Ruslan, Patah Ranting di Ujung Usia

 

Kali ini, khususnya di Bireuen, hampir setiap bibir sebagian netizen nampak begitu fasih mengucapkan kata “Pajero Sport” – jenis mobil lumayan mewah dengan harga mencapai 500 juta rupiah per-unitnya. Mobil dengan tampilan gagah ini telah sukses menghebohkan jagad maya, khususnya di kalangan netizen Bireuen.

Kanalaceh.com (02/08/17) mengabarkan bahwa Bupati Bireuen, Ruslan M. Daud telah membeli 4 unit mobil jenis Pajero Sport yang kemudian dibagikan kepada empat instansi vertikal di Kabupaten Bireuen, terdiri dari Dandim 0111 Bireuen, Kapolres Bireuen, Kejari Bireuen dan Ketua Pengadilan Negeri Bireuen. Mobil-mobil tersebut kabarnya berstatus hibah dari Pemda Bireuen yang “katanya” didasarkan pada kesepakatan bersama antara eksekutif dan legislatif Bireuen. Tapi anehnya, seperti dirilis AceHTrend, ketua DPRK Bireuen justru mengaku tidak tahu menahu dengan bantuan hibah tersebut.

Menyimak dua informasi yang saling bertubrukan ini, tentu sangat sulit bagi kita untuk menebak siapa sebenarnya yang berbohong. Tapi yang jelas, Pajero Sport telah mengundang kegaduhan di kalangan publik. Ragam komentar miring pun bermunculan dan memenuhi beranda facebook.

Anehnya, sebagian pihak penerima mobil hibah ini justru merasa “riang gembira.” “Kegembiraan” ini di antaranya ditunjukkan oleh Kepala Kejaksaan Negeri Bireuen yang mengaku bersyukur atas bantuan tersebut, sebab menurutnya, dari pusat tidak ada anggaran untuk mobil operasional (tribunbarat.com). Mendengar penjelasan ini, kita hanya bisa menyisir-nyisir kumis. Begitu miskinnya instansi pusat sehingga harus dibantu oleh pemerintah daerah – yang untuk mengurus masyarakatnya sendiri saja masih kewalahan.

Keputusan Ruslan untuk membagi-bagikan “kado” berupa Pejero Sport di akhir pemerintahannya pun menuai kritik dari berbagai pihak. Sebagian kalangan menduga bahwa “kado” tersebut adalah sebuah “trik” dengan maksud tertentu. Asumsi liar ini muncul karena para penerima Pajero Sport adalah lembaga vertikal yang berada dalam lingkungan penegakan hukum. Kecuali Dandim (TNI) – Polres, Kejaksaan dan Pengadilan adalah instansi yang memiliki otoritas dalam menegakkan hukum di negeri ini.

Dalam keterangannya yang dirilis modusaceh.co (02/08/17), Ruslan berdalih bahwa penyerahan mobil tersebut karena adanya permohonan. Alasan ini memang cukup syahdu. Hanya karena ada permohonan, maka Pajero pun melaju. Anehnya, Dandim 0111 Bireuen justru membantah telah meminta mobil operasional kepada Bupati (lintasnasional.com).

Secara prinsip, kita sepakat saja bahwa memenuhi permohonan memang perbuatan mulia. Tapi yang menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah semua permohonan dari rakyat juga sudah dipenuhi? Seharusnya, kepala daerah bernegosiasi dengan pemerintah pusat guna membantu pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di daerah yang dipimpinnya, bukan justru “menyedekahkan” milik daerah untuk instansi pusat. Menyerahkan bantuan hibah kepada instansi vertikal adalah salah satu bentuk negosiasi terbalik yang sama sekali tidak menguntungkan daerah.

Akhirnya, akibat kebijakannya ini, Bupati Ruslan pun menjadi bulan-bulanan yang “diserang” dari kiri dan kanan – depan dan belakang. Dan Ruslan pun hana meuho kinip (tidak mampu mengelak) akibat kritik yang bertubu-tubi. Mencermati gerakan kritik yang menimpa Ruslan kali ini, saya berhasil menangkap dua tipe kritikus yang terlihat begitu gencar melakukan “serangan” terhadap “penguasa” yang sebentar lagi akan lengser.

Kritikus pertama adalah mereka-mereka yang memang dari sejak awal terlihat konsisten melakukan pengawalan terhadap berbagai kebijakan Ruslan selama menjadi bupati – yang dianggap tidak sesuai dengan keinginan rakyat. Artinya, aksi kritik yang mereka lakukan telah berlangsung jauh sebelum munculnya “tragedi” Pajero Sport. Mereka adalah para aktivis yang tetap menjaga konsistensi mereka dalam menyikapi setiap tindak-tanduk pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat. Kritikus serupa ini patut dihargai dan bahkan diapresiasi sebab gerakan yang mereka lakukan tidak didasari oleh kepentingan politik tertentu.

Adapun kritikus kedua, terdiri dari para penjilat yang ketika Bupati Ruslan Berjaya, mereka tampak menjadi “pengekor” setia dan bertepuk tangan atas setiap kebijakannya. Tapi ketika sang Bupati berada di akhir jabatannya – dan gagal meraih kemenangan pada pilkada lalu – para penjilat ini justru ikut-ikutan menjulurkan lidah dan menusuk sang bupati dari belakang. Para kritikus penjilat ini dengan semangat menyala-nyala turut melemparkan kritik dengan pola meu unyet-unyet (mengejek) terhadap sang bupati yang dulu mereka sanjung dan puja. Kritikus serupa ini adalah para penjilat yang berpura-pura bertaubat guna mengubah wajah agar aksi jilat-menjilat dapat dengan mulus berpindah pada bupati baru nantinya.

Akibat kritikus penjilat ini, akhirnya Ruslan pun gugur layu terkulai, meutumpok dan payah raba abee. Ruslan Ibarat orang yang jatuh ketimpa tangga – kena taik lagi. Di ujung usia kepemimpinannya Ruslan seperti kehilangan pendukung, karena para penjilat telah beralih profesi menjadi kritikus. Tepuk tangan yang selama ini bergemuruh penuh gelora – berganti caci maki dan sumpah serapah.

Akhirnya, dengan meminjam judul lagu yang pernah dinyanyikan Saleem Iklim bertajuk “Patah Ranting di Cermin Usia”, saat ini Ruslan mungkin juga mengalami hal yