Yang “Tegap” Penyuka Jalur Belakang

ACEHTREND.CO, Jakarta- Ratusan pria berbadan tegap ditangkap di sebuah pusat kebugaran (fitnes centre) di bilangan Kelapa Gading, jakarta Utara, Minggu malam (21/5/2017). Mereka ditangkap sedang menggelar pesta seks homo (penyuka lelaki vs lelaki). Inikah fenomena gunung es bertumbuhnya perilaku penyimpangan seksual di Indonesia?

Indonesia terguncang, sebanyak 141 lelaki bertubuh kekar ditangkap di Jakarta Utara. Mereka digerebek oleh polisi, tatkaka sedang menggelar pesta seks sesama jenis sembari menggelar tarian striptis yang penarinya juga lelaki tanpa busana. Tak ada yang berpakaian kala digerebek oleh aparat penegak hukum.

Konon, dalam pesta gay bertajuk The Wild One itu setiap tamu dikenakan tarif Rp185 ribu. Mereka pun bebas menggunakan fasilitas di ketiga lantai ruko itu. “Ada striptease pria, ada yang sedang onani,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono.

Apa yang terjadi di Jakarta Utara itu hanya bagian tak terpisahkan fenomena kemunculan kaum homo yang kian bertumbuh di Indonesia. Menurut informasi yang dihimpun oleh aceHTrend dari ragam sumber, keberadaan kaum penyuka seks via a**s itu bertebaran dari Aceh hingga Papu. Selama ini gerakan mereka senyap. Pun demikian, mereka kerap juga menampakkan diri pada kondisi dan situasi tertentu. Di Aceh mereka berhimpun di bawah lembaga Violet Grey.

Laporan Kementerian Kesehatan yang dikutip dari Komisi Penanggulangan AIDS Nasional meng ungkap jumlah Lelaki berhubungan Seks dengan Lelaki (LSL) alias gay sudah mencapai angka jutaan.

Berdasarkan estimasi Kemenkes pada 2012, terdapat 1.095.970 LSL baik yang tampak maupun tidak. Lebih dari lima persennya (66.180) mengidap HIV. Sementara, badan PBB memprediksi jumlah LGBT jauh lebih banyak, yakni tiga juta jiwa pada 2011.

Padahal, pada 2009 populasi gay hanya sekitar 800 ribu jiwa. Mereka berlindung di balik ratusan organisasi masyarakat yang mendukung kecenderungan untuk berhubungan seks sesama jenis.

Sampai akhir 2013 terdapat dua jaringan nasional organisasi LGBT yang menaungi 119 organisasi di 28 provinsi. Pertama, yakni Jaringan Gay, Waria, dan Laki-Laki yang Berhubungan Seks dengan Laki laki Lain Indonesia (GWLINA) didirikan pada Februari 2007.

Jaringan ini didukung organisasi internasional. Jaringan kedua, yaitu Forum LGBTIQ Indonesia, didirikan pada 2008. Jaringan ini bertujuan memajukan program hak-hak seksual yang lebih luas dan memperluas jaringan agar mencakup organisasi-organisasi lesbian, wanita biseksual, dan pria transgender.

Dikutip dari Republika Online, Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah LSL terbanyak. Sebanyak 300.198 orang yang terindikasi merupakan gay. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.895 orang merupakan penderita HIV/AIDS. Sementara itu, Jawa Tengah memiliki penderita gay dengan jumlah 218.227. Dari jumlah itu, sebanyak 11.951 orang terindikasi merupakan penderita HIV/AIDS.

Bagaimana dengan DKI Jakarta? Sebanyak 27.706 warga ibu kota merupakan gay. Dari puluhan ribu gay di ibu kota, sebanyak 5.550 orang diduga menderita HIV/AIDS.

Bagaimana dengan Aceh? Sejauh ini belum ditemukan data yang kongkrit, karena penerapan Syariat Islam dan budaya Aceh yang menolak LGBT, memnuat ruang gerak mereka harus menempuh jalan “sunyi”.

***

Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI) menyatakan, pada dasarnya istilan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) tidak dikenal dalam pustaka formal ilmu psikiatri. Menurut Ketua Umum PP PDSKJI, Danardi Sosrosumihardjo, hal tersebut lebih dikenal orientasi seksuai yang meliputi homoskesual, heteroseksual, dan biseksual.

Danardi menjelaskan, homoseksual merupakan kecenderungan tertarik secara seksual terhadap jenis kelamin yang sama. Hal ini, lanjutnya, berarti meliputi lesbian dan gay. “Ini semua mengacu kepada Undang-undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang kesehatan jiwa dan Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa  (PPDGJ)-III,” katanya melalui keterangan persnya, Jumat (19/2/2016).

Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat (APA) menyatakan telah menyurati Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) guna mendorong perhimpunan tersebut untuk mempertimbangkan ulang kebijakan bahwa homoseksualitas masuk dalam kategori masalah kejiwaan.

Dalam laman resmi APA, Saul M Levin selaku direktur asosiasi tersebut, menulis bahwa posisi PDSKJI yang mengategorikan homoseksualitas sebagai masalah kejiwaan merupakan pelabelan yang salah dan telah dibantah oleh sejumlah bukti-bukti ilmiah.

‘Ada komponen biologis yang kuat pada orientasi seksual dan itu bisa dipengaruhi interaksi genetik, hormon, dan faktor-faktor lingkungan. Singkatnya, tiada bukti saintifik bahwa orientasi seksual, apakah itu heteroseksual, homoseksual, atau lainnya, adalah suatu kehendak bebas,’ tulis Levin.

Karena itu, lanjutnya, upaya untuk mengubah orientasi seksual seseorang melalui ‘terapi konversi’ bisa dan kerap membahayakan. Berbagai risiko yang terkait dengan ‘terapi konversi’ mencakup depresi, kecenderungan bunuh diri, kecemasan, mengurung diri, dan penurunan kemampuan akrab dengan orang lain.

Sayangnya, hasil penelusuran aceHTrend dari ragam sumber, asosiasi yang berpusat di Amerika Serikat tersebut, merupakan organisasi yang mendukung LGBT. Bahkan pengurusnya sendiri, ada yang pelaku penyuka sesama jenis. APA telah menjadi pendukung kuat untuk persamaan hak secara penuh bagi komunitas LGBT selama hampir 35 tahun.[]

Sumber: Republika Online, Kompas, BBC, In, Aruspelangi.Org, Bank Data aceHHTrend.