Kebakaran, Ancaman Serius yang Mengintai Aceh

ACEHTREND.CO,Banda Aceh- Sepanjang 2017 Aceh mengalami grafik peningkatan kebakaran.Tingginya peristiwa kebakaran dalam tahun ini harus menjadi kewaspadaan masyarakat dan mendapat perhatian sangat serius dari pemerintah.
Hal ini disampaikan oleh Koordinator Bidang Advokasi dan Peningkatan Kesadaran Publik,Forum Pengurangan Resiko Bencana Aceh,Zulfikar Muhammad.

Dalam rilisnya kepada aceHTrend, Jumat (21/7/2017) Zulfikar mengatakan, strategi dan prioritas dari pemerintah Aceh dan Kabupaten/kota terhadap pencegahan dan penanggulangan bencana kebakaran merupakan instrumen sangat dibutuhkan masyarakat untuk menilai kemampuan pemerintah dalam mehadirkan keamanan dan kenyamanan bagi rakyatnya.

“Dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik, institusi kebakaran telah berusaha dalam menjalankan fungsinya untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara cepat dan efektif. Namun strategi yang sudah berjalan saat ini belum mampu menjawab tantatangan lapangan, bahwa belum ada jaminan berkurangnya dampak akibat bencana kebakaran yang telah membuat kerugian materil dan jiwa masyarakat. Terutama di area pasar tradisional yang ruwet penataan ruangnya, gedung yang bertingkat, kompleks pertokoan/mall, bangunan rumah sakit, gudang farmasi dan sulitnya ketersediaan air akibat kemarau di permukiman padat non permanen,” ujar Zulfikar.

Ia melanjutkan, sangat mengerikan jika hal tersebut terjadi, sebagai contoh kasus 76 unit ruko kontruksi kayu terbakar habis di Kecamatan Kluet Utara Kabupaten Aceh Selatan, 18 Unit Rumah penduduk Kecamatan Kota Juang Kabupaten Bireuen, kebakaran hutan dan lahan perkebunan yang mengakibatkan gangguan pernafasan penduduk serta dalam bulan juli 2017 ini 12 ruang belajar dayah samahani Kabupaten aceh Besar terbakar.

“Kita sangat prihatin situasi akhir di Aceh terkesan pemerintah “cuek” terhadap aspek proteksi kebakaran yang menjadi kebutuhan masyarakat dengan mengabaikan urgensi manajemen proteksi kebakaran pada permukiman,” katanya.

Pencegahan dan penanggulangan bencana kebakaran bukan tanggung jawab pemadam kebakaran saja, namun harus melibatkan semua sektor lembaga publik lainnya terutama pemerintahan gampong.

Dari data berhasil diindentifikasi oleh FPRB Aceh, penyebab tingginya angka peristiwa bencana kebaran yang terjadi di Aceh dalam tahun 2017 adalah pengaruh cuaca panas akibat musim kemarau,peralatan rumah tangga seperti kompor, instalasi listrik, membakar sampah sembarangan, pemukiman padat yang tidak responsif/sensitif terhadap potensi kebakaran.

Melihat kondisi tersebut sangat dibutuhkan kesadaran semua pihak sebagaimana diatur Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 20 Tahun 2009 tentang Pedoman Teknis Manajemen Proteksi Kebakaran di Perkotaan, perlu dibentuk Sistem Keamanan Kebakaran Lingkungan (SKKL) sebagai wujud peran serta masyarakat dalam bidang proteksi kebakaran. SKKL merupakan model pendayagunaan seluruh potensi masyarakat secara sukarela dan bersifat mandiri dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran yang meliputi : Satuan Relawan Kebakaran (Satlakar) serta Forum Komunikasi dan Masyarakat Profesi. Pemeritah Aceh dan Kabupaten/Kota harus memegang kendali utama untuk menarik keterlibatan semua pihak termasuk andil Perusahaan Listrik Negara supaya jangan terkesan berpangku tangan melihat bencana kebaran di Aceh, Pemerintah Gampong harus kembali menggalakkan budaya gotong royong sehingga masing-masing mempunyai peranan yang sangat penting dalam hal upaya untuk membantu tugas Institusi Kebakaran.

Guna mengatasi masalah penanggulangan bencana kebakaran seperti terlambatnya laporan masyarakat, lokasi petugas kebakaran yang jauh dengan tempat kejadian, kemacetan lalu lintas, habatan mobil pemadam berupa kabel listrik, kabel telpon, polisi tidur, sempitnya jalan, ramainya masyarakat yang lebih memilih menonton kebakaran dibanding turut serta membantu pemadaman api. Dapat diatasi dengan lebih baik ke depan.

Catatan FPRB :
– Sebaran kebakaran di Aceh dalam 7 bulan terakhir tahun 2017 adatara lain: Banda Aceh, Aceh besar, Bireuen, Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Tengah, Aceh selatan

– Lebih 300 unit bangunan dan lahan masyarakat terbakar terdiri dari Pertokoan,pemukiman warga, lembaga pendidikan, perbankan dan kawasan hutan.

– Taksiran kerugian masyarakat lebih kurang 450 milyar.

KOMENTAR FACEBOOK