Fauzul dan Fazlina, Bocah Tangguh Lembah Seulawah

ACEHTREND.CO,Banda Aceh- Tiba di tikungan yang menanjak, laju sepeda motor matic harus saya hentikan. Dua bocah berseragam SD, dengan tanpa sungkan melambai tangan, minta tumpangan.

Begitu saya berhenti, keduanya langsung naik ke atas sepeda motor saya. Gadis cilik berjilbab segera ambil posisi tepat di belakang punggung saya. Ia mengangkang. Sedangkan yang laki-laki, duduk di bagian paling belakang. Melihat keberanian mereka–walau minim attitude– membuat saya jadi tergoda untuk menggoda.

“Oke, boleh naik, tapi kita foto dulu,” kata saya.

Bocah perempuan itu tersenyum. Sedangkan yang laki-laki nyaris tanpa ekspresi. Wajahnya datar dengan bibir pucat, mungkin ia kedinginan. Udara pagi pukul 07.00 WIB, di hutan Pinus yang mulai sangat rusak, sepertinya membuat bocah lelaki berkulit gelap itu, gagal untuk beramah tamah. Saya sendiri, walau berbalut jaket, masih merasakan dingin sampai ke tulang.

“Nama kalian siapa dan kelas berapa?” Saya bertanya.

“Saya Fauzul, kelas enam ”

“Saya Fazlina, kelas dua.”

Perbincangan ringan itu berjalan begitu saja. Keduanya tak memiliki sepeda. Biasanya diantar oleh ayah. Tapi sudah beberapa hari motornya rusak. “Soal menyetop minta tumpangan kami sudah sering,” kata Fauzul.

“Kenapa tak bersepeda saja, seperti mereka,” kata saya begitu melihat dua bocah SD mendayung sepeda.

“Kami tak punya sepeda,” jawab Fauzul.

“Kalian sudah makan pagi?,” tanya saya.

“Belum. Kami sudah biasa tak makan pagi,” jawab Faizul.

“Nanti kami beli nasi di sekolah,” timpal Fazlina.

“Tak takut kalian bila saya jual nanti?” Kata saya menggoda.

Fazlina terdengar tertawa kecil. Fauzul tak menjawab. Dari spion saya melihat bila lelaki itu seperti memasang daya proteksi, walau tak panik. Tidak lama kemudian, mereka pun sampai.

“Kami sudah sampai, makasih ya Pak,” kata keduanya.

Saya tersenyum, kemudian tancap gas menuju kampung halaman.

Saree, Aceh Besar, Rabu 25/7/2017).

Sebuah catatan ringan.

KOMENTAR FACEBOOK