Puisi Azizah: Bangsaku Tercecer

Dalam kemajuan era digital
Bangsa ku Hilang arah
Kiblat berpindah sesuai selera
pipi-pipi anak negeri
yang hitam, putih, atau kuning langsat, merona
terbasahi air mata.

Mata yang cipit, belok, sayu tak
kecuali yang buta meraba arah angin.
saling melotot seakan keluar dari
rongga ingin saling memakan andai bisa.

Bangsa ku tercecer

Rambut-rambut
yang lurus, berombak, ataupun keriting
tersepuh sengat sang mentari
Mengganas kian panas siap
membara membakar yang kering
serta menyublim yang beku,kaku ,keras agar memuai dalam semesta.

Bangsaku tercecer

Merangkak dalam rimba, mencari
gurun yang ber air terjun dan berkebun bunga

Bangsaku tercecer

Menghamba buta pada kuasa
penuh dengan kera-kera yang
hilang arah mencari para dewa
yang bersembunyi dibilik-bilik suara.

Bangsaku tercecer

Singa-singa lapar
Mengaung tak karuan ditengah ibu kota,
terjebak dalam labirin para pungawa.

Bangsaku tercecer

Ketika tikus-tikus pengerat
semakin kurus tersudut takut.
Mereka berharap bisa mati
di dalam lumbung.

Mustahil
mereka mati
para pengerat hanya lemas sesaat.
mereka hanya sedang mengatur stategi untuk bisa Lari,,
hanya untuk berpindah lumbung.

Puzel Bangsa ku kian tercecer
mulai dari barat hingga timur khatulistiwa.

Semakin tercecer,

tak lagi mudah disusun
beberapa kepingan nya telah hilang
bersama sejarah
bahkan ada yang tertukar oleh zaman.

Klaten, 21122016

Azizah Razali adalah Perempuan Aceh yang kini bermukim di Gemblengan, Kalikotes, Klaten, Jawa Tengah. Meski jauh dari gampong, jiwa keacehannya sedekat urat nadinya.

KOMENTAR FACEBOOK