Cambuk

Kedua pergelangan tangannya terborgol, terbelenggu cincin-cincin besi, terkait di sepotong pohon yang sudah dipotong seukuran pinggang sebagai tonggak. Tubuhnya tidak berlapis pakaian, hanya bawahnya yang tertutup, dan itupun sebatas paha.

Dua lictor atau algojo berbadan tegap mengayunkan flagra ke arah tubuh dan paha lelaki itu, mungkin dengan rotan, entah berapa kali. Kemudian diganti dengan alat cambuk lainnya, tanpak memiliki cakar dan mungkin terbuat dari besi. Sadis!

Orang-orang ramai menyaksikan dengan wajah ngeri, sedih, dan ada pula yang menutup mata. Wajah yang dicambuk seperti menggigit seluruh kekuatan, mungkin untuk menahan deraan sakit yang menimpa, darah terlihat dari luka yang ditimbulkan oleh cambuk yang datang begitu kuat, berkali-kali. Ketika ia terjatuh, tangannya terlihat bergetar, bisa jadi karena sakit yang tiada terperi.

Begitulah sepenggal kisah dalam film The Passion of The Crist, dan lelaki yang dicambuk itu mereka sebut Yesus. Film ini, barangkali semacam penggambaran betapa kejamnya cambuk yang berlaku di zaman Romawi, dibawah perintah gubernur Roma, Pilatus.

***

Cambuk sebagai hukuman, tidak hanya dikenal jejaknya di zaman Romawi, di zaman Nabi Muhammad SAW juga ada. Dan, di zaman ini pula kita bisa menangkap spirit transformasi hukuman yang dilakukan oleh Nabi.

Nabi, bukan hanya menghilangkan sisi kemudharatan dari pelaksanaan cambuk dengan mengganti alat dan cara cambuk tapi juga membuat posisi hukuman menjadi kondisional dan fleksibel. Dalam konteks yang lebih luas, posisi hukum selalu disertai tawaran pemaafan dan perdamaian. Bahkan, yang lebih tinggi lagi, tersedianya pintu taubat, bahkan hingga dipenghujung nafas.

Kehadiran Islam, dalam posisinya yang juga mengatur soal hukuman, juga menawarkan usaha-usaha yang sifatnya preventif, sekalipun bagi si tersalah, seperti untuk menutup aib, tidak mengumumkan kesalahan yang sudah dilakukannya, bahkan tidak berprasangka serta mencari-cari kesalahan orang lain dan mempergunjingkannya.

Dalam hal pembuktian juga menghadirkan syarat yang berat, seperti pengakuan, bukan kesaksian, dan jikapun ada saksi, syaratnya juga berat, empat saksi dewasa yang melihat seperti melihat matahari terbenam di ufuk barat, dan hukuman kepada si penuduh. Beratnya syarat menempatkan betapa menjaga kehormatan seseorang lebih utama daripada merusaknya.

Luar biasa Allah Swt membentangkan jalan hidup bagi manusia melalui jalan Islam. Pesan dan gerakan kenabian untuk memanusiakan manusia sebagai hamba yang dipenuhi kasih sayang sebagai citra kehormatan yang tinggi tentu tidak boleh berhenti. Era kenabian memang sudah ditutup oleh Nabi Muhammad SAW, tapi pesan nabi yang mengandung perbaikan, harus terus menerus dilakukan, sebab itulah alasan spiritual untuk kembali kepadaNya. Sekiranya di alam kubur ada pertanyaan, apa yang telah kamu lakukan sebagai wujud ketaatan kepada pesan kenabian, masing-masing kita akan menjawab upaya hijrah dan jihad perubahan, sesuai ikhtiar maksimal kita masing-masing.

***

Dalam konteks Aceh, saya ingin pemerintah Aceh untuk memperbesar porsi pendekatan Gerakan Taubat Nasuha (GTN). GTN sewajarnya dipelopori dan diawali oleh penyelenggara pemerintahan, untuk kemudian diikuti oleh lainnya, termasuk rakyat.

GTN berupa meninggalkan seluruh kejahatan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Tidak ada lagi yang namanya korupsi, serta kejahatan lainnya yang merugikan rakyat dan daerah. Jika GTN ini dilakukan, otomatis perubahan akan terjadi, dan kesejahteraan akan menyapa rakyat berkat pemerintahan yang melayani.

Secara bersamaan, GTN juga dilakukan oleh segenap lapisan lainnya, seperti oleh DPRA, lembaga yudikatif dan lembaga – badan lainnya, tidak boleh lagi melakukan kejahatan yang merugikan rakyat dan daerah. Pejabat pemerintah, wakil rakyat, penegak hukum, lembaga lainnya yang dibiayai uang rakyat-negara mesti “dicambuk” agar menjauh dari perilaku curang, jahil dan jahat. Sistem dan aturan yang memungkinkan untuk mencuri “dipotong” agar tangan-tangan penyelenggara tidak bisa lagi sampai untuk mencuri. Dan ketika perubahan wujud, kesejahteraan hadir, keadilan tegak, tapi tetap saja melakukan kejahatan, padahal sudah tidak ada lagi alasan untuk melakukannya, maka hukuman bagi perusak tata kelola yang islami itu ditegakkan, istilahlah nyo brat tat batat, seunut keudeh.[]

KOMENTAR FACEBOOK