Dayah Budi Lamno & Tantangan Zaman Teknologi

Jon Paisal, S. Kom.I*

Lembaga pendidikan tertua dalam sejarah pendidikan di Aceh adalah dayah. Justru Eksistensi lembaga pendidikan ini lebih tua berbanding dengan lembaga pendidikan Al-Azhar di Timur Tengah. Karena ditinjau dari sebutan dayah yang berasal dari zawiyah yang diartikan sebagai sudut atau ruang belajar, misalnya Zawiyah Cot Kala lebih klasik berbanding kalimat jami’ah yang diartikan sebagai universitas misalnya Jami’ah Al-Azhar. dalam perkembangannya dayah terus menjadi institusi pendidikan bagi masyrakat di Aceh.

Kalau di Jawa Lembaga pendidikan semacam dayah ini lebih dikenal dengan pesantren, di Padang disebut surau, sedangkan di Malaysia dan Thailand mereka menyebut Pondok, kata dayah, juga sering diucapkan deyab oleh masyarakat Aceh Besar, diambil dari bahasa Arab zawiyah. Istilah zawiyah, yang secara literal bermakna sebuah sudut, diyakini oleh masyarakat Aceh pertama kali di gunakan pada sudut Masjid Madinah ketika Nabi Muhammad megajar para sahabat pada masa awal Islam.

Dalam perkembangan aktivitas dakwah dan pendidikan Islam di abad pertengahan, kata zawiyah dipahami sebagai pusat agama dan pusat pengajian sufi dari penganut tasawuf. Karena itu tempat-tempat ini dikala didominasi oleh ulama perantau, yang ingin memperdalam ilmu nya dan mempertinggi intensitas ibadah dan tawadhu’nya. Kadang-kadang lembaga tersebut dibangun menjadi sekolah agama dan saat tertentu juga zawiyah dijadikan sebagai pondok bagi pencari kehidupan spiritual. Dari aktivitas dakwah dan pendidikan yang dilakukan oleh para pendakwah tradisional Arab dan sufi kemudian kata zawiyah sebagai makna lembaga pendidikan di kalangan Islam di perkenalkan di daerah Aceh.

Dayah Bahrul ‘Ulum Diniyah (BUDI MESJA) di tengah-tengah masyarakat Aceh lebih dikenal dengan Dayah Budi Lamno, lembaga pendidikan ini didirikan oleh Tgk. H Ibrahim bin Ishaq pada tahun 1967 di Gampong Jangeut Kecamatan Indra Jaya Kabupaten Aceh Jaya. Tgk. H. Ibrahim bin Ishak atau yang lebih akrab dipanggil dengan Abu BUDI lahir di Gampong Meukhan Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Barat (Sekarang Menjadi Kabupaten Aceh Jaya), tepatnya pada bulan Muharram 1357 H. bertepatan denga tahun 1936 M. beliau merupakan putra pertama dari 6 bersaudara dari pasangan Tgk. Ishak dengan Hj. Halimah.

Murid pertama Dayah Budi Lamno yang berasal dari kualabhe Aceh Barat, Tgk. KBH (singkatan dari Tgk. Kuala Bhe) kemudian Tgk. Muhammad Yunus, Tgk. Zainal, Tgk. Karim Nabay, Tgk. Arsyad Nabay dan Tgk. Ramli Kelumbat. Falisitas dayah pada saat itu masih kurang dan dayah hanya mempunyai kapasitas meunasah serta satu balai penagajian, masayarakat dan santri menyebutnya Balai angen, (Balai angin).

Dengan semangat dakwah beliau, pada tahun 1974-1975 nama dayah BUDI dikenal oleh masyarakat Aceh. Bagaimana tidak, karena semangat dakwah yang penuh iklhas Abu Budi lakukan membawa harum kemana-mana sehingga masyarakat merasa minat untuk belajar di dayah Budi Lamno, bahkan santri dayah tersebut datang dari berbagai pelosok Nusantara seperti Medan, Riau, Jambi, Padang dan Lampung dan ada juga yang berasal dari Negeri seperti Malaysia. Setelah Abu Budi Meninggal dunia pada hari rabu tanggal 14 Mei 1997 M. bertepatan dengan 7 Muharram 1418 H kepemimpinan dayah di lanjutkan oleh Tgk. H.Asnawi Ramli, dalam lingkungan Masyarakat Kabupaten Aceh Jaya Lebih akrap di sapa Aba Asnawi.

Meskipun dayah Budi Lamno telah roboh saat musibah gempa pada tahun 2014 silam, namun kegiatan produkfitas ulama tidak terhenti secara permanen dikala itu. setelah proses rekontruksi berupa gedung dan fasilitas dayah kembali aktif belajar mengajar dan sampai pada saat ini jumlah santri di dayah Budi Berjumlah 1222 orang yang terdiri dari santri putri 377 dan 845 santri Putra. Sedangkan Tenaga guru pengajar berjumlah 155 orang yang terdiri dari 91 Ustadz dan 64 orang Ustadzah.

Dayah dan Tantangan Gelombang Teknologi

Kehadiran Dayah Budi Lamno telah banyak memberi Kontribusi kepada masyarakat Kabupaten Aceh Jaya bahkan sampai ke pelosok Nusantara, melalui perannya sebagai agen of change, yang telah melahirkan tokoh-tokoh ulama di Aceh bahkan sebagian para alumni ada yang bekerja di pemerintahan. Dayah Budi telah mampu mempertahankan keunikan nya sendiri terhadap tantangan gelombang teknologi.

Eksistensi dayah ini dalam pembentukan karakter umat tidak mengenal tantangan perkembangan zaman yang mempengaruhi hidup manusia, perubahan pola pikir manusia terus terjadi yang didorong oleh perkembangan teknologi maka dampak negatif pun tak kalah saingnya terhadap anak remaja di Aceh, pasang surut tantangan dayah terus terjadi dalam mendidik para generasi masa akan datang, zaman sekarang kita lihat anak-anak terbelenggu oleh tayangan-tayangan media elektronik sehingga daya minat belajar berkurang.

Dayah Budi Lamno tidak tinggal diam dalam melakukan upaya tertentu agar para peserta didik tidak terpengaruh oleh teknologi yang bersifat negatif. Mereka terus diberikan motivasi untuk belajar. tidak ada ruang dan waktu seperti misalnya main game di hanphone, atau ke warnet main PS, karena aktifitas santri dipenuhi oleh tugas hafalan kitab-kitab. Dayah Budi mempunyai metode tertentu dalam proses belajar mengajar sehingga potensi keulamaan pada sosok santri dayah itu menyatu setelah di bekali dengan berbagai kitab kuning.

Walaupun tantangan perkembangan zaman teknologi terus mempengaruhi pola hidup manusia, namun Dayah Budi masih tetap eksis mendidik umat dan menjadi benteng pertahanan dalam segala aspek perubahan zaman. Artinya dayah yang mempunyai 235 asrama/bilik ini mempunyai semangat tinggi terhadap jihad pendiikan umat dari dulu sampai sekarang yang di motori oleh pimpinan dan guru pengajar di dayah tersebut.

Para santri Dayah Budi Lamno yang telah belajar beberapa tahun di lingkungan dayah mereka menjadi guru mengajar bagi santri Junior, menurut amatan penulis saat melakukan penelitian di awal bulan maret 2017 kemarin untuk menyelesaikan penulisan tesis sebagai tugas akhir di Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh. mereka menjadi guru pengajian secara suka rela tanpa mengharapkan gaji atau upah, baik dari pemerintah maupun masyarakat. hal Demikian dilakukan juga bagian dari proses latihan bagi santri senior untuk mengasah ilmu yang telah dipelajari dan kemudian nantinya akan di aplikasi di tengah-tengah masyarakat.

Kalau kita lihat dari sejarah latar belakang ulama di Aceh tidak lepas dari pendidikan dayah meskipun setelah itu mereka juga mengenyam pendidikan umum lainnya di sekolah. Oleh sebab itu rasa kepedulian terhadap dayah orang Aceh tidak hilang dan kebiasaannya dayah di Aceh memperoleh bantuan dari swadaya masyarakat antara lain dalam bentuk zakat, infak, dan sadaqah, selain itu, mereka juga mendapatkan dukungan dari dalam bentuk tenaga dan moril. Dengan bantuan dan partisipasi dari masyarakat itulah mereka mampu melakukan misi-misi agama secara optimal.

Maka untuk zaman sekarang sudah seharus nya rasa kepedulian terhadap lembaga pendidikan seperti dayah perlu untuk di tingkatkan dari berbagai elemen masyarakat dengan memberi partisipasi supaya dayah tetap bertahan seutuhnya dan tidak ada hambatan dalam proses kaderisasi ulama.

Apalagi generasi di Aceh sekarang sangat memprihatinkan perkembangan teknologi akan menghanyutkan generasi kearah yang tidak baik serta merobah pola pikir umat. mulai dari budaya sampai kepada karakter bangsa ini, oleh demikian dayah akan menjadi benteng pertahanan dari segala aspek serangan virus dunia terhadap moralitas umat manusia.

*Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana S2. UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh
Alumni STAIN Tengku di Rundeng Meulaboh
Mantan Ketua ikatan Pelajar Mahasiswa Aceh Jaya (Ipelmaja-Meulaboh)
Email: faisal.jon@yahoo.com

KOMENTAR FACEBOOK