Mai, Cerita Tentang Perempuan

Mukhtar Mai harus mengenang kembali peristiwa keji Lima belas tahun lalu. Kala itu dia diperkosa atas poersetujuan Dewan Desa di sebuah perkampoungan di Pakistan. Ia harus menanggung hukuman siperkosa oleh sebuah klan dominan di sana, setelah saudara laki-lakinya yang berusia 12 tahun didakwa memiliki hubungan gelap dengan seorang wanita dari klan tersebut. Lewat opera, Mai harus kembali menjejak langkah menuju tahun 2002. Sebuah kesakitan yang tiada tara.

Aljazeera menulis dalam laporannya, dengan keberanian yang telah dipupuk sekian tahun, atas semangat perlawanan terhadap kesewenang-wenangan mengatasnamakan “otoritas hukum”, Mai melangkah. Ia mendobrak sesuatu yang ditabukan. Ia harus kuat untuk terus bergerak, karena hukum negara di mana ia diperkosa beramai-ramai atas nama sanksi adat, telah membebaskan para pelaku, setelah mereka naik banding. Tentu, berkali-kali Mai harus dibuat kalah, karena sang pemerkosa adalah tetangga di mana Mai bermukim.

Tiap kali Mai melintas di depan mereka, ia selalu saja diejek. bahkan cerita pun berkembang dengan ragam hinaan terhadap dirinya. Tapi Mai tak mau kalah. ia tak membalas, pun demikian tak juga tersungkur.

Opera yang dirancang oleh komposer Kamala Sankaram dan pustakawan Susan Yankowitz, menceritakan pemerkosaan Mai tahun 2002 dan keputusannya untuk menentang penyerangnya dan membawa mereka ke pengadilan. “Saya sangat emosional saat pertama kali menontonnya dan mulai menghidupkan kembali kejadian itu di dalam pikiran saya,” kata Mai, 37, kepada kantor berita AFP pada hari Jumat, setelah menghadiri pemutaran Thumbprint di Los Angeles.

Mai adalah sebuah antitesa, dimana sebuah “peradaban” dibangun atas nama laki-laki. Ia yang memilih bangkit dan mendogakkan kepala sebagai bentuk perlawanan, tentu merupakan kebalikan dari perilaku mayoritas korban serupa, yang memilih bunuh diri dengan berbagai alasan. Kebanyakan tentu karena frustasi, selebihnya merasa kotor dan tidak berguna.

Apa yang dialami oleh Mai dan diangkat dalam pentas tersebut, merupakan satu dari ribuan kasus di India dan pakistan, yang menjadikan perempuan sebagai tumbal dari nafsu bejat angkara lelaki, atas nama penegakan hukum adat dan pembersihan kampung dari kutukan. Di sana, wanita tidak hanya menjadi santapan empuk para penjahat jalanan, juga menjadi sasaran penyimpangan “penis” kaum durjana yang memegang kendali kekuasaan.Perempuan yang mendapat kemalangan tersebut, oleh budaya yang demikian, tidak pernah diberikan perlindungan. Mereka jutsru menjadi sampah, tatkala usai menjadi tumbal “upacara bersih desa”

****
Saya teringat kisah dalam sebuah buku terbitan LSM Hak Asasi manusia (HAM) di Aceh–saya lupa judul bukunya– Dalam satu bagian dari buku itu diceritakan tentang kisah seorang perempuan Aceh yang menjadi korban perkosaan. Usai dipaksa melayani nafsu bejat serdadu Republik Indonesia, perempuan itu dikucilkan oleh masyarakat. ia dianggap kotor, najis atau bahkan lebih hina dari itu. Hingga suatu kala, ia sempat mengutarakan niatnya untuk diberikan kesempatan dimandikan oleh seorang teungku, agar kekotoran yang diembannya segera sirna. Kala membaca itu, saya bukan tak kuasa membendung air mata. Ada maha duka yang berhasil saya tangkap dari cerita perempuan malang itu.

Saya juga teringat tentang kisah beberapa tahun lalu, tentang seorang gadis belia di Langsa yang bunuh diri usai diberitakan sebagai pelacur oleh sebuah surat kabar harian di Aceh. PE nama inisialnya. ia ditangkap oleh Wilayatuh Hisbah Kota Langsa di Lapangan Merdeka, tengah malam buta. Esoknya takala ia pulang kampung, ramai-aramai warga meneriakinya sebagai pelacur. Lusa, ia ditemukan tewas gantung diri. warga tambah mengutuk. Ia disebut sebagai pendosa yang tak akan pernah menghirup wangi surga. Betapa kejamnya manusia, setelah media memberikan vonis mendahului pengadilan–bahkan PE tak pernah disidang, kecuali interogasi alakadar ala WH Langsa– serta kutukan lingkungan yang sangat kejam. Remaja belia itu tertekan, ia memilih mati daripada harus menanggung malu.

Orang-orang yang terjebak pada kondisi tidak beruntung, justru dilabel sebagai pendosa, dan dibiarkan menderita. Dan bila mereka sudah semakin tersiksa, dicaci maki pula. Tatkala mereka memilih mati, beramai-ramai “para hakim” bajingan itu, menambah kutukan.

Masyarakat kita, mungkin punya kesamaan dengan lelaku moyangnya di India dan Pakistan. Kejam, tak berhati dan gemar menghukum orang lain, padahal ianya sendiri adalah pendosa. Perempuan, dalam sudut pandang kita acapkali dipandang sebelah mata. Melecehkan perempuan adalah perilaku sehari-hari. Mulai dari kaum awam, hingga akademisi cap prip dan oknum agamawan kelas menengah, kerap membicarakan perempuan dengan sikap memberikan label minus. Perempuan seakan-akan hanya didefinisikan sebagai lubang kemaluan yang hanya bersungsi sebagai tempat menyembunyikan kemaluan panjang laki-laki. Tak lebih dari itu.

Goenawan Mohamad dalam catatan pinggirnya berjudul Waswas menulis: ….Orang-orang bodoh, berlagak pakar, pegang kendali; perempuan yang tak berdosa dikasari. penghormatan, dengan baju keemasan, diberikan kepada mereka yang tak patut, gilded honour shamefully misplaced.

Sayangnya, PE di Langsa tidak sekuat Mai di Pakistan. PE kalah dan para bajingan yang berlagak hakim bersorak-sorai atas nama “moral”. []