Catatan Seorang Aktivis Mahasiswa

Mahasiswa Bireuen sedang melakukan demo menuntut polisi menindaklanjuti kasus dugaan ijazah palsu yang digunakan oleh Bupati Bireuen. Foto sebagai ilustrasi tulisan. Sumber foto: Juang news.com

Oleh: Taqwadin Marzuki*

Semua bermula ketika saya menjadi seorang pejuang rakyat yang mempunyai hak khusus, yang biasanya disebut aktivis mahasiswa. Ya kami memang mempunyai hak khusus untuk menyampaikan aspirasi, mungkin karena kami orang terpelajar, mungkin. Saya mahasiswa di salah satu kampus Negeri di Aceh.
Mungkin orang orang akan bertanya, mengapa saya menulis tentang aktivis alias pejuang rakyat? Mungkin masyarakat sekarang banyak yang salah tafsir perihal pemaknaan Aktivis di zaman doeloe hingga sekarang ini berdasarkan pengalaman dan pemaahaman penulis sendiri. Aktivis menurut saya ada dua , yang pertama mereka yang benar benar memperjuangkan aspirasi masyarakat tanpa suatu kepentingan pribadi atau suatu golongan, tapi mereka memperjuangkan memang atas dasar hati nurani mereka. Menurut mereka, sebuah kesenangan ketika melihat masyarakat senang, dan sebuah kesenangan juga melihat kebijakan pemerintah berpihak kepada masyarakat.

Yang satu lagi aktivis bayaran, dimana mereka menaruh kepentingan pribadi, golongan dengan membawa nama seluruh masyarakat provinsi A, misalnya. Mereka akan sangat lucu ketika menampilkan permainan ataupun drama yang seakan-akan mereka prihatin dengan keadaan masyarakat, padahal mereka lebih memikirkan sebungkus nasi. Di mana hati mereka, mereka menuntut inilah, itulah. Misalkan menuntut masalah nepotisme di suatu pemerintahan, mereka tidak berkaca diri bahwa mereka mempraktekkan nepotisme tersebut di kampus. Kok bisa ya begitu, jelas mereka dibayar oleh suatu kelompok yang tidak suka terhadap pemerintahan eksekutif tertentu. Dan tentu mereka tidak tau malu, mereka sibuk mengatur yang lain sehingga mereka lupa akan kewajiban mereka sendiri agar terlepas dari praktik nepotisme.

Miris ketika kita melihat fakta yang terjadi sekarang, menjadi suatu permasalahan tersendiri. Dan lucu ketika kita melihat mereka nantinya menjadi dewan yang terhormat yang menurut saya tidak terhormat sama sekali. Mereka sekarang sibuk harus begini, harus begitu. Mereka serba tau, tanpa menyadari dan melihat perpekstif yang lain dalam suatu masalah. Mereka lansung menvonis tanpa mencari tau, mereka mengarang kata kata nasionalis untuk disebarkan digrup agar mahasiswa lain tertarik untuk ikut, padahal nasionalisme “ek manok”. Seharusnya ada seorang yang berani menentang mereka dengan mengatakan “kami mahasiswa, kami bebas dan kami netral dalam menentukan sikap”.

Sangat diperlukan mahasiswa yang jujur, dan berintegritas. Kenapa demikian? karena semenjak kuliah mahasiswa yang jujur akan dipinggirkan oleh mahasiswa yang otaknya tidak kemahasiswaan. Seharusnya mahasiswa kedepan lebih cermat lagi dalam menentukan sikap. Dan tentunya untuk aktivis, lebih cermat lagi dalam penyelesaian masalah dan melihat masalah dan tidak demo ikut ikutan dan pastikan demo yang benar benar atas rakyat. Sekian.

Foto hanya sebagai ilustrasi.

*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Politik UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK