.

Di masa nan jauh itu, melalui novel Ali Asral ini pembaca diajak mengenali peran tokoh legendaris bernama Abdul Hamid bin Abdul Manan bin Abdul Latif bin Mahkota Alam Darul kamal Al Khahar, begitu juga dengan tokoh-tokoh pengurus tahta kerajaan, seperti Syah Ali Muntasyam bin Ali Ubayah bin Khayat Ali bin Shamar Maulana bin Sahad.

Tokoh Ali Muntasyam ini konon punya jabatan sebagai Bendahara Negara atau Mentroe Keuangan pada waktu itu, tokoh beristri Sitie Zuriah ini punya seorang Putri cantik/Putroe Canden, bernama Sitie Keumala.

Juga ada kisah cinta nan apik antara Sitie Keumala dengan sang pemuda legendaris, Abdul Hamid bin Abdul Manan bin Abdul Latif bin Mahkota Alam Darul kamal Al Khahar. Tokoh lainnya adalah Syeh Ibnu Saini Al-Fawi, Abu Hasan, dan juga beberapa tokoh yang ada dalam catatan sejarah, seperti Syekh Abdul Khair Ibnu Hajar, Sekh Muhammad Jamani dari Mekah dan Sekh Muhammad Djailani bin Hasan Ar-Raniry dari Gujarat, dan tentu saja sosok yang tidak asing lagi yaitu Sang Maha Raja Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Al-Khahar.

Seperempat dari cerita yang ada dalam Novel Legend of Rujah ini menceritakan sejarah masa silam seorang wanita misterius yaitu ibu kandung Abdul Hamid yang bernama Saujah binti Medelahi bin Khoneah bin Mendelah bin Lingee, penerus Kerajaan Chocoah penghuni bukit goa Madaleah pinggiran danau tawar Antare 3000 tahun silam (begitulah hitungan sakah dalam tahun neah dalam bahasa naen, dalam catatan Legen Of Rujah).

Novel ini menceritakan alur mundur sejarah ibu kandung Abdul Hamid dan peradaban Aceh Darussalam 1614-1636, Abdul Hamid diantar oleh ayahandanya Abdul Manan ke pusat kerajaan untuk menekuni pendidikan agama di balai pengkajian Syekh Abdul Khair Ibnu Hajar, dia berguru pada seorang Teungku Dibayan murid Syekh Abdul Khair Ibnu Hajar.

Setelah lulus dari balai pusat pengkajian ilmu itu Abdul hamid bergabung dalam militer Cakra Donya yang waktu itu di bawah pelatihan Perwira Syahdan di Blang Paradee, seiring waktu berjalan dan berbagai rintangan seorang tokoh legendaris ini berhasil membawa kepercayaan besar dari Sang Maha Raja untuk diangkat menjadi salah seorang perwira tempur Armada Cakra Donya.

Abdul Hamid seorang yang cerdas dan satria sakti yang berhasil mengalahkan sekelompok penyamun besar yang dipimpin oleh Samantaya murid dari seorang penyihir ulung (Aman Sholoh) yang cukup mengerikan dalam cerita ini, kelompok penyamun Samantaya yang bersarang di Pulau Samaleah atau Pulau Siemeulu pada saat ini.

Yang menjadi pahit dalam cerita novel Legend of Rujah adalah dimana Abdul Hamid senggaja disingkirkan dengan cara licik oleh politik hitam yang bersarang dalam istana Daruddunia. Seorang Abu Hasan menjebak menantu Bendahara negara di Perairan Malaka.

Alkisah, Abdul Hamid diutus oleh yang mulia Maha Raja untuk membebaskan dua kapal besar yang dibajak diperairan Malaka, dua kapal itu ialah kapal Bahteura Nagasi dan kapal Darud Sigasi sehingga Abdul Hamid tenggelam kedasar lautan Malaka selama 4 tahun.

Suami Putroe Canden Sitie Keumala ini sudah berulang kali dikabarkan meninggal dunia, namun seorang putri setia tidak begitu percaya kabar angin begitu saja. Pada akhirnya Sang Mahkota pun berhasil digulingkan oleh politik hitam Abu Hasan sehingga Sang Maha Raja yang Adil Perkasa menjatuhi hukuman pancung kepada putra mahkota.

Sehingga racun hati ini berimbas kepada jiwa sang perkasa, setelah sadar sang maha raja semua itu adalah kelicikan politik hitam yang ingin meruntuhkan tahtanya. Sang Maha Raja pun jatuh sakit jiwanya sudah goyah. dan akhirnya Maha Raja mangkat dari tempat tidurnya, 27 September 1636.

Apakah benar Abdul Hamid, suami Putroe Canden Sitie Keumala sudah meninggal? Siapa pengganti Ali Muntasyam, bagaimana nasib keluarga Sitie Keumala, apakah mereka terusir dari istana? Dan bagaimana pula nasib Kerajaan Aceh Darussalam selanjutnya. Novel Legent of Rujah menyuguhkannya kepada pembaca dalam ramuan kisah fiksi dengan sentuhan sejarah, meski diakui tidak akurat tapi kisah yang disajikan mewakili babakan sejarah politik Aceh di masa silam nan jauh.

Ayo cari dan beli novel Legend of Rujah di toko buku, sebab jika tak berhalang dan bila berberkah dukungan Legend of Rujah di filmkan, insya Allah. []

KOMENTAR FACEBOOK