Menggagas Abdya Award

Demokrasi adalah proses dimana orang orang memilih seseorang yang kelak akan mereka salahkan. Kalimat di atas adalah kutipan dari Bertrand Russel dari Inggris (1872-1970) seorang filsuf, ahli matematika dan peraih Nobel Sastra.

Kalimat yang menemukan makna sebenarnya dalam demokrasi saat ini, dimana kebijakan dari pimpinan saat berkuasa punya cenderung untuk bias dari arah perencanaan, terlepas dari banyak faktor penyebabnya namun satu hal yang selalu membekas adalah kesalahan baik bernuansa politik dan motif lainnya akan menjadi boomerang dan menjatuhkan kredibilitas figur pemimpin sendiri. Manusiawi.

Sifat manusialah yang memberi legimitasi akan semua kesalahan, pembenaran dan pengakuan, sementara harapan adalah perjuangan yang harus diteruskan sebagai penguatan terhadap mimpi perubahan.

Sejalan dengan ini secara pribadi dan komunitas, kita sama sama perlu arah jalan yang jelas dan tentu perlu pemimpin rakyat yang visi dan misi dalam menempuh perjalanan yang bisa kita rencanakan, prediksikan tapi tidak dengan ketentuan hasil.

Secara umur manusia, pemerintahan Kabupaten Aceh Barat Daya yang disebut Abdya adalah usia remaja yang beranjak dewasa, usia 15 tahun adalah usia pencarian jati diri dan pengakuan serta penghargaan sebagai pembuktian bahwasanya sukses adalah hasil perbuatan yang bermamfaat bagi orang banyak dan sebuah kebanggaan.

Dalam konteks inilah seharusnya kita bangga terhadap beberapa penghargaan dari berbagai lembaga, Abdya mendapat award kabupaten peduli HAM Tahun 2015 dari Kementerian Hukum dan HAM, Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia tahun 2015 dan 2016 atas Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD). Akhir Tahun 2016 Abdya memperoleh penghargaan Eliminasi Malaria dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Di awal Maret 2017 mendapat Anugerah Literasi Prioritas dari Kemendikbud dan anugerah Prof A. Majid Ibrahim sebagai daerah dengan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Terbaik dari Provinsi Aceh. (acehbaratdayakab.go.id).

Secara personal banyak tokoh yang telah berjuang dan berkorban dalam menginisiasi lahirnya kabupaten Abdya, sampai mereka yang mampu mengharumkan daerah dengan prestasinya. Banyak komunitas yang berdiri, berganti nama dan makin bermunculan memberi warna tersendiri sebagai kekuatan sosial baru. Banyak yang punya kualitas dan memberi mamfaat untuk masyarakat Abdya khususnya.

Dari sudut personal dan komunitas inilah, kita mencoba meninjau bahwasanya ada ketentuan yang harus dipenuhi agar kita tidak latah dalam memberi gelar ketokohan pada seseorang dalam masyarakat, tokoh bukan hanya sekedar populer, gelar mentereng dan jabatan strategis, dan untuk sebuah komunitas bukan hanya dinilai secara kuantitatif karena memiliki jumlah anggota yang tersebar dan banyak. Prasyarat utama adalah nilai kualitatif dari personal dan Komunitas itu sendiri, sehingga ianya memberi dampak kebaikan yang luas serta bermamfaat terhadap orang banyak.

Di usia Abdya yang beranjak dewasa dalam bidang politik, ekonomi kerakyatan dan pengembangan wilayah, pihak berkompeten baik pemerintah daerah sendiri maupun dari badan usaha yang ada bahkan tidak tertutup kemungkinan dari partai politik dapat memberi perhatian dan kepedulian terhadap personal dan komunitas yang semakin dinamis dalam pergerakannya. Sehingga menggagas Abdya Award sudah semestinya ada sebagai salah satu wujud kepedulian daerah dengan memberikan reward terhadap rakyatnya.

Reward sendiri secara positif akan menumbuhkan rasa kompetitif secara sehat dan meningkatkan kreatifitas untuk lebih menggali potensi pengembangan terhadap sektor yang belum dirambah, baik secara personal maupun komunitas. Secara lebih jauh reward diharapkan mampu melahirkan bentuk kegiatan kegiatan nirlaba maupun bisnis baru yang secara tidak langsung memberi mamfaat terhadap orang banyak.
Abdya Award sendiri secara teknis, harus mempunyai konsensus pada pemilihan kategori, kriteria dan cara penilaian sehingga mampu menimalisir konflik.

Abdya Award adalah sebuah reward yang tidak perlu di barengi dengan punishment terhadap mereka mereka yang beroposisi karena politik, kajian kelayakan penerima award sebuah adalah kewajaran dalam melihat sisi mamfaat dan mudharat serta perbedaan sudut pandang, sehingga diharapkan objektivitas lebih dikedepankan demi kemashalatan bersama, karena subjektivitas hanya melahirkan Pro dan Kontra terhadap Abdya Award itu sendiri.

Manfaat minimal dari Abdya Award sendiri yang dapat diperoleh adalah masyarakat khususnya generasi muda Aceh Barat Daya akan lebih termotivasi untuk berbuat untuk daerahnya serta tidak mudah lupa pada sejarah, entitas budaya dan profil tokoh Aceh Barat Daya sendiri.

Wallahu A`lam Bishawab.

KOMENTAR FACEBOOK