Tu Sop: Pemimpin yang Angin-Angin Tak Mampu Bangun Aceh

Tgk. Muhammad Yusuf A. Wahab (Ayah Sop).

ACEHTREND.CO,Bireuen- Teungku H. Muhammad Yusuf A. Wahab atau akrab disapa Tu Sop, mengatakan kegagalan rezim Zaini Abdullah dalam membangun Aceh, karena seringnya terjadi inkonsistensi, serta ketiadaan konsep yang pasti dalam rangka menuju pembangunan Aceh yang mandiri dan beriman. Hal ini diperparah oleh sering terjadinya manuver politik yang bertujuan untuk meraih keuntungan pribadi, dengan mengabaikan kepentingan rakyat yang lebih luas.

Hal ini i disampaikan oleh ulama nan bersahaja itu tatkala berdiskusi dalam acara silaturahmi terbatas di kediaman Tu Sop di Jeunib, Kamis (22/6/2017). Dalam pandangan Tu Sop, Irwandi Yusuf berpeluang mengulang kegagalan Zaini, andaikan konsep yang diajukan masih sama serta menjauhi nilai-nilai Islam.

“Fondasi pembangunan Aceh harus memperkuat umat Islam, yang bila sudah kuat, umat mampu memperkuat Islam dan kemudian perpaduan keduanya akan membawa Aceh yang maju dan beriman. Pada intinya yang harus menjadi fondasi adalah nilai keislaman,” kata Tu Sop.

Dalam membangun Aceh, menurut Tu Sop, seorang pemimpin tidak boleh angin-anginan. Ia harus konsisten menjalankan misi, tanpa harus oleng untuk kepentingan pribadi. Tidak boleh ada dendam pribadi, karena tatkala mengelola daerah dengan anggarannya, seseorang tidak melaksanakan atas nama pribadi. Tapi karena amanah konstitusi.

“Dendam politik, rakus, mematikan kelompok lain dan menghidupkan grup sendiri, memangkas hak rakyat, itu semua perbuatan zalim. Cita-cita menuju Aceh yang bersatu dengan Islam tidak bisa dicapai dengan cara-cara zalim. Karena kezaliman adalah musuh Islam. Ingat, bahwa sampainya seseorang ke tampuk kekuasaan bukan karena warisan keluarga. Tapi karena adanya konstitusi melalui pemilihan umum yang melibatkan seluruh rakyat,” ujar Tu Sop.

Tu Sop mengingatkan, siapapun yang berhasil memenangi pemilu, selama ianya tidak ikhlas lillahi taala untuk membangun Aceh, maka selama itu pula Aceh tak akan maju baik dari sisi perbaikan kualitas pembangunan maupun dari sisi kerohanian (mentalitas) anak bangsa.

“Ikhlas bukan sekedar ucapan kosong. Menjadi ikhlas itu tidak mudah. Orang yang angin-anginan dan misinya masih campur aduk antara sekedar menguasai material kekuasaan dengan kepentingan publik, tentu tidak akan mampu membangun negeri ini,” ujarnya.

KOMENTAR FACEBOOK