MRB dan Proyek Gagal Paham

Saya terkejut begitu buka media sosial. Kabar rusaknya payung madinah di Mesjid Raya Baiturrahman (MRB) membuat saya membuka lagi coretan sebelumnya.

Awalnya, saya sangat ingin menulis soal MRB. Tapi, melihat antusiasme publik pada MRB, saya yakin aceHTrend tidak mau mempublikasi coretan saya ini. Tapi, hari ini, saya harap aceHTrend mau memuatnya dalam rubrik kopisore seperti sebelumnya.

***

“Tapi apa mau dikata, tanpa dialektika proyek ini sedari awal sudah salah secara logika, etika, dan estetika.”

Dalam sebuah diskusi ringan di Serambi Mesjid MRB di Yogyakarta bertopik pembangunan Aceh, seorang rekan menyebut bahwa pembangunan Aceh saat ini di mengalami proses politicking yang sangat parah. Pendapat rekan ini menurut saya berat benarnya. Salah satu indikasi yang bisa dilihat dengan sangat nyata adalah dalam proyek renovasi dan pembangunan payung Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh yang bernilai ratusan milyar rupiah dan baru diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Sabtu, 15 Mei yang lalu. Ada empat alasan kenapa saya harus menyebut proyek ambisius gubernur Zaini Abdullah ini salah kaprah dan menyimpan segudang persoalan.

Pertama, merusak estetika mesjid, dan ini yang paling fatal. Prediksi saya ketika pertama sekali mendengar rencana proyek renovasi ini, bahwa pembangunan tiang dan payung-payung raksasa ini bakal merusak estetika dan aura Mesjid Raya, terbukti benar. Mesjid Raya Baiturrahman yang megah dengan kubahnya yang ikonik adalah landmark kota Banda Aceh, namun dengan dibangunnya payung-payung raksasa ini telah mehilangkan ruh bangunan mesjid bersejarah ini karena yang kemudian tampak menonjol bukan lagi wajah arsitektur mesjid, Rumah Allah yang megah dan penuh gezah, melainkan tiang-tiang besi dan payung raksasa yang menutupi view hampir seluruh bangunan mesjid.

Abu Doto Zaini sepertinya tidak sadar nilai sejarah, emosional, dan spiritual mesjid ini ada dibangunan intinya, bukan pada tiang besi, beton, dan payung buatan sebagaimana diimajinasikannya bersama dayang-dayang pembisiknya yang menjadi kreator ide dan eksekutor proyek renovasi berskala wah ini. Lihat apa akibatnya sekarang? Kemegahaan dan keanggunan Mesjid Raya Baiturrahman yang menyejarah kini menjadi ternoda, sirna nyaris tak tersisa tenggelam dibawah tiang-tiang robot buah mimpi disiang bolong Abu Doto Zaini.

Itu belum lagi kita bicara harmoni. Diamati dari sudut pandang estetika arsitektural, juga tidak ada aspek harmonisasi terlihat dari desain payung yang membuka ke atas dengan bentuk dan arsitektur Indo-Persiani kubah mesjid yang melingkup kebawah. Apa yang kemudian tampak adalah dua model arsitektur yang bukan hanya berbeda tapi juga bertolak belakang, hadir dalam satu tempat atau kompleks bangunan. Jadinya terlihat tidak nyambung alias sunsang.

Kedua, tidak sejalan dengan semangat green development. Jika Alm. Mawardi Nurdin, mantan walikota Banda Aceh bertekad membangun kota Banda Aceh hijau dengan mengembangkan dan menyediakan Ruang Terbuka Hijau di berbagai sudut kota, Gubernur Aceh Zaini Abdullah malah punya mimpi yang bertolak belakang. Abu Doto sepertinya lupa – mungkin karena kelamaan tinggal di Swedia – bahwa negara kita adalah negara tropis. Yang kita butuhkan adalah AC alam, pohon-pohon dan rumput yang hijau untuk menyegarkan atmosfir dan menjadi paru-paru kota. Kita tidak butuh penyejuk berkonstruksi tiang dan beton yang menguras energi/daya (listrik) dan menyedot biaya besar untuk pemeliharaannya.

