Nafas Kami Krueng Baroe

Oleh: Irwandi Zakaria

Rasanya baru kemarin
Kami bisa berlari dipagi hari
Menarik daun pinang menangkap udang
Memasukkan tangan dalam bambu busuk mengambil anak ikan
Melempar batu mengambil ikan terperangkap madrong
Memasang bube mengapit anaknya
Memasang plong mengeruk udang

Rasanya baru kemarin
Kami bernafas dalam air bersama kedalaman lhok
Sambil mengembangkan kain sarung lalu membulatkannya
Atau berlari dari pinggir tebing sungai bersalto dalam air
Saling berkejaran mengambil batu dalam pekatnya sungai Krueng Baroe

Rasanya baru kemarin kami menikmati itu semua
Kini sungai kami adalah palung palung menakutkan
Buat anak-anak masa depan kami
Jalan-jalannya adalah kepulan asap bagi kebun, rumah dan anak-anak kami
Tak lupa pula sungai kami kini adalah titi panjang bangunan popok bayi
Kami kini terasing dari sungai Krueng Baroe
Tempat kami bernafas, lahir dan dibesarkan

Rasa nya juga baru kemarin kami diajarkan
Sungai-sungai dimuliakan di semua peradaban besar
Dari Nil, Gangga sampai Amazon di Amerika
Itu sebagian saja yang bisa kusebutkan wahai sahabat
Masihkah engkau diam?

Rasa nya baru kemarin kita dipimpin dari sungai tiro
Kini berganti ke sungai krueng baro
Dihulu Kumulai dari wakil dan Dihilir ada bupati
Rasanya aku tak perlu ajarkan tentang sungai pada mereka
Dengan selogan Gle, Blang Laot
Mereka sudah sangat paham
Ada sungai di antara Blang, Dipinggir Gle

Rasanya baru Kemarin aku berkata
Kalau kau masih tak peduli
Sungguh peradaban ini akan berhenti
Karena sungai adalah sumber hidup kita dan anak cucu
Bila engkau tak mulai menjaganya lalu siapa lagi

Mila, Pinggir Sungai Krueng Baroe 16 Juli 2017

KOMENTAR FACEBOOK