Kepada Pembunuh Dek Abil dan Dek Arul

Kini Habibi Askhar Balihar alias Abil (8), Fakhrurrazi alias Arul (12) dan Hj.Wirnalis (62) sudah di dalam kubur. Mereka tidak berdaya melawan manusia bengis dan tak berhati yang menghabisi nyawa mereka di siang bolong. Ketiganya, kini sudah menghadap Ilahi dengan segenap keampunan dari Allah, karena dibunuh tanpa hak, oleh entah siapa, yang tiada memiliki nurani.

Keji, itulah yang pantas kusebutkan untuk menyampaikan rasa tentang betapa bejatnya perilaku pembunuh yang tega menghabisi nyawa ketiganya, atas alasan apapun tak pantas dibenarkan. Terkutuk, itulah kata yang pantas dialamatkan untuk pelaku yang mampu membunuh anak kecil dan lansia. Entah kesumat apa yang dimiliki sehingga, ya Allah, tak mampu hamba menulis tentang, oh Ilahi, hamba kehilangan Kalam.

Saya tak bisa membayangkan dari jenis apa hati manusia yang telah membunuh tiga jiwa yang lemah. Bahkan dalam hukum perang antar agama sekalipun, Islam melarang membunuh anak kecil, perempuan dan lansia. Tidakkah dakwah itu sampai kepada pelaku pembunuhan anak anak dan mertua Mulyadi di Aceh Barat Daya? Agama apa yang sebenarnya pelaku anut? Andaikan ia Islam, sungguh ia hanya ber KTP Islam, karena apa yang ia lakukan, bukanlah perbuatan orang-orang beriman.

Hai pelaku, semoga Allah mengampuni kesalahan kedua orang tuamu yang telah melahirkan b*ngs*t seperti Engkau. Semoga Allah merahmati indatumu, yang dalam garis keturunannya telah ada manusia k*pl*t seperti Engkau. Semoga saja Allah, oh, terlalu lembut doaku untuk garis keturunanmu.

Kemarin, Rabu (17/5/2017) Engkau adalah manusia perkasa di depan tiga hamba Allah yang lemah. Engkau sangat gagah di hadapan dua bocah dan seorang nenek yang menghiba meminta ampun padamu. Berlagak bak Tuhan, engkau dengan gagah berani menghujani tubuh lemah mereka dengan senjata tajam. Ratapan, air mata dan ketakutan di wajah mereka, tak mampu melunakkan hatimu. Ya, tubuh-tubuh lemah itu, kau buat seperti boneka dan kau perlakukan sekehendak hati. Kau cabik-cabik tubuh mereka, dengan penuh kebuasan. Akhirnya, ketiga hamba Allah itupun menghadap Sang Khaliq, dengan penuh lumuran darah.

Kau menang. Kau hebat. Kau jagoan. Itukan yang melanda hatimu setelah membantai tiga nyawa yang lemah tak berdaya? Kau rampas Arul dan Abil serta Nek Wirnalis dari kehidupan Mulyadi dan istrinya. Mungkin kau ingin membuat Mulyadi menderita. Selamat, kau sukses untuk itu. Demikian dakwah setan padamu.

Bila kau gagah perkasa, bila kau hebat, bila kau jantan, dan kau ingin memberikan “pelajaran” kepada Mulyadi, kenapa setelah membunuh, kau melarikan diri? Bukankah kau jagoan? Heh, jagoan itu punya aneuk kr”h. Ia tahu apa yang ia lakukan dan tak pernah lari dari masalah.

Arul, Abil, dan Nek Wirnalis, ah, itu kan hanya hamba Allah yang lemah? Kaum yang seharusnya Dilindungi. Bahkan kau sendiri berkewajiban melindungi mereka atas dasar saudara sebangsa dan seiman.

Ah, lupakan. Kau tak peduli tentang itu. Karena kau memang tak menjadikan agama sebagai pondasi alam pikirmu. Kini kau lari. Rupanya kau tak cukup punya mental untuk bertanggungjawab. Bila misimu adalah membuat Mulyadi menderita, bukankah itu sudah tercapai? Lalu mengapa engkau lari?

Hei! Tenyata apa yang kau lakukan adalah kesalahan yang sangat besar. Siapapun kau, kini pasti sudah menyadari bahwa perbuatannya tidak dibenarkan oleh siapapun, atas alasan apapun. Bahkan, istri atau ibumu sendiri tak bisa membenarkan apa yang sudah kau perbuat.

Larilah! Lari! Sembunyikan! Sembunyi! Perbanyak doa agar kau tak berhasil ditangkap oleh polisi. Tapi ingat, karma itu berlaku. Kau mungkin bisa lolos dari hukum dunia, tapi ingat, kau tak pernah bisa lari dari karma. Suatu saat kelak, apa yang kau lakukan terhadap keluarga Mulyadi, kelak juga akan menimpa dirimu. Ingat, karma akan berbalik. Kala itu terjadi, engkau akan meraung, bahkan bisa saja kau akan bunuh diri.

Saranku, bila kau memang jantan, segera serahkan diri dan bertaubat. Bukankah misimu sudah tercapai? Mulyadi sudah kau buat tersiksa. Ia tersiksa dan luka. Kau telah menang. Kau jawara. Sebagai jawara tentu gentleman. Pulanglah. Serahkan diri. Semoga Dek Abil, Dek Arul dan Nek Wirnalis memaafkanmu.

Sungguh, bila kau tak menyerah dan terus berlari, dosamu tak pernah terampuni. Berhentilah menjadi pengikut iblis. Karena iblis akan menjerumuskan mu ke neraka. Andaikan kau terus bersembunyi, sungguh kau akan kehilangan kesempatan untuk bertaubat. Kau tahu? siapapun yang tak sempat bertaubat, tempatnya di neraka. Dosa yang kamu lakukan –membunuh– takkan terampuni hanya dengan memohon ampun kepada Allah. Karena dosa mu berhubungan dengan manusia. Ingat, membunuh adalah salah satu dosa besar.

Semoga kau membaca tulisan ini. Selama masih ada pula pintu untuk pulang, maka pulanglah. Lelaki sejati akan pertanggungjawabkan semua perbuatannya. Na kr*h?