Editorial: Inilah Saatnya Berubah

Aceh sudah punya kepala pemerintahan baru, yaitu Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah (Irnov). Keduanya sudah dilantik oleh Mentri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, Rabu (5/7) kemarin. Pasangan pemenang pilkada 2017 yang pelantikannya disambut antusias rakyat Aceh itu juga sempat disalami oleh Presiden RI, Joko Widodo.

Antusiasme rakyat dan salaman Jokowi itu mengandung dua hal. Pertama, antusiasme menjadi pertanda tingginya harapan dan tuntutan rakyat terhadap pemimpin baru Aceh. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Irnov untuk mewujudkan standar pelayanan publik yang tinggi atau lebih baik dari apa yang sudah pernah mereka dapati selama ini.

Kedua, kehadiran Jokowi seperti menjadi isyarat bahwa pusat siap mendukung upaya pemerintah Aceh untuk mewujudkan standar pelayanan publik yang lebih baik untuk rakyat di Aceh. Artinya, apapun kerja pemerintah Aceh, asal itu menjamin terwujudnya pelayanan publik yang lebih baik, pusat siap untuk memberi dukungan, baik dari sisi regulasi, kelembagaan, maupun anggaran.
Kondisi ini mengharuskan Irnov untuk melakukan re-thingking terhadap posisi pusat. Jika sejak konflik bahkan paska damai, pusat kerap ditempatkan pada posisi penghalang, maka dengan kehadiran Jokowi, pusat seperti memberi isyarat dukungan total untuk memajukan Aceh, dan kuncinya ada pada pemimpin di Aceh.

Maka, Irnov untuk masa lima tahun ini benar-benar berada dalam kepungan satu pilihan, tidak ada pilihan lain. Satu pilihan itu adalah berkerja untuk sungguh-sungguh mewujudkan pelayanan publik yang prima, tidak bisa sekedar pelayanan publik yang ecek-ecek alias apa adanya.

Berbeda jika harapan dan tuntutan publik rendah, pelayanan publik yang sedikit saja lebih baik sudah mendatangkan kepuasan. Sebaliknya, jika harapan dan tuntutan tinggi maka mau tidak mau mesti mewujudkan pelayanan publik yang prima.

Tanda-tanda pelayanan publik yang prima itu memang sudah mulai terlihat, meski baru sebatas komitmen. Misalnya, Irwandi akan membebaskan rakyat dari segala urusan jika hendak berobat, sebab pemerintahlah yang bertugas mengurus kelengkapan administrasinya. Jadi, rakyat dengan identitasnya sudah wajib dilayani dengan baik.

Kesediaan Irwandi untuk membangun Aceh berlandaskan Islam juga mengharuskan adanya pelayanan publik yang hebat, sebab barangsiapa memudahkan urusan orang lain, dan barangsiapa membantu orang lain, maka Allah akan memudahkan urusannya, di dunia dan di akhirat.

Jadi, penegasan Irwandi – Nova tentang Aceh Hebat adalah gambaran masa depan Aceh yang serba prima dalam pelayanan publik. Jika ini terwujud maka makna hakikat dari kemerdekaan sudah terwujud. Bukankah kehendak untuk merdeka itu karena kita percaya bahwa kita mampu menjadi yang terbaik dari yang lain? Dalam keyakinan agama, Islam jelas menawarkan standar terbaik, standar prima, dan standar hebat.

Aceh hari ini mulai berkerja dengan modal besar berupa kepercayaan rakyat, tekad gubernur dan wakil gubernur terpilih untuk mewujudkan Aceh Hebat dan kode dukungan pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Tinggal lagi, kesediaan pemerintah dan pendukungnya untuk berkerja hebat. Bersedia? Maukah meninggalkan budaya cok laba keudroe selagi berkuasa? Mari menegaskan diri, inilah saatnya berkerja, bergerak dan berubah!

KOMENTAR FACEBOOK