Gracias Abu dan Mualem!

Irwandi Yusuf - Nova Iriansyah, 2017-2022

5 Juli 2017 adalah sejarah bagi 5 juta rakyat Aceh. Perhelatan Pilkada telah mencapai klimaks. Irwandi-Nova dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh untuk periode 2017- 2022. Pada hari yang sama, dr. Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf telah pun paripurna dari tugas menahkodai Aceh.

Saat hadir di gedung rapat DPRA, Mualem –sapaan akrab Muzakkir Manaf– nampak masygul. Ia terlihat sangat tenang. Sesekali tersenyum ramah tatkala bertemu pandang dengan orang lain. Abu Doto pun setali tiga uang. Mereka berdua terlihat teduh dan santai dalam balutan jas.

Kehadiran dua orang yang sempat disebut-sebut takkan hadir, telah memberikan fakta baru, bahwa keduanya tetap bersikap ksatria. Kita paham, sebagai kontestan Pilkada, keduanya memiliki luka masing-masing. Khususnya karena ada beberapa bagian dari Pilkada yang dinilai tidak sesuai dengan UU Nomor 11 Tahun 2006. Tapi sebagai tokoh besar di Aceh mereka menampakkan pelajaran politik yang luar biasa. Pertarungan politik di arena tidak membuat mereka kekanak-kanakan. Sungguh suatu sikap yang patut dipuji.

Bagi Aceh, baik Abu Doto maupun Mualem bukanlah orang asing. Mereka telah menoreh cerita dalam pergulatan konflik Aceh dan Jakarta. Dalam kapasitasnya sebagai petinggi GAM, Zaini telah memperjuangkan nasib Aceh di luar negeri. Sedangkan Mualem, dengan senjata di tangan, memimpin perlawanan terhadap Indonesia melalui kekuatan militer para sukarelawan yang bernaung di bawah panji Teuntra Neugara Aceh (TNA) yang merupakan sayap militer GAM. Dalam pergulatan itu, mereka telah menoreh kisah masing-masing.

Kini, 5 Juli 2017, keduanya telah kembali sebagai rakyat biasa. Purna sudah tugas mengabdi membangun Aceh. Tentu, kita punya catatan masing-masing terhadap apa yang sudah mereka lakukan. Juga sebaliknya, sebagai pemimpin mereka juga punya catatan-catatan tersendiri terkait apa yang sudah dilakukan.

Atas apa yang sudah dilakukan oleh keduanya, tentu sudah sepantasnya kita mengucapkan terima kasih. Kita sadar bahwa tidak mudah menjadi pemimpin. Menjadi leader bagi 5 juta jiwa, tentu harus berhadapan dengan 5 juta pemikiran. Saya kira bahwa dalam masa lima tahun, keduanya juga telah belajar bahwa tidak mudah menahkodai Aceh yang berselemak masalah. Kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan dan ketidakadilan adalah isu klasik di Aceh yang tak kunjung tertangani.

Pada akhirnya, dengan segala keterbatasan, kita patut mengucapkan rasa terima kasih kepada Abu Doto dan Mualem. Semoga Irwandi mampu dan mau memperbaiki yang belum sempat tertangani, serta melanjutkan apa yang sudah sukses dirintis. Irwandi tidak boleh lupa, usia dana otsus hanya sampai 2027. Gracias Abu, gracias Mualem!