Pekerjaan Rumah untuk Eagle One

Tampil untuk ketiga kali di pentas Pilkada Aceh, Irwandi Yusuf–yang membonceng Nova Iriansyah– datang sebagai pemenang di hati publik. Walau gagasan pembangunan yang dibawa tidak sementereng konsep Tarmizi A. Karim dan Abdullah Puteh, Teungku Agam menang secara isu keacehan. JKA dan beasiswa miskin menjadi andalan lelaki asal Gampong Sagoe, Peusangan.

Irwandi tidak menang oleh kerja keras relawan, tidak juga oleh struktur Partai Nasional Aceh (PNA) yang ia dirikan. Kedua simpul politik itu hanya sebagai simbol atas partisipasi rakyat secara kolektif serta jasa kandidat lain seperti Zakaria Saman, Zaini Abdullah, dan Tarmizi Karim yang berhasil mencuri perhatian barisan yang sebelumnya bersetia dengan Muzakkir Manaf sebagai Ketua DPA Partai Aceh. Kemenangan Irwandi adalah kerja kolektif Bangsa Aceh.

Suara-suara tidak menghargai orang lain sudah mulai bermunculan di lapangan. Relawan A merasa lebih berjasa dari si B. Si C yang dulunya berbeda pandangan, kemudian ditolak sebagai bagian dari tim pemenangan. Lawan-lawan politik yang pelan-pelan dirangkul oleh Irwandi, dianggap sebagai duri dalam daging yang kelak dapat menistakan sumbangsih para relawan. Hal ini diperparah oleh orang sekeliling Irwandi yang juga sudah mulai nakal dengan saling geser antara satu dengan lainnya.

Perilaku jumoh (rakus-red) sudah mulai diperlihatkan, remah kekuasaan memang sangat menarik.

bahwa Irwandi diterima oleh semua golongan, adalah fakta, tapi bahwa Irwandi sedang memikul beban berat, juga sebuah fakta. Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf, mewariskan Aceh kepada sang pilot Eagle One, dalam kondisi piatu. Terpuruk di tengah kekayaan. Miskin di tengah banyaknya harta warisan.

Data terbaru yang dirilis IDeAS bahwa periode Maret 2017 jumlah penduduk miskin di Aceh mencapai 872 ribu orang, dan ini disebut bertambah sebesar 31 ribu orang dibandingkan kondisi September 2016 yaitu 841 ribu orang. Persentase tingkat kemiskinan Aceh sebesar 16,89 persen, naik 0,46 persen dibanding kondisi September 2016 sebesar 16,43 persen. Secara nasional, jumlah pengangguran mencapai 27,77 juta orang atau 10,64 persen.

Lebih lanjut diuraikan, dari 10 provinsi di Sumatera, Aceh adalah provinsi yang memiliki APBD tertinggi, namun berbanding terbalik dengan kondisi kemiskinan dan pengangguran yang masih merupakan provinsi termiskin serta pengangguran tertinggi di Sumatera.

Dikutip dari Serambi Indonesia, Ada 22.033 kasus warga Aceh yang umumnya dalam usia produktif mempunyai masalah dengan kejiwaan, mulai dari skala ringan sampai berat. Mereka tersebar di berbagai kabupaten/kota di Aceh. Jika di tahun 2012 Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) tersebut tercatat mencapai 16.892 kasus, di tahun 2016 meningkat menjadi 22.033 kasus.

Dari 22.033 kasus ODMK se-Aceh di tahun 2016, Pidie merupakan penyumbang terbanyak, mencapai 2.820 kasus. Sedangkan Kabupaten Bireuen berada di urutan dua, dengan jumlah ODMK mencapai 2.586 kasus.

Hal ini diperparah oleh angka pengangguran yang tinggi, penyalahgunaan dan peredaran narkoba yang kian mencemaskan, serta kejahatan para cukong yang bekerjasama dengan birokrat, mematikan usaha eksport dan import di Aceh.

Melihat ragam persoalan Aceh, Irwandi sejatinya tidak akan sempat punya waktu untuk berleha-leha. Bahkan dia tidak akan sempat “mengganti baju” untuk kerja-kerja menanggulangi persoalan Aceh. Semua konsep Aceh Hebat yang dibalut dalam ragam program, tidak akan berjalan seperti yang dicita-citakan, bila Irwandi tenggelam dalam persoalan remeh-temeh semisal berbagi kue pembangunan untuk lingkar pinggang semata.

Teungku H. Muhammad Yusuf A. Wahab, yang merupakan ulama energik di Aceh, pernah mengatakan bahwa, sejatinya Irwandi tidak lagi memiliki beban politik yang sangat kentara dalam hal pilkada. Karena ini merupakan kali terakhir Sang Kapten dapat memimpin Aceh. di Periode selanjutnya aturan telah membatasi bahwa ia takkan mungkin maju lagi.

Untuk itu, lelaki yang akrab disapa Tu Sop itu berpesan, Irwandi dapat leluasa berkarya membangun Aceh. Ia harus mengarsiteki fondasi Aceh yang kuat. Tidak perlu sempurna, karena tidak mudah membangun dalam durasi lima tahun. Tapi setidaknya ia sudah harus memperkuat fondasi pembangunan. Irwandi sudah harus keluar dari model pembangunan yang bersifat mercusuar. Aceh butuh pemimpin yang ikhlas mendirikan fondasi bangsa yang kuat. tanpa itu, pembangunan yang dilakukan, hanya akan menghabiskan energi semata.

“Banyak pekerjaan rumah yang ditinggalkan oleh rezim sebelumnya. Angka kemiskinan, pembangunan yang belum terlihat berarah kemana? Tumpang tindih kewenangan, kontroling yang lemah, praktik tidak jujur dalam membangun, semua itu harus diselesaikan. Irwandi punya kesempatan, karena ke depan ia tidak punya peluang untuk maju kembali sebagai Gubernur Aceh. Aturan membatasi itu. Irwandi harus berani tidak populis di masa kini, tapi meninggalkan efek positif bagi pembangunan Aceh di masa depan,” kata Tu Sop.

Lalu, apakah Irwandi akan menempuh jalan tidak popular, atau terjebak dalam lingkar kekuasaan yang tidak kunjung selesai dengan ragam kepentingan sesaat, yang akhirnya menjerumuskan Aceh ke dalam lubang kekalahan? Hanya waktu yang bisa menjawab.

KOMENTAR FACEBOOK