Yayasan Geutanyoe Minta Indonesia dan Malaysia Berikan Perhatian untuk Palestina

ACEHTREND.CO, Lhokseumawe- Yayasan Geutanyoe mengecam kekerasan terhadap warga Palestina serta larangan untuk masuk dan beribadah di Masjid Al Aqsha di Yerussalem dalam beberapa hari terakhir. Tindakan pelarangan beribadah tersebut telah memicu bentrokan antara umat muslim Palestina dengan pasukan keamanan Israel dan telah merenggut korban jiwa dari kedua belah pihak.

“Kami mengutuk penggunaan kekerasan dan pembatasan terhadap hak-hak masyarakat Palestina untuk menjalankan kegiatan keagamaan mereka dengan damai. Kami menyerukan pemulihan segera status quo, demi melindungi hak masyarakat Palestina dan umat Islam untuk beribadah di Masjid Al Aqsa yang merupakan tempat suci ketiga dan kiblat pertama umat Islam,” kata Liliana Fan, Direktur Yayasan geutanyoe, melalui siaran pers yang diterima aceHtrend, Rabu (25/7/2017)

Liliana meminta kepada Dewan Keamanan PBB untuk segera melakukan tindakan diplomatik dengan tidak hanya mengutuk namun turut meminta pertanggung jawaban Israel atas agresi yang tidak manusiawi tersebut.

Pada saat yang sama, Yayasan Geutanyoe juga sangat prihatin dengan terus memburuknya situasi kemanusiaan di Gaza. Menurut laporan terbaru PBB yang diterbitkan awal bulan ini, Gaza menjadi semakin terpuruk dan tidak dapat dipulihkan dalam 10 tahun terakhir sejak Israel melakukan pengepungan menyusul pengambil alihan Jalur Gaza dari kelompok HAMAS pada tahun 2007.

(https://unsco.unmissions.Org/sites/defaultfilesgaza_10_years_later__11_july_2017.pdf).

Dalam laporan tersebut diungkapkan bahwa terjadi penurunan yang signifikan terhadap pelayanan masyarakat, termasuk kesehatan dan pendidikan, dimana hanya tersedia 1,4 dokter per 1.000 orang, tingkat pengangguran kaum muda meningkat menjadi 60% dan pasokan listrik yang tidak memadai. Laporan tersebut juga memprediksi bahwa sumber air yang terdapat di wilayah Gaza akan habis pada akhir tahun 2017.

Sementara itu, dalam laporannya PBB telah mengakui bahwa pembentukan sementara Gaza Reconstruction Mechanism (GRM) yang merupakan kesepakatan kedua belah pihak baik Palestina maupun Israel, dalam hal pemberian akses keluar masuk barang maupun orang ke wilayah Gaza untuk menunjang proses rekonstruksi pasca konflik yang terjadi pada tahun 2014; namun dengan pembatasan terhadap masyarakat Palestina yang terjadi saat ini, berdampak pada setiap aspek kehidupan di wilayah Gaza di antaranya berpencarnya keluarga, sektor kesehatan dan perdagangan yang terganggu, yang merupakan bukti nyata bahwasanya pihak pemerintah Israel telah melanggar perjanjian tersebut.

Sementara itu pemerintah Indonesia dan Malaysia telah menyatakan sikap solidaritasnya terhadap Palestina, “kami ingin menyoroti kenyataan bahwa pengungsi Palestina di Indonesia dan Malaysia masih menghadapi penolakan hukum untuk masuk kedua negara tersebut, deportasi, penahanan, serta kesulitan untuk mengakses perlindungan, tempat tinggal, layanan kesehatan dan pelayanan lain,” katanya.

Sejumlah pengungsi Palestina yang memiliki paspor dan pemegang kartu UNHCR Malaysia saat ini telah terkena dampak langsung dari kebijakan tersebut, termasuk di antaranya satu keluarga Gaza dengan dua orang bayi yang dideportasi dari bandara Kuala Namu Medan pada tanggal 21 Juli 2017 dan juga seorang pemuda yang sedang membutuhkan bantuan medis namun dideportasi dari Banda Aceh pada awal Maret 2017, terlepas dari kenyataan bahwa pemegang paspor Palestina dapat masuk ke Indonesia atau Malaysia tanpa memerlukan visa.

Dengan keadaan yang teramat menyedihkan ini, Yayasan Geutanyoe mendesak pemerintah ASEAN, khususnya Pemerintah Indonesia dan Malaysia, untuk menunjukkan solidaritas terhadap warga negara Palestina dengan meminta Dewan Keamanan PBB, OKI dan badan internasional lainnya untuk melakukan tindakan cepat melawan agresi Israel dan segera melakukan restorasi terhadap Hak masyarakat Palestina untuk dapat masuk dan beribadah di Masjid Al Aqsa. Kami juga meminta pemerintah Indonesia dan Malaysia untuk melindungi pengungsi Palestina, termasuk yang berasal dari Gaza, dengan memberikan izin masuk dan perlindungan hukum terhadap mereka.

KOMENTAR FACEBOOK