Aceh Kembali Terbang Bersama Sang Pilot

Pilot Irwandi Yusuf


“..sejauh mana kemampuan pasangan pilot dan co pilot Aceh baru kali ini menerbangkan pesawat Aceh yang bermesin ganda dengan segala kompleksitas kendali ditambah dengan turbulensi yang kerap terjadi di udara?…”

Saat saya menuliskan tulisan ini, saya sedang berada di Seulawah Coffe. Sebuah warung kopi yang terletak di Kawasan Dago , Bandung. Warkop ini sama dengan warkop lainnya yang banyak bertebaran di Aceh, Negeri 1001 Warung kopi. Bedanya adalah pada suasananya yang bernuansa kokpit pesawat jenis Dakota dengan Nomor Sayap RI-001 Seulawah. Masyarakat Indonesia dan Aceh pada khususnya tentu tidak asing lagi dengan pesawat yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya maskapai komersial pertama di tanah air ini.

Sejarah kemudian mencatat, Pesawat RI-001 seulawah yang menjadi pesawat angkut pertama di tanah air ini berhasil membuka jalur penerbangan jawa- sumatera bahkan hingga keluar negeri dalam rangka perjuangan berdirinya republik. Atas jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, Aceh kemudian dijuluki sebagai “daerah modal” sebagai penghargaan atas patriorisme rakyat Aceh dalam perjuangan berdirinya republik Indonesia. Tak pelak suasana warkop dengan setting Pesawat 001 Seulawah ini kemudian membawa ingatan saya kepada Aceh.

Kembalinya Sang Mantan Pilot

Tepat pada 5 Juli 2017, Aceh memiliki “Pilot” baru dalam rangka membawa Aceh lepas landas dari ketertinggalan di segala lini. Sang pilot dapat dikatakan sebenarnya bukanlah seorang yang asing dalam dunia penerbangan politik Aceh. Lebih tepatnya, seorang mantan pilot yang dulunya pernah menyupiri Aceh selama lebih kurang lima tahun dari rentang 2006 s.d 2011.

Mantan “Pilot Aceh” yang kembali dipercaya rakyat Aceh untuk mengendalikan Aceh ini tak lain adalah Capt. Irwandi Yusuf dengan Co Pilot Nova Iriansyah. Kebetulan sang mantan “pilot Aceh” ini benar benar dapat menerbangkan pesawat bermesin tunggal dengan kriteria single enggine land seperti pesawat dengan badan kecil, pesawat latih hingga pesawat jet tempur.
pengalamannya untuk urusan menerbangkan Aceh dinilai banyak pihak masih sangat layak untuk lima tahun mendatang. karenanya ia kembali dipilih secara demokratis oleh rakyat Aceh menggantikan pilot sebelumnya yang dinilai sudah uzur dan kerap oleng menghadapi turbulensi di udara. Situasi demikian kemudian turut mempengaruhi peluang sang mantan pilot untuk untuk kembali duduk di kokpit menjadi pilot Aceh 1.

Di sisi lain, kondisi pesawat Aceh hari ini berbeda jauh dengan kondisi tahun 2006 ketika sang mantan pilot pertama kali menerbangkan Aceh. bedanya adalah, kali ini sang pilot selain ditemani oleh Co Pilot baru, pesawat murni di kendalikan tanpa adanya asistensi pihak luar semasa dulu ia menjadi pilot Aceh dari Jalur independen. Ketika 2006 dan akhir masa pemerintahanya, pesawat Aceh relatif terbang lancar di udara ekses bantuan berbagai pihak baik dalam dan luar negeri. Ada yang membantu dari segi mesin, bahan bakar pesawat, hingga kru dan pramugari. Kondisi hari ini, praktis sang mantan pilot harus menerbangkan pesawat sendiri dengan co pilot baru tanpa adanya segala asistensi yang dulu dinikmati. Modal kali ini hanyalah berupa bahan bakar pesawat yang disediakan selama lima tahun dalam kemasan paket dana otsus. Urusan pengendalian pesawat, manajemen hingga kru maskapai sepenuhnya menjadi tanggungjawab pilot dan co pilot.
Namun sejauh mana pasangan pilot dan co pilot Aceh baru ini mampu menerbangkan pesawat Aceh yang bermesin ganda dengan segala kompleksitas kendali ditambah dengan turbulensi yang kerap terjadi di udara?

Empat Ancaman Penerbangan Aceh
Sedikitnya ada 4 (empat) ancaman yang dapat menjadi gangguan yang kelak akan dihadapi pilot Aceh 1 dalam jadwal penerbangan Aceh lima tahun mendatang. Yaitu delay, turbulensi di udara, penumpang gelap dan hilangnya pesawat dari radar. empat problem itu harus diwaspadai disamping problem lain seperti manajemen birokrasi penerbangan.

Pertama, jadwal penerbangan yang kerap delay (terlambat). Selama ini Delay anggaran alias keterlambatan pengesahan APBA menjadi masalah klasik yang kerap tak kunjung tuntas. Problem ini selalu terjadi saban tahun. ekses dari delaynya APBA, menyebabkan jadwal keberangkatan masyarakat Aceh menuju negeri adil makmur menjadi terkatung katung. Hal ini kemudian berefek pada perputaran ekonomi dan kesejahteraan rakyat Aceh. Sudah tidak terhitung warning dari pemerintah pusat kepada maskapai Aceh. Namun pihak maskapai Aceh hingga kini belum memiliki rumus jitu untuk mengakhiri kutukan delay anggaran yang kerap terjadi saban tahun. Apabila delay ini terus terjadi di masa Irwandi -Nova. Pada akhirnya akan mempengaruhi citra pilot dan maskapai Aceh secara keseluruhan.

Kedua, Turbulensi di udara. Pilot yang baik harus mampu menghindari turbulensi alias goncangan di udara. Sedapat mungkin hindari “awan awan hitam” didepan yang mempengaruhi kenyamanan penumpang. Awan awan hitam itu dapat berupa kebijakan program tidak jelas sehingga menyebabkan pemborosan anggaran serta tidak membawa dampak nyata bagi kesejahteraan rakyat Aceh. terlebih dengan bobot anggaran otsus yang besar, menyebabkan pesawat Aceh juga semakin besar efek turbulensinya. Disinilah diperlukan kecermatan pilot dalam membaca alat accelerometer alias Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Aceh sebagai panduan menghindari jebakan turbulensi. Salah membaca petunjuk, bukan hanya turbulensi yang dihadapi pesawat tapi juga resiko pesawat tidak bisa dikendalikan yang berujung pada jatuhnya pesawat.
Ketiga, penumpang Gelap. Kemenangan irwandi nova dalam Pilkada 2017 menyebabkan resiko kehadiran penumpang gelap yang menyelinap ke dalam pesawat Aceh 1. Kehadiran penumpang ilegal ini tidak hanya menjadi momok bagi penumpang lain, tapi juga berbahaya bagi penerbangan Aceh menuju negeri harapan. Selain pesawat akan kelebihan beban, bukan tidak mungkin selanjutnya penumpang gelap ini justru mengambil alih kendali pilot di kokpit. Walhasi arah pesawat melenceng dari semula. Disinilah Pilot harus berkordinasi dengan timnya untuk memastikan bahwa tidak ada penumpang gelap yang berpotensi melakukan pembajakan di pesawat hingga mengklaim pesawat adalah miliknya dan kelompoknya.

Keempat, hilangnya pesawat dari radar. Resiko hilangnya pesawat dari radar tidak hanya berbahaya bagi keselamatan pilot namun juga menjadi ancaman terhadap jiwa masyarakat Aceh. Resiko ini hadir ekses dari manuver pilot yang keluar jalur alias melenceng dari arah tujuan. Oleh karena Komunikasi dengan pemerintah pusat sebagai pengatur lalu lintas bandara di udara harus senantiasa terjalin dalam rangka sinkronisasi program dan kebijakan antara pemerintah Aceh dan Pemerintah pusat. Apabila komunikasi minim bahkan nyaris putus. Akan terjadi kekacauan di udara yang menyebabkan resiko pesawat Aceh bertabrakan dengan pesawat lain yang dikendalikan oleh Pemerintah Kabupaten Kota. Akan terjadi kekacauan penerbangan apabila Pemerintah Aceh dan Kabupaten Kota tidak berjalan di jalur masing masing yang telah ditetapkan ekses miskomunikasi dengan menara lalu lintas bandara. Sedapat mungkin hindari berkonflik dengan pemerintah pusat sebagai pengatur lalu lintas pemerintahan Indonesia. Apabila pesawat Aceh hilang jejak dari radar, bukan tidak mungkin akan bernasib naas sebagaimana pesawat MH370 asal Malaysia.

Kekompakan Pilot dan Co Pilot, Kunci Kesuksesan Penerbangan

Banyak pihak menilai kemenangan Capt. Irwandi Yusuf dan Co Pilot Nova Iriansyah dalam kontes demokrasi pada Pilkada Aceh 2017 adalah kemenangan fenomenal. Irwandi, yang memang dikenal hobi menerbangkan pesawat ini, berhasil melakukan manuver yang kemudian menyalip kemenangan kandidat lainnya. Termasuk kandidat petahana yang banyak pihak menilai di atas kertas memiliki artileri, amunisi dan logistik yang lebih lengkap dari sang mantan pilot.
Namun di detik detik terakhir, publik menyaksikan kepiawan pilot senior ini dalam menyusuri garis finish yang kemudian berbuah manis, Irwandi bersama Nova berhasil menjadi jawara dengan meraup suara lebih kurang sebanyak 898.710 suara. Meski dibumbui dengan drama perselisihan suara, namun pada akhirnya palu keputusan MK mengukuhkan manuver Capt. Irwandi dan co pilot Nova sebagai jawara Pentas demokrasi Aceh di Tahun 2017.

Terlepas dari keberhasilan duduk kembali di kokpit Aceh 1. Harus disadari akan sangat banyak tantangan dan hambatan ke depan dalam menerbangkan Aceh. Terlebih situasi dan kondisi udara Aceh saat ini berbeda ketika Aceh baru pulih dari masa konflik dan bencana tsunami.Oleh karena itu, dibutuhkan kekompakan antara Pilot Capt. Irwandi Yusuf dengan Co pilot Nova Iriansyah dalam menerbangkan pesawat Aceh untuk lepas landas menuju negeri Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur, Negeri subur, adil, Makmur dan Aman. Selamat bertugas kapten! [ ] ***

KOMENTAR FACEBOOK