Cinta Lenyap Konflik Lahir

Ilustrasi. Gambar dikutip dari internet.

Cinta adalah kata yang mudah diucapkan, sering keluar dari mulut manusia, tak peduli apapun status sosial seseorang. Kata yang berdaya magis itu mampu mengelabui, menghipnotis bahkan mampu mengobrak-abrik rasional manusia. Banyak kisah cinta yang mampu membangkitkan dan memotivasi semangat kita.

Benar bahwa semakin didefenisikan semakin kita absurd akan cinta, kita semakin jauh dari hakikatnya setelah mencoba memaknai. Kita kemudian enggan memaknai dan hanya menggunakan persepsi kita masing-masing. Reduksi kata cinta tanpa disadari telah terjadi, kita terjebak pada kisah-kisah cinta antara dua insan atau lebih sehingga cinta diidentikan dengan pria dan perempuan, belakangan malah sesama jenis.

Padahal semua sisi kehidupan, semua urusan tak bisa dipisahkan dari cinta. Ambil contoh kecintaan seorang ibu, mamak, mak, umi, kepada anaknya. Pengorbanan sejak kita lahir hingga dewasa selalu dilakukan. Bentuk ketulusan cinta seorang ibu memang tak ada tandingan namun apakah kita tak mungkin menjadi pecinta yang tulus, tentu bisa.

Bila Nabi Muhammad tak mencintai ummatnya pastilah tak keringan-keringan dalam ibadah termasuk shalat lima waktu. Bila Nabi Muhammad tak mencintai ummatnya pastilah tak menyebut ummatnya di akhir hayatnya. Banyak lagi perbuatan nabi yang menunjukkan rasa cintanya pada kita sebagai ummatnya.

Bila kita melihat negeri ini, sebuah negeri yang diberi begitu banyak hasil alam. Sudahkah kita penghuninya saling mencintai? Pemimpin mencintai rakyatnya dan sebaliknya pun demikian. Tetangga mencintai tentangganya dan sebaliknya, guru mencintai murid dan sebaliknya.

Bila pemimpin mencintai rakyatnya pastilah kebijakannya akan membuat rakyatnya tersipu malu, penuh gelora dan hasrat bila pemimpinnya menyapa walaupun hanya melalui media massa. Bila pemimpin mencintai seluruh rakyatnya tentu tak ada daerah yang dianggap penting, kurang penting dan tidak penting.

Pun rakyat yang mencintai pemimpinnya, bila pemimpin telah tulus mencintai mengapa enggan ikut aturan yang dibuat. Jangankan ikut aturan yang benar, rakyat akan rela berkorban nyawa demi pemimpin yang dicintainya sebagaimana banyak contoh kisah-kisah heroik dimasa silam.

Bila kaitan apa yang sedang terjadi dinegeri ini, kita sesungguhnya telah kehilangan cinta. Kita hanya egois tak lagi mencintai sesama, kita senang korup demi kekayaan personal padahal imbasnya negara yang rugi dan penghuni negara adalah rakyat. Kita senang mencaci padahal Allah AWJ berkali-kali menggunakan kalimat indah memanggil kita dalam banyak ayat didalam Al-Qur’an.

Padahal dengan kekuasaanNYA yang tak terbatas itu, sebagai pencipta manusia dan alam semesta tidak ada penghalang bagiNya memanggil kita dengan nama-nama yang buruk. Itulah bukti bahwa Allah AWJ merupakan Maha Cinta, Maha Kasih dan Maha Sayang pada kita. Kita sebagai hambaNya tak sepatutnya memandang sesama dengan pandangan rendah apalagi dengan lisan yang tak lemah lembut.

Apakah kita berucap kasar atau bertindak kasar pada yang kita cintai? Bila ada maka yakinlah rasa cinta perlahan mulai lenyap, konflik dibelahan dunia manapun semua berawal dari hilangnya rasa cinta. Mencintai akan membuat kita selalu siap memberi yang terbaik kepada yang dicintai. Balasan dari yang kita cintai dan mencintai kitapun demikian, mencintai Allah AWJ akan mendapat al-jannah.

Kita yang mencintai perdamaian akan selalu berusaha memberi yang tak terbaik untuk perdamaian. Aceh yang sempat kehilangan cinta karena pilkada harus moved on, saatnya kita saling mencintai. Mencintai Aceh berarti memberikan yang terbaik untuk Aceh. Kita akan rela meninggalkan mark-up proyek demi Aceh, kita akan sama-sama berantas mafia energi negatif di Aceh tak peduli bila pelaku satu parpol dengan kita.

Mencintai Aceh kita akan selalu menjaga sumber daya alam dari tangan-tangan tak bertanggung jawab. Tangan bukan ‘muhrim’ tak boleh menjamah SDA Aceh apalagi sampai mengeksploitasinya. Jakarta tak boleh seenaknya membuat aturan agar Asing menguasai SDA Aceh, kita punya peluang membuat qanun SDA sejak MK membatasi kewenangan mendagri terkait perda.

Parlok sebagai kendaraan politik harus satu visi demi Aceh, harus memiliki rasa cinta yang sama. Parlok jangan menjadi tunggangan parnas akan tetapi mitra dalam mencintai Aceh seutuhnya. Aceh harus menjadi Serambi Mekkah sekaligus rumah madinah, artinya Aceh harus menjadi pusat peradapan dunia, dengan izin Allah AWJ dan cinta itu sangat mungkin. Mari mencintai Aceh dengan tulus ikhlas bukan dengan modus dan retorika.

KOMENTAR FACEBOOK