Politek

Di Aceh, politek itu siasat. Di Jakarta politik itu ideologi plus teologi. Ini kondisi terbalik, dulu Aceh yang menempatkan politek sebagai ideologi dan/atau teologi, sedangkan Jakarta menempatkan politik sebagai siasat. Apa bedanya?

Politek sebagai siasat sepenuhnya bicara strategi dan taktik. Siapa yang mengelola keduanya dengan kreatif, maka dialah yang berpeluang menang. Bagi yang kalah, jika sudah ditempuh ragam upaya yang dibenarkan, tapi masih tetap kalah maka politik suksesi berhenti, sampai tiba waktu suksesi berikutnya.

Akar politek dalam artian siasat semacam ini bisa ditemukan dalam khazanah bahasa Aceh, seperti lisek, bulut, haloh, burek, dan lainnya. Di dalam kosa kata ini bisa muncul makna sebenarnya hingga makna simbolik. Kahadiran kata cakologi, masuk dan memperkaya pemahaman politek sebagai siasat.

Sebagai sebuah srategi dan taktik, maka mau mengerahkan ulama dan kelompok pahaman khusus dipersilahkan, sebaliknya pihak lawan juga akan membangun kontra-strategi guna memastikan strategi pengerahan ulama dan pahaman tidak menjadi hal yang mendulang keterpilihan.

Berbeda dengan politik sebagai siasat, pada politik berbasis ideologi dan teologi, siapapun yang menang dan kalah, akan terus berseteru sampai suksesi berikutnya. Publik akan diajak untuk mendegradasi pemenang dengan logika idiologi dan teologi. Begitu juga sebaliknya bagi yang menang. Ujungnya adalah “perang” ideologi dan teologi. Publik akhirnya terbentuk dalam dua kutup yang terus menerus memproduksi perbedaan dan ujungnya kebencian satu sama lain, bahkan bisa berujung pada bentrok, dan perang.

Politek model Aceh kekinian relatif sama dengan politik di negara-negara demokrasi lainnya. Sedangkan politik model Jakarta relatif sama dengan politek di Aceh di masa perlawanan, atau relatif sama dengan politik di negara-negara Arab masa kini.

Aceh dahulu juga memproduksi politek sebagai idiologi dan teologi dalam hal tertentu. Karena itu, spirit perlawanan Aceh meski bisa dikalahkan tapi tidak bisa dipadamkan. Kalah satu tumbuh yang baru. Akibatnya adalah perlawanan yang memproduksi pandangan yang berbeda, bahkan hingga membentuk kebencian dan konflik yang keras atau perang.

Renungan terhadap dampak konflik dan perang itu membantu Aceh untuk memasuki era baru, era damai dengan tekad untuk mewujudkan demokrasi sejati. Tidak mudah mencapai semangat demokrasi sejati, tapi setidaknya dalam tiga kali Pilkada, politek sebagai perang tanpa pertumpahan darah (meminjam kata Mao Zedong) sudah mulai lebih nyata sebab sudah makin minim korban jiwa.

Apa itu demokrasi sejati dalam pahaman Aceh kekinian? Kita kutip penggalan pidato Malek Mahmud pada 15 Agustus 2006, berikut: “Dan demokrasi yang sejati tidak berlutut di hadapan kekerasan – ia adalah alat untuk mengakhiri kekerasan dan ketidakadilan.”

Sementara politik kekinian di Arab, konflik, pertentangan, dan benturan terus menerus terjadi tanpa henti, kecuali dihentikan oleh kekuatan yang dibangun dengan mahal oleh pemenang, istilahnya negative peace. Untuk meraih dukungan, baik pemenang maupun yang kalah maka diproduksilah berbagai macam tafsiran idiologi dan bahkan teologi. Tidak cukup dukungan dari dalam negeri, dukungan dari luar negeri juga diupayakan.

Bentrokan hingga tingkat yang paling parah biasanya terjadi pada momentum khusus, dan umumnya terjadi dengan dukungan dari luar. Perpaduan perlawanan dari dalam dan dukungan dari luar inilah yang dapat mengakhiri hegemoni pemenang. Dan yang namanya perang sudah tentu tidak ada pihak yang untung, kecuali pihak ketiga.

Ulasan ini penting kita ingatkan kepada publik di Jakarta dan nasional sebelum terlalu jauh memasuki benturan politik secara idiologi dan teologi. Ujungnya adalah konflik yang keras dan bisa jadi akan berujung pada perang dua kubu dengan ideologi dan/atau teologi sebagai sumbu ledaknya.

Jakarta dan nasional juga perlu kita ingatkan agar Aceh tidak diseret lagi dalam benturan ideologi dan/atau teologi karena kita Aceh sudah bertekad untuk mewujudkan pemerintahan rakyat Aceh sebagai bagian dari upaya bersama mewujudkan demokrasi sejati. Sudahlah, terima kekalahan sebagai sebuah konsekuensi siasat yang tidak kreatif, dan pada musim suksesi berikutnya kembali menyusun siasat baru. Terus menerus menarik politik dalam suasana batin benturan ideologi dan/atau teologi hanya berujung pada pecahnya konflik yang keras, dan yang rugi adalah kita semua. []

KOMENTAR FACEBOOK