Catatan Luka Tanoh Jeumpa 1999 (I)

ACEHTREND.CO,Bireuen- Balia, warga Samalanga ditemukan oleh warga Gampong Cot Puuk, Gandapura, Minggu (25/4/1999) dalam kondisi tewas. Mayat tersebut tergeletak di pinggir jalan nasional Banda Aceh-Medan, di dekat sebuah SPBU. Di dalam saku celana korban yang lehernya dijerat kawat, ditemukan tulisan pada secarik kertas: “Balia Cuak/Pengkhianat”

Murtala (40) warga Rancong, Gandapura, Kamis (23/4/1999) ditembak OTK tatkala sedang minum kopi di sebuah warung di Gampong Krumbok, sekitar pukul 18.15 WIB.

Pada Selasa (25/5/1999) sekitar pukul 10.00 WIB, terjadi kontak tembak di Peudada antara AGAM dan aparat keamanan. dr. Fauziah yang merupakan Kepala Puskesmas Peudada, meninggal dunia terkena peluru senjata api. Turut tewas seorang juru rawat dan dua serdadu militer. Peristiwa ini terjadi pada sebuah penyerangan yang dilakukan oleh GAM di Gampong Cot Trieng, Peudada.

Peristiwa ini bermula tatkala Geuchik Alue Kuta melaporkan kepada aparat berwajib di Mapolsek Peudada bahwa di Gampong yang ia pimpin ada dua korban petrus (penembak misterius). Mapolsek kemudian meminta bantuan tim medis untuk melakukan visum ke TKP.

Awalnya, dr. Fauziah berencana terjun ke lapangan dengan menggunakan mobil puskesmas. Namun aparat memintanya ikut dalam mobil militer. Dalam perjalanan, rombongan diberondong dengan senjata api oleh serombongan sipil bersenjata dari arah perbukitan. Tatkala tewas dalam pemberondongan itu, dr. Fauziah sedang mengandung tiga bulan anak pertamanya.

Minggu (6/6/1999) jumlah pengungsi di Simpang Mamplam mencapai 866 jiwa dari 177 KK. Sedangkan pengungsi yang berada di SDN. Ie Rhob Geumpang, mencapai 276 KAK (1.169 jiwa).

Sabtu (26/6/1999) jumlah pengungsi semakin bertambah di Samalanga. Warga yang berasal dari Bate Iliek berjumlah 1.200 jiwa dan Gampong Meurak sekitar 1.018 jiwa. Mereka eksodus secara bergelombang menjelang magrib. Mereka ditampung di Mesjid Baro.

Sejumlah dokumen penting milik Koperasi Simpan Pinjam (KSP) di Kecamatan Jeumpa dan Kecamatan Peusangan, dibakar di halaman KSP masing-masing, Kamis (1/7/1999). Dua KSP ini berkantor di dekat bekas bangunan pabrik Puspa. Peristiwa itu terjadi pukul 17.30 WIB.

Sabtu (3/7/1999) Zakaria Panyang (40), warga Teufah, Jeunib tewas ditembak OTK di rumahnya. Masih pada hari yang sama, Pos Sattis 32 di Gampong Teukuh, Jeumpa, dibakar OTK. Pos itu sudah lama kosong dan dipergunakan oleh serdadu saat penerapan DOM di Aceh.

Dua orang pengungsi di Kecamatan Samalanga, Minggu (4/7/1999) meninggal dunia di lokasi pengungsian. Kedua korban adalah warga Meunasah Dayah, Samalanga.

Sekelompok orang tak dikenal, Sabtu (17/7/1999) sekitar pukul 01.00 WIB dinihari membakar tiga unit angkutan barang. Pembakaran ini dilakukan di lintasan Banda Aceh-Medan, tepatnya di kawasan Glee Batee Glungku. Ketiga kendaraan itu adalah truck Fuso BL 8963 A, Colt Diesel BL 8926 A, dan Chevrolet Luv BL 8175 DL. Mobil dan muatannya hangus terbakar.

Warga Bireuen dikejutkan dengan penemuan jenazah Muhammad (40) Rabu (21/7/1999). Korban yang merupakan pedagang ditemukan tewas dengan leher tergorok di tokonya Sejahtera Baru, Bireuen. Masih pada hari yang sama, Koramil Peudada diserang OTK menggunakan granat, dari arah belakang. Penyerangan yang berlangsung pukul 20.30 WIB itu tidak menimbulkan korban jiwa.

Kamis (29/7/1999) dua orang guru menjadi sasaran aksi petrus. Kedua korban masing-masing Supriyanto (30) Warga Plimbang. Korban dijemput di rumahnya dan mayatnya dicampakkan di Gampong Alue Syung. Sebelumnya, korban dibacok di tengkuk. Korban merupakan guru SLTP 4 Plimbang. Dairi (35) warga Jeunib yang juga guru SD Matang Kule, tewas setelah ditembak di depan rumahnya.

Dua sosok mayat yang ditemukan di tempat berbeda dievakuasi ke RSU Bireuen. Korban diidentifikasi sebagai Suardi (60), warga Kota Bireuen. Jenazah korban ditemukan di Paya Meuneng,Peusangan. Kondisi leher korban ditemukan bekas luka dengan senjata tajam. Sauddin (70) pensiunan ABRI yang menetap di Geudong-Geudong, ditemukan tewas dengan luka tembak di Kutablang. (Bersambung)

Sumber: Buku Menjaring Hari Tanpa Air Mata (Catatan Peristiwa Kekerasan di Aceh Sepanjang 1999) terbitan Koalisi NGO HAM Aceh.

Note: Bireuen kala itu masih dalam kawasan Aceh Utara.

KOMENTAR FACEBOOK