Jangan Seret Nouval ke Konflik Politik Kalian

Politik di publik nasional sekarang mulai nakal. Remaja pun ikut diseret dalam wilayah konflik politik orang dewasa.

Afi Nihaya Faradisa (18) yang lagi hobi menulis diposisikan sebagai pihak yang pro gagasan moderat dan para mendukung poros Jokowi – Ahok membenturkannya pandangan Dek Afi dengan pihak yang dituduh radikal atau yang kerap disindir sebagai kaum bumi datar atau sumbu pendek.

Politik berbalas pantun pun terjadi, selain mengkritik cara pandang Afi atas agama, Afi juga disorot soal plagiat. Serangan ini membuat mereka yang disindir sebagai bani taplak kelabakan sehingga harus mencari jalan keluar untuk menghindar dan menyelamatkan Dek Afi.

Dek Afi beruntung, ia mendapat banyak perlindungan, termasuk mendapat undangan dari Presiden RI, Joko Widodo. Seteru politik di publikpun makin panas. Akhirnya peluang ditemukan ketika melihat Panglima TNI bertemu dengan remaja penemu listrik kedondong. Jadilah Nouval Raziq (15) ikut diseret ke wilayah seteru politik orang dewasa.

Nouval diposisikan sebagai remaja yang cerdas, lebih berguna bagi bangsa, tapi disebut tidak seberuntung Dek Afi, yang hanya bermodal menulis meski plagiat tetap diundang ke istana. Pertemuan Panglima TNI dengan Nouval juga diseret ke politik perbandingan kepemimpinan antara Jokowi dengan Jenderal Gatot.

Semestinya, kedua remaja ini, Dek Afi dan Dek Nouval tidak diseret menjadi alat politik orang dewasa. Keduanya mestinya di beri iklim yang sehat agar bisa tumbuh dan berkembang lebih baik lagi.

Jika Dek Afi dalam menulis masih ada unsur plagiatnya dibimbing agar jujur dalam menyertakan sumber jika memang mengutip pikiran orang lain. Sisi kemampuan menulis Dek Afi harus tetap dihormati dan diberi iklim untuk bisa berkembang.

Jika Dek Afi kuat sudut pandang moderatnya, maka sebaiknya dia diberi tempat dan akses untuk tumbuh dilingkungan moderat, dan jika Dek Afi pernah ikut bermain-main politik dengan statusnya disarankan untuk fokus belajar dan belajar untuk mengasah terus kemampuannya berpikir dan menulis.

Begitu juga dengan Dek Nouval. Pertemuannya dengan berbagai pihak janganlah dulu ditarik dalam persepsi politik. Pertemuan itu hendaknya dipahami sebagai jalan bagi Dek Nouval untuk mendapat dukungan berbagai pihak agar Nouval dapat terus belajar dan mengasah penemuannya.

Dengan usianya yang masih 15 tahun, anak Aceh ini masih membutuhkan dukungan dan iklim yang sehat agar ia bersemangat di bidang penemuannya. Jika Dek Nouval diposisikan sebagai orangnya si A atau si B, justru tidak berbuah baik bagi Dek Nouval itu sendiri.

Berbeda dengan Dek Afi yang sudah berusia 18 tahun. Jika memang Dek Afi sudah bersemangat untuk terjun ke dunia politik dalam usia dini, silahkan saja dia dibimbing menjadi kader partai politik. Bukankah sekarang ada partai politik yang memang mengincar anak-anak muda yang belum pernah menjadi anggota partai politik lainnya, seperti PSI.
Tapi, Dek Afi mesti diberi kesadaran bahwa dunia politik adalah dunia yang keras, jadi harus siap-siap dengan segala hiruk pikuknya, sehingga tidak perlu menangis jika ada serangan, kecuali tangisan itu juga bagian dari taktik politik.

Terakhir, perlu diingatkan jangan sampai remaja Indonesia menjadi alat politik sebagaimana pernah terjadi dalam konflik politik Irak vs Kuwait yang dipicu oleh taktik politik pelibatan remaja untuk melakukan kesaksian palsu. Apa yang dilakukan atas Nayirah al-Sabah, jangan sampai dipraktekkan di Indonesia. Jangan seret Dek Nouval kami ke dalam konflik politik kalian. Amin