Perihal Undangan Itu

Undangan pelantikan dan pengambilan sumpah Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2017-2022.

Jelang pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2017-2022, Aceh tiba-tiba grusak-grusuk. Hal ini disebabkan oleh undangan pelantikan yang diterbitkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) atau di propinsi lain disebut DPRD Tingkat I. Khususan di dunia fesbukiyah–sebuah dunia maya yang penghuninya tidak mengenal kelas sosial– perihal undangan itu sangat heboh.

Mereka yang mendapatkan undangan–kalangan jelata kelas bawah– kemudian mempostingnya ke internet melalui akun facebook masing-masing. Ada sirat kebanggaan tatkala dianggap penting. Apalagi bagi kalangan pendukung paslon terpilih, dengan mendapatkan undangan pelantikan, maka paripurna sudah rasa bangga menjadi bagian dari pemenang. Perihal di kemudian hari dilupakan, itu bab lain. Karena untuk kelas bawah, meupopo sinyak leupah tamong bak pelantikan awak rayeuk. Adak raya that pangkat di gampong, jikalau tak mendapatkan undangan, maka peluang untuk masuk ke gedung pelantikan, tidak terbuka sama sekali. Pengamannya sangat ketat. Ini perkara eumbong sekaligus rasa yang tak mampu diterjemahkan.

Mengagumi diri untuk sejenak karena “dijadikan orang penting” walau berangkat dengan ongkos sendiri, bukanlah sebuah dosa. Lumrah, karena hal demikian nyaris mustahil. Dari lima gampong dengan jumlah warga mencapai ribuan, hanya ia sendiri yang mendapatkan “kehormatan” itu. Uihhh! Nikmatnya seperti menikahi gadis cantik yang tanpa cacat di tiap jengkal tubuhnya. Klimaksnya bahkan berkali-kali.

Bagi lawan politik yang dahulu berada di pihak yang bersebarangan, ikut-ikutan memposting undangan. Dengan ragam kalimat pengantar yang membuat sakit hati bagi yang tenggelam dalam dilema kartu undangan. Mereka dengan semangat 45 menulis ragam kalimat yang bertujuan untuk mengusik jiwa-jiwa yang merana karena tiada mendapatkan undangan untuk melihat langsung pelantikan Teungku Agam dan Bang Nova di Ruang Rapat DPRA, Rabu (5/7/2017).

Lupakan bagi “awak lua” yang mendapatkan undangan, karena Irwandi-Nova dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, bukan gubernur dan wakil gubernur kelompok pemenang saja. Segala upaya provokasi untuk melahirkan rasa sakit hati bagi pendukung yang menang, hanya bentuk pelampiasan atas kekalahan yang diterima oleh pendukung yang kalah. Lupakan itu. Karena mendebat hal demikian, hanya menghabiskan waktu dan tenaga.

Ada fenomena aneh lain yang menarik untuk disimak. Yaitu munculnya status rada “menghina” para penerima undangan yang mempostingnya di facebook. Ragam kalimat under estimate dituliskan hanya demi hendak mengecilkan “kebanggaan” para penerima undangan. Para pencibir itu bukan saja datang dari jelata tak makan sekolahan–mungkin yang demikian iri– tapi juga dari manusia “tercerahkan” dalam ragam tingkatan pendidikan. Untuk kalangan ini, saya kira ada upaya hendak melecehkan. Jikalau tidak, untuk apa pula mempertanyakan urgensi sebuah undangan? Untuk apa menyenggol perihal undangan dengan kalimat yang seharusnya tidak perlu. Bukankah dengan postingan undangan serta tulisan pengantar dengan kalimat yang mengharu biru dari orang yang merasa telah bekerja keras bagi Irwandi-Nova, tidak akan membuat ISIS menguat di Aceh. Bukankah status dan postingan mereka tidak akan membuat maksiat merajalela di Aceh?

Seperti yang saya utarakan di paragraf awal tulisan ini, bahwa bagi jelata yang merasa telah mencapai titik maksimal berjuang memenangkan Irwandi-Nova, mendapatkan undangan pelantikan, sensasinya luar biasa. Ibarat klimaks yang berkali-kali di bawah naungan cahaya rembulan purnama serta disela-sela deburan ombak Pantai Kuta. Kebanggannya melebihi kesuksesan menaklukkan hati juragan kaya raya yang memiliki gadis cantik nan lembut. Ini tentang rasa, tentang perasaan. Andaikan boleh disebut, inilah puber kedua dengan segala romantikanya.

Mereka–jelata yang Anda tertawakan di fb– tahu bahwa setelah pelantikan itu, ia akan kembali sebagai rakyat Aceh dalam bilangan lima juta jiwa. Ia akan kembali sebagai apapun yang sedari dulu digelutinya. Bahkan ia akan tidak pernah diingat sama sekali oleh Irwandi-Nova. Semua itu sudah disadari. Tapi perihal undangan itu, ini bukan tentang siapa yang mendapatkannya akan dijamin kaya di masa hadapan. Bukan, keliru bila Anda berpikir mereka berpikir demikian.

Sudahlah, biarlah jelata bahagia untuk sesaat. Di negeri ini, jelata hanya disanjung pada even pemilu. Selebihnya hanya berupa deretan angka-angka. Bukankah Anda yang mencibir merasakan hal yang sama? Lalu kenapa nyinyir tatkala saudara Anda sedikit mendapatkan “keistimewaan” pada acara peresmian Irwandi-Nova? Ah, Anda telah menafsirkan yang aneh-aneh tentang hati jelata itu. Mereka hanya memiliki kebanggaan, itu saja. Tidak lebih tidak kurang. Jadi janganlah menilai berlebihan.[]