Adat dan Identitas Aceh

Oleh Amarullah Yacob*

Dalam khazanah sosiologi, kajian terhadap proses interaksi antarkelompok sosial melahirkan sebuah tradisi teoritis yang kuat dan memiliki pengaruh besar kepada masyarakat hingga zaman sekarang, teori ini sering kita sebut dengan istilah identitas sosial. berbicara pencapaian identitas dalam bingkai keacehan sangat dipengaruhi oleh adat yang berlaku.

Sedikit menyinggung era kerajaan Aceh, adat istiadat diatur dalam qanun yang disusun secara sistematis. Sulthan memberikan mandat penuh kepada uleebalang dalam mengurus adat istiadat pada tiap wilayah masing-masing. Selain itu, banyak kita mendengar narit maja (pepatah Aceh) yang menyatakan urgensi adat istiadat bagi kehidupan sosial masyarakat, salah satunya adalah adat ngoen hukom lagei zat ngen sifeut (adat dengan agama seperti zat dengan sifat), ini menunjukkan adat dan agama merupakan aspek yang memiliki kesinambungan dan sulit dipisahkan.

Semenjak berakhirnya peristiwa D.I/T.I.I tahun 1961 yang diprakarsai oleh Muhammad Daud Beureueh, melalui diplomasi intens Aceh diberikan hak istimewa meliputi pelaksanaan di bidang agama, pendidikan dan adat. Langkah ini dianggap salah satu upaya tepat oleh pemerintah pusat sebagai resolusi konflik untuk daerah yang hendak berhijrah dari darul harb (wilayah perang) menuju darussallam(wilayah aman).

Pada tahun 1999 Aceh kembali mendapatkan hak keistimewaan yang penyelenggaraannya lebih luas, meliputi hak istimewa dalam pemyelenggaraan bidang agama, pendidikan, adat dan peranan ulama untuk membangun daerah. Selanjutnya hak istimewa ini melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 menjadi lebih khusus. Pemerintah memberikan wewenang dalam pembentukan mahkamah syari’ah dan pelaksanaan syari’at Islam (Badruzzaman Ismail, 2013: 3)

Selanjutnya, setelah terjadi perundingan antara RI-GAM tahun 2005 di Helsinki maka lahirlah nota kesepahaman (momerandum of understanding) yang dituangkan dalam Undang-Undang Pemerintah Aceh (UUPA) sekarang. Dalam undang-undang tersebut juga termaktub tentang adat istiadat Aceh.

Dengan demikian, hampir dari setiap fase sejarah Aceh yang telah dilewati dari masa ke masa seperti dijelaskan di atas, adat menjadi salah satu prioritas yang selalu diperjuangkan secara gigih baik di forum nasional ataupun internasional. Maka secara tidak langsung
mengindikasikan bahwa betapa pentingnya adat dalam sosial kemasyarakatan Aceh.

Membumikan Adat

Zaman semakin canggih identik dengan pergeseran nilai-nilai sosial ke arah negatif, meskipun tidak dapat kita klaim sepenuhnya negatif namun secara garis besar demikian adanya. Secara sadar kita mampu merasakan adanya perbedaan tindak tanduk antara generasi breuh thuem (cemilan tradisional) dalam hal ini penisbahan pada generasi yang mempraktikkan nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalam adat istiadat, dengan generasi popcorn (sebutan cemilan modern),dalam hal ini nisbah pada generasi yang tidak lagi mempratikkan nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalam adat istiadat.

Sebagai contoh sederhana, dahulu pada saat penulis masih duduk di bangku sekolah tingkat menengah pertama sering kawan-kawan sebaya ketika berjumpa dengan orang yang lebih tua baik di jalan atau di tempat umum lainnya mereka memberikan salam, ini suatu contoh adatullah, tapi zaman sekarang sepertinya praktik tersebut menjadi langka dalam masyarakat. Begitupun dengan para gadis-gadis, dulu tidak pernah kita melihat gadis yang nongkrong di warung kopi sampai larut malam, karena hal demikian sesuatu yang dianggap tabu tapi coba bandingkan dengan zaman sekarang, banyak para gadis jam 12 malam masih berkeliaran dan nongkrong di warung kopi. Ini tabiat generasi popcorn.

Untuk itu, supaya cita-cita sosial (social imaginary) tercapai maka perlu membumikan kembali adat istiadat di Aceh dalam kehidupan bermasyarakat, tentunya dalam format yang komplit, artinya pemantapan dari segi intelektual dan dibarengi penerapan secara real, karna adat istiadat menjadi salah satu solusi dalam membentengi kebrorokan moral yang pada hari ini menjadi kesenjangan sosial generasi Aceh.

Petuah-petuah yang disampaikan oleh para Endatu jika kita timbang-timbang ada sisi benarnya, kuwieng ateung beuneung peutupat, kuwieng ureung adat peutupat (jika pematang bengkok maka dapat di luruskan oleh benang, jika manusia tidak bermoral maka dapat diluruskan oleh adat), jika semua manusia yang bermastautin di Aceh sudah lurus, baik dan beraklakul karimah maka identitas akan terbentuk dengan sendirinya.

*) Penulis adalah warga Gampong Mesjid Runtoh, Pidie.

Foto dikutip dari internet. Tidak teridentifikasi pemilik aslinya.

KOMENTAR FACEBOOK