Mengapa Harga Bawang Putih Melonjak Tinggi ?

Indonesia akan terus mengalami kejutan-kejutan dalam proses pemenuhan kebutuhan pangan rakyat, karena penanganan yang dilakukan selama ini dalam banyak hal seperti “pemadam kebakaran”. Sampai kapan ini akan terus dipraktekkan? Saat ini para Menteri Kabinet Kerja panik dengan kenaikan harga bawang putih yang ecerannya tembus di atas Rp. 70.000 per kg. Dalam media online tempo.co Menteri Pertanian bahkan mengancam importir yang menaikkan harga bawang ini.

Setelah kepanikan terhadap cabe berlalu, kini giliran bawang putih yang sedang dicari reasoning sebagai basis membuat kebijakan menekan harga. Sebagai konsumen, banyak hal yang patut dipertanyakan keefektifan kebijakan hingga harga komoditi ini layak dihargai di pasar dibwah Rp 35.000.

Dalam pemberitaan yang dilansir detik.finance, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Prihasto Seyanto, mengungkapkan salah satu upaya mengurangi ketergantungan bawang putih China tersebut, yakni mewajibkan importir menanam bawang putih lokal, minimal 5% dari kuota impor yang diberikan.”Impor itu setiap tahun sekitar 400.000 ton. Kalau importir kita paksa tanam 5% dari kuota impornya, artinya importir harus produksi bawang putih lokal 20.000 ton. Dengan perhitungan produksi per hektar 6 ton, artinya tahun depan sudah ada lahan bawang putih yang dibuka sekitar 3.200-3.300 hektar,” jelas Prihasto. Pertanyaannya kemudian, apakah kebijakan ini akan mampu menekan harga bawang putih dalam waktu singkat ?

Berdasarkan hasil penelusuran kami yang tergabung dalam TAC (Tropical Agriculture Center), saat ini bawang putih sebagian besar diimport dari China. Bawang putih yang disukai konsumen adalah yang produksi dari Hainan di China Selatan. Pulau Hainan baru baru ini mengalami banjir besar, sehingga produksi bawang putih disana rusak dan stock sangat sedikit. Sementara panen lanjutan baru akan tersedia diakhir tahun 2017. Jika iklim dan cuaca membaik, baru pada akhir tahun ini ada stok bawang putih dalam jumlah banyak, saat itu ibu-ibu rumah tangga tidak lagi menjerit.

Sementara kewajiban menanam juga banyak persoalan, salah satunya adalah keterbatasan bibit. Jadi seandainya dapat menanampun, baru pada akhir tahun ini juga ada panen raya, pada saat Pulau Hainan juga mulai panen raya. Jadi harga akan kembali secara alamiyah anjlok. Pada saat itu semua orang sudah akan lupa dengan masalah bawang putih, termasuk para Menteri.

Kenapa animo petani bawang putih Indonesia rendah ? Persoalan pertama adalah daya saing bawang putih lokal yang rendah. Performa bawang putih lokal kurang menarik, ukuran kecil, dan warna kulit agak gelap, sehingga harga pasaran jatuh. Meskipun konsumen mengakui aroma bawang putih lokal lebih dominan, tetapi penampilan luar merupakan daya tarik pertama buat konsumen, ukuran yang besar dan warna putih berkilat adalah ukuran bawang putih super dan berharga menarik.

Persoalan kedua adalah produktifitas yang rendah dan waktu yang panjang. Secara ekonomi waktu harga bawang putih Rp. 10.000,- per kg, pendapatan per ha hanya sekitar Rp. 50 juta, waktu panen 4 bulan total biaya produksi tidak mencukupi dan resiko penanaman yang 4 bulan sangat tinggi. Jadi petani tidak tertarik bawang putih karena tidak punya daya saing dengan komoditi lain.

Bagaimana solusi bawang putih untuk jangka panjang ? Perlu ada varietas bawang putih yang lebih cocok untuk dataran rendah dan dengan usia panen yang lebih pendek. Dan yang lebih penting lagi adalah perlu ada edukasi konsumen untuk mengkonsumsi bawang putih lokal yang lebih berkualitas. Para Menteri jangan lagi show off dengan sidak dan operasi pasar. Semua masalah perlu diseleseikan dengan data base yang akurat dan perencanaan yang matang. Bukan dengan crash program sidak dan operasi pasar. Semua Setuju? Tamah kupi si khan.

KOMENTAR FACEBOOK