Proyek renovasi MRB tak urung membuat kita bertanya-tanya dari mana datangnya ide proyek ini? Abu Doto dapat wangsit darimana hingga muncul ide membangun payung-payung rakasasa ini?

Disebut-sebut ide renovasi dengan tiang dan payung-payung buatan serta mengganti halaman rumput mesjid yang indah dan sejuk itu dengan pualam yang katanya didatangkan dari Italia ini, terinspirasi oleh mesjid Nabawi di Arab. Kira-kira motifnya ingin mengikuti kemegahan Mesjid Nabawi, seperti itu. Begitulah kira-kira berita yang beredar. Jika ini benar maka sungguh ide ini juga salah kaprah mengingat kondisi alam dan geografis negeri kita berbeda dengan negara-negara di jazirah Arab yang cenderung tandus hingga membutuhkan penyejuk buatan dengan biaya operasional yang tidak sedikit, namun tidak masalah karena mereka adalah negara kaya. Sementara kita? – hanyalah nanggroe yang kaya sekejap karena mendapat durian runtuh bernama dana otsus, setelah itu? Wallahualam.

Karena itu mestinya kompleks Mesjid Raya Baiturrahman justru harus dikembangkan sebagai RTH yang ikut menyejukkan kota Banda Aceh dengan cara alami, ditengah gedung-gedung beton, kaca, dan besi yang mengitarinya kiri dan kanan, muka dan belakang. Dan itu tak kurang, malah lebih nyaman dan menyejukkan tentu dengan tetap tidak mengganggu view keseluruhan arstitekur yang menjadi ruh dan aura MRB – dibanding kehadiran payung buatan raksasa yang mahal itu.

Ketiga, dilihat dari tampilan fisiknya diperkirakan biaya pemeliharaan fasilitas berat ini akan cukup, untuk tidak mengatakan sangat besar. Nah, pernah tidak Abu Doto dan dayang-dayang pembisiknya mengkalkuasi berapa biaya pemeliharaan fasilitas payung-payung raksasa ini. Berapa daya listrik yang dibutuhkannnya. Lalu dari mana uang untuk membayar biaya ini. Apa cukup hanya dengan uang celengan mesjid? Okelah kalau tidak cukup sekarang bisa disubsidi dengan dana otsus, tapi setelah dana otsus tidak ada lagi, apa kabar? Lalu bagaimana dengan kondisi kelistrikan kita yang payah, byar pet saat ini. Genset dengan kapasitas sebesar apa yang harus disediakan untuk mengantisipasi dan mengatasi persoalan ini? Lalu bagamaina jika payung-payung dan tiang-tiang robotnya macet atau malah rusak, ada tidak teknisi lokal yang bisa membetulkan dan memperbaikinnya? kalau tidak dan harus didatangkan dari luar, maka berapa lagi biayanya?

Lalu keempat, yang juga menjadi persoalan mendasar yang menyertai ambisi proyek mercusuar ini adalah tidak adanya ruang publik bagi rakyat Aceh untuk berpartipasi dalam menentukan kebijakan proyek renovasi MRB ini. Yang harus disadari dan dipahami oleh Abu Doto Zaini Abdullah beserta dayang-dayangnya, MRB adalah Rumah Allah milik bersama, kebanggaan yang bernilai emosional dan sakral bagi seluruh rakyat Aceh. Rakyat Aceh adalah pemilik sesungguhnya yang paling berhak memberi suara dan mentukan apapun kebijakan intervensi terhadap mesjid bersejarah dan telah menjadi ikon identitas kolektif mereka sebagai masyarakat Serambi Mekkah yang religius.

