Teroris Magang

Pelaku penembakan dan teror bom di sarinah--jakarta

Organisasi teroris seharusnya serba rahasia. Tidak mudah terdeteksi dan pelakunya tidak pula dikenali. Dalam berbagai kasus kekerasan dan malapetaka di dunia yang dilakukan oleh teroris, semuanya sangat sulit untuk diidentifikasi. Tak jarang para pakar hanya bisa menduga-duga, seperti Ayu Ting Ting yang tak tahu mencari alamat pacarnya.

Namun, semua hal yang membuat organisasi teroris begitu sangar, tidaklah berlaku di Indonesia. Para pelaku teror selalu meninggalkan jejak. Bahkan pelakunya acapkali adalah seorang ahli ibadah yang gemar ke mesjid serta berjualan bakso. Satu lagi, mereka pasti selalu membawa KTP dimana pun beraksi. Mungkin mereka tidak ingin untuk dilupakan oleh siapapun. Atau setelah “syahid” rindu pulang ke rumah seperti lagu almarhumah Nike Ardila. Mama oh mama aku ingin pulang….

Hal menarik lainnya, setiap kali polisi berhasil menembak mati terduga teroris –baik yang ditempatkan tatkala menyerang orang lain atau sedang shalat atau berjualan bakso– selalu saja diikuti dengan pemberitaan yang mengetengahkan testimoni warga berupa : “Kami tak menyangka bila ia teroris. Sebab selama ini ia terlihat pendiam, jarang berinteraksi dan rajin ke mesjid.”

Hal menarik lainnya–memang sangat banyak hal yang menarik seputar dunia teroris di Indonesia– yaitu banyak pelaku teroris adalah berusia muda dan membuat video salam perpisahan kepada keluarga sembari diikuti permintaan maaf. Oh, sungguh sebuah upaya perpisahan yang sangat melankolis. Sungguh si teroris takkan melakukan bom bunuh diri apabila sebelum menjadi “pengantin” ia sempat menonton video tersebut bersama keluarganya di rumah.

Oh, membayangkan bila banyak anak muda yang ingin masuk surga dengan cara mencelakai orang lain, sungguh sesuatu yang dilematis. Mereka generasi frustasi yang mungkin gagal move on dari sesuatu yang membuat mereka kecewa. Soalnya lagi, ternyata mereka “amatiran,” yakni selalu meninggalkan jejak berupa KTP, dan pesan-pesan lainnya di rumah kontrakan mereka. Pada akhirnya, teror yang awalnya menakutkan dan serba misterius, segera menjadi serangkaian drama kemanusiaan yang melow. Duh, tak jarang pula mereka meninggalkan surat dan buku diari. Ternyata mereka penulis yang frustasi.

Seorang teman yang menyebut dirinya pengamat teroris, mengatakan, ia menduga teroris di Indonesia kebanyakan masih berstatus magang serta masih alay. Mereka ingin “masuk surga” dengan cara “heroik” namun ingin terkenal dengan cara membawa KTP dan meninggalkan jejak. “Dalam beramal mereka masih ingin pamer.” Kata teman lainnya.

Sejauh ini prestasi polisi di Indonesia dalam hal pemberantasan teroris sungguh gilang-gemilang. Selalu ada kisah heroik di balik penangkapan dan pelumpuhan gerombolan dan individu terduga teroris. Bahkan kehebatan itu diakui dunia. Walau sampai detik ini, polisi belum mampu menjawab beberapa hal: Dari banyak kasus, hampir semuanya berakhir dengan penembakan dengan peluru tajam. Baik yang menyerang dengan sajam maupun terduga teroris yang sedang shalat, semuanya ditembak mati. Kenapa? Kenapa simpul teroris –walau hampir semua teroris membawa KTP saat beraksi– tidak kunjung berhasil diurai?

Menuding polisi bermain-main, tentu tidak “bijak”. Pada sebuah diskusi terbatas seorang peserta pernah menyeletuk: “Mengurai simpul terorisme sama sulitnya dengan mengurai siapa pelaku penyerangan terhadap Novel Baswedan, penyidik KPK yang diserang dengan air keras seusai shalat subuh.”

Seorang peserta diskusi lainnya malah berkata “Di Indonesia, ada dua hal yang sulit ditegakkan, yaitu kebenaran dan keadilan. Pengelola negara dan operator hukumnya bekerja untuk kepentingan pasar yang dikelola pemodal besar. Makanya untuk tiap kejahatan besar, yang tertangkap tetap pelaku di kelas akar rumput. Ya, seperti teroris magang itu.”