Mengamuk Saat Berbuka, Sebuah Ironi Ramadhan

Muhammad Syawal, S.Sos*

Sebuah bulan yang sangat dinanti-nantikan oleh umat Islam dalam setiap tahun adalah bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT atas setiap kebajikan yang dilakukan oleh umat Islam.

Ada sebuah kewajiban yang dilakukan oleh semua umat Islam di bulan Ramadhan yaitu berpuasa satu bulan penuh. Puasa (secara istilah) diartikan sebagai sebuah bentuk aktivitas ibadah kepada Allah dengan menahan diri atau berpantang dari segala makanan, minuman, dan dari segala hawa nafsu yang dapat membatalkan puasa dari sejak terbit matahari atau shubuh hingga terbenam matahari atau magrib.

Karena itu, kalau kita cermati ketika bulan Ramadhan tiba, durasi waktu puasa umat Islam di dunia sangatlah bervariasi. Ada durasi puasanya terpendek atau tersingkat seperti negara Chili (9,43 jam) dan ada yang terlama seperti Islandia (22 jam). Bagi umat Islam yang beriman, singkat atau lamanya durasi puasa bukanlah sebuah masalah. Karena yang terpenting esensi dari puasa itu dan predikat taqwa yang Allah janjikan bagi orang yang berpuasa. Pun dalam Al-Quran telah dinyatakan, bahwa orang berpredikat taqwa diampuni segala dosanya, dimudahkan urusannya dan dikucurkan rezeki yang tak terhingga.
Bulan Ramadhan dapat dijadikan oleh umat Islam sebagai media untuk melatih kesabaran dan mengendalikan nafsu, baik nafsu amarahnya, nafsu syahwatnya maupun nafsu terhadap makanan atau minuman. Puasa juga berdampak positif terhadap kesehatan raga manusia dan juga berdampak positif terhadap keseharan jiwa manusia. Karena itu pula, bagi orang-orang yang ingin jiwa dan raganya sehat maka puasa adalah solusinya.

Dalam bulan Ramadhan juga terdapat sebuah kebahagian yang tiada tara dan hanya dirasakan oleh orang yang berpuasa. Sesuai dengan Rasulullah sabdakan dalam haditsnya, bahwa bagi orang yang berpuasa terdapat dua kebahagian, yaitu kebahagian saat berbuka dan kebagiaan saat bertemu dengan Tuhannya.

Namun, dewasa ini terdapat sebuah ironi di bulan Ramadhan yang berkaitan dengan berbuka. Hal ini terlihat dari pola konsumsi makanan dan minuman yang lebih banyak dan meningkat dibandingkan dengan hari-hari biasa (hari non puasa). Bahkan anehnya, di bulan puasa banyak kalangan kita mengonsumsi makanan atau minum yang tidak populer di bulan lain, seperti makanan atau minuman dari buah aren muda, dan lain sebagainya. Seolah semua makanan yang tidak dikonsumsi dibulan lain derajat kenikmatan atau seleranya menjadi bertambah ketika bulan puasa tiba.

Tentunya, hal ini sungguh telah jauh melenceng dari esensi puasa yang kita lakukan di bulan Ramadhan. Logikanya, dengan berpuasa (tidak makan satu waktu) tingkat konsumsi kita akan menurun dibandingkan dengan hari-hari biasa, bukan sebaliknya, tingkat konsumsi kita naik dan berlipat ganda ketika bulan Ramadhan tiba.

Memang, menghadirkan sedikit makanan dan minuman bernutrisi tinggi dan yang bisa mengembalikan energi lebih cepat karena berpuasa siang harinya dianjurkan ketika berbuka, seperti berbuka dengan memakan buah kurma (sesuai dengan yang Nabi lakukan ketika puasanya). Namun bukan dengan melipatgandakan makanan dan minuman untuk dimakan disatu waktu.
Padahal, dengan berpuasa umat Islam diharapkan (setidaknya) bisa menghayati dan mendapatkan sebuah nilai moral yang berhubungan dengan kepekaannya terhadap lingkungan sosial atau sesama manusia lain. Karena dalam lingkungan sosial kita tidak semuanya sama dan terdiri dari ragam golongan, yang jika kita klasifikasikan secara umum akan terdapat golongan kaya, golongan menengah, dan golongan miskin. Standar hidup yang dimiliki dan dijalani oleh setiap kelompok ini pun berbeda.

Semestinya dengan berpuasa umat Islam (golongan yang standar hidupnya kaya) dapat merasakan bagaimana hidup dengan status miskin dimana semuanya terbatas, bahkan untuk makan sekalipun. Sehingga selepas bulan Ramadhan rasa empati atau kepekaan sosial mereka menjadi bertambah terhadap golongan yang lain. Nah!

*Penulis Alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsyiah, jurusan Sosiologi. Saat ini bekerja sebagai staff pengajar di sekolah Sukma Bangsa Pidie, Aceh.

Sumber foto tak teridentifikasi.

KOMENTAR FACEBOOK