Jadi penguasa tidak bisa secara sepihak mengintervensi mesjid raya milik rakyat Aceh ini. Konon lagi dilakukan secara sembarangan, serampangan, dan semena-mena bahkan meski atas nama pembangunan sekalipun. Apapun intervensi yang dilakukan oleh penguasa, terlebih lagi jika skalanya besar dan berpotensi serius merubah dan merusak nilai estetika dan sejarah mesjid, sebelum dieksekusi wajib meminta pertimbangan berbagai pihak, dari masyarakat dan para ahli seperti ahli sejarah, teknik arsitektur, ahli tata kota, bahkan ulama. Juga karena bukan hanya berfungsi sebagai sarana ibadah tapi juga menjadi situs sejarah dan cagar budaya yang nilainya tidak bisa diukur dengan uang, bahkan dengan ratusan milyar uang rakyat telah dan akan dihabiskan utuk merenovasinya, maka ahli arkeologi dan antropologi, juga penting diminta saran dan pendapatnya.

Kita tidak tahu apakah pemerintah Abu Doto Zaini melakukan tahapan ini? Atau jangan-jangan Abu Doto Zaini punya imajinasi sendiri ingin mewarisi program/proyek monumental untuk membuat kepemimpinan politiknya menyejarah hingga diingat dan dikenang oleh anak cucu bansa Aceh ratusan hingga ribuan tahun kedepan? Jika motivasi ini ada maka sungguh Abu Doto sangat cerdik dengan menyasar MRB, objek yang memang sangat sentimentil untuk mengangkat citra politiknya di mata rakyat Aceh. Cuma persoalannya apakah caranya sudah benar?

Memperbesar marwah dan gezah Rumah Allah tentu adalah baik-baik saja, bahkan mendapat ganjaran pahala. Tetapi tetap dengan cara yang benar, tidak boleh asal. Nah ini yang kita tidak lihat dari proyek renovasi MRB ini. Apa yang sangat mungkin bisa kita simpulkan saat ini dari proyek “payungisasi” dan pualamisasi MRB ini adalah proyek maksa banget ala Abu doto Zaini yang sama sekali tidak berpijak pada prinsip dan konsep pembangunan yang benar, karena tidak mengindahkan kaidah-kaidah sejarah, arsitektur, tata ruang, budaya, dan arkeologi, bahkan absurdnya, psikologi sosial karena sedikit-banyak juga ada elemen emosi di situ – yang sangat mungkin justru ingin ditrigger oleh Abu Doto untuk mengangkat cita politiknya. Jadi lumayan kompleks sebenarnya pertimbangan yang harus diperhatikan oleh Abu Doto Zaini Abdullah dan dayang-dayangnya, termasuk dengan persoalan toilet yang dikritik tidak bersyariah hingga menjadi viral, bahan gugatan banyak orang di media sosial, dan efek panas bukannya rasa sejuk yang diserap pada siang hari dan dilepaskan pada malam hari oleh marmer lantai mesjid tersebut. Tapi apa mau dikata, tanpa dialektika proyek ini sedari awal sudah salah secara logika, etika, dan estetika.

Proyek hana meupeu cap berbasis mimpi bukan kebutuhan ini mungkin akan terlihat megah di mata pencetusnya tapi sesungguhnya tidak akan pernah meniggikan derajat, marwah, dan gezah, tapi malah merusak dan mencemari kemuliaan sejarah (termasuk dengan lenyapnya bak Geulumpang di depan MRB yang menjadi saksi sejarah bisu perang kolonial rakyat Aceh melawan Belanda), kekuatan spirit, nilai arkeologi dan budaya, serta kemegahan dan keanggunan arsitektural mesjid kebanggaan rakyat Aceh ini. Proyek ini tidak akan pernah menjadi warisan kepemimpinan Abu Doto Zaini Abdullah tapi malah blunder karena telah membuat MRB menjadi korban dari ambisi politik citra penguasa yang tidak mengerti dan gagal paham.

Coretan ini seusai membaca media sosial tentang rusaknya payung MRB

Amrullah Lamreh, Perantau di Negeri Sultan, Yogyakarta, peminat kopi Gayo dikala sore tiba, sambil mengikuti warta keacehan. Kini, di bulan ramadhan menikmati kopi gayo usai tarawihan.

Foto: Facebook