Bakong Ijo & Sie Meugang

Tembakau berwarna hijau yang dirajang halus, dipelintir, pelan, di balik daun nipah yang sudah dipotong sedemikian rupa, membentuk gulungan. Aroma bakong gayo yang berasal dari dedaunan tembakau di dataran tinggi Gayo, yang bercampur dengan paper nipah yang terbakar, menyeruak ruangan luas berdinding kaca, namun tanpa air conditioner.

Lelaki itu, memiliki susunan gigi yang rapuh. Deret geraham terlihat menghitam dilamun penyakit korosi. Sembari menggulung rokok nipah, pria berkulit hitam itu, dengan rambut kurang rapi, matanya sesekali menatap layar smartphone kelas midlle. Ia sedang mengupdate informasi daging meugang, yang dibahas nyaris oleh setiap akun Facebook.

Sesekali pula ia tersenyum, tatkala melihat keluhan mahalnya harga daging. Ia terus mengupdate info dari gawainya yang kian lemah daya. Harga daging terus bermain dari 150, 160,180, 170, hingga 200 ribu. Yang memprotes mengatakan bahwa harga daging di Aceh adalah yang termahal di seluruh dunia. Akun lain, yang mendukung mahalnya daging meugang, merargumen bila untuk menjaga tradisi, harga daging memang harus “eklusif” agar ruh dan ketinggian eumbong meugang tetap terjaga. “Bila harga daging meugang semurah di Pulau Jawa, lalu di mana lagi letak istimewanya meugang,” gugat sang “filsuf budaya”. Lelaki itu kembali tersenyum. Deret giginya yang sudah dijajah penyakit, kembali terlihat menatap keluar.

***
Protes sosial tentang mahalnya daging di hari meugang, kian bergaung karena bantuan media sosial dan media berwartawan yang bertumpu pada kekuatan listrik dan jaringan internet. Protes terhadap “ketidakadilan” ini gegap gempita di dalam ruang online yang kian semak dengan berita palsu (kabar bohong/hoak) yang ditebar oleh pengagum kebohongan. Berita “dakwah menebar fitnah” pun kalah dengan “tangisan” Facebooker yang berasal dari ragam kalangan.

Dulu, cerita mahalnya daging hanya menjadi bahan diskusi warung kopi dan panteu jaga. Para lelaki yang sudah berumah tangga, mendiskusikan itu secara terbatas. Pilihannya bagi yang tidak beruang kala itu hanya dua, utang daging, atau cari alternatif. Bagi yang memilih jalur alternatif harus bertempur dengan hati. Di rumah, anak dan istri menunggu setumpuk berlian yang bernama sie.

Internet telah membuka tabir bahwa meugang di era modern masih merupakan perhelatan budaya yang tetap mengandung nilai bermata dua. Bagi yang beruang, meugang disambut dengan sukacita. Bagi yang tak punya uang, ini masanya untuk menutup mata dengan menenangkan hati. Syukur-syukur masih punya sisa kuota internet untuk meluahkan rasa. Bagi yang punya pulsa serta punya koneksi, harus berlomba menelpon kolega atawa orang besar. Harapannya hanya satu, mendapatkan uang untuk beli daging meugang.

Bila merujuk pada data hibah lembu di Aceh–saya tidak akan menyebut angka, Anda pasti tak percaya– negeri ini sudahlah menjadi kandang lembu terbesar di dunia. Tiap tahun Pemerintah Aceh dan kabupaten memberikan hibah lembu untuk ratusan kelompok tani. Logika bahwa dengan jumlah sapi yang sangat banyak itu, mustahil harga daging lembu menjadi sangat mahal. Konon lagi pemerintah Aceh juga membuka kawasan penggemukan sapi yang dikelola melalui UPTD. Seharusnya di tahun 2017, mahalnya harga daging meugang, hanyalah dongeng belaka.

Tapi faktanya, harga daging tiap tahun selalu menanjak. Bila sudah naik, tak berpeluang turun. Harga sapi juga sangat mahal. Permintaan daging dan ketersediaan sapi tidak seimbang. Jangan salahkan penjual daging, dengan harga yang spektakuler itu, tetap saja mereka masih ada yang merugi. “Tahun lalu di rumah saya tersedia daging lima kilogram dengan harga 700.000/ kg. Kenapa, karena kami rugi besar. Tahun ini saya tak main,” kata seorang toke daging meugang.

Ekonomi sektor ril tak bergerak naik. Pengeluaran rakyat lebih besar dari pendapatan. Andaikan tanpa Otsus, Aceh sudah terkapar. Apa yang terjadi hari ini karena buble economic. Karena ada yang besar yang beredar. Uang itu diharapkan bisa menjawab persoalan Aceh. Tapi, lagi-lagi, rehab rekon pasca tsunami dan otsus hanya menjadi ajang memperkaya diri para penjahat. Mulai dari politisi, akademisi, birokrat, polisi hingga militer, berlomba merampok Aceh, dengan ragam cara. Rakyat? Emang siapa yang peduli. Rakyat kecil hanya disuguhkan kepalsuan dengan penggratisan beberapa layanan dasar, dengan pelayanan yang sangat buruk.

Tiap peringatan hari besar Islam dan tahun ajaran baru, protes massal bergerak di dunia maya. Politisi menyambut hentakan itu dengan menjadikan diri sebagai Robin Hood. Ibarat pemadam kebakaran. Mungkin, sedikit berbagi setelah sekian banyak mencuri. Media jarang berteriak. Bilapun menulis, kemudian diam karena ada deal yang disepakati. Agamawan? Ah, mereka telah hilang di dalam awan. Mereka eklusif dengan dirinya sendiri. Selebihnya, agama dan budaya hanya jadi bahan olok-olok untuk menjaga kepentingan politik para pihak yang berkepentingan.

Rakyat–oh sungguh sial nasib kita– setelah dimiskinkan secara massif, masih saja dipukuli, digusur, ditembak dan dibom panci. Tak ada kemerdekaan, karena orang miskin tak pantas merdeka. Mereka harus abadi dalam kepapaan. Kampus yang seharusnya memiliki bergaining power, kian terjerumus dalam dunia hedonis. Akademisi yang sibuk berlomba mencari dana hibah riset–yang tak jelas fungsinyaa– dan mahasiswanya yang digadang sebagai agent of change, kini kian tak jelas. Aktivis organisasi mahasiswa lebih parah lagi. Mereka beralih menjadi mahasiswa sosial climber yang aktif selfie dari satu warung ke warung lainnya. Duduk ngopi dengan politisi, cang panah tentang benarnya perilaku penguasa, dan pulang ke rumah toh angen beraroma eumbong. Syukur-syukur bila mampu smartphone terbaru dengan bantuan dana dari para birokrat dan politisi yang sempet kawat.

***
Lelaki itu menyulut sebatang rokok nipah yang sedari tadi digulung dengan penuh susah payah. Ia, dengan bantuan lidah membulatkan asap tebal yang keluar dari mulut. Ia terbatuk beberapa kali. Kala PLN mematikan daya, ia mengumpat. “Mulai dari pemerintah, akademisi, mahasiswa, Agamawan, mahasiswa dan wartawan, laloe ngon balum soh. That bereh ka,” katanya sembari menjentik abu rokok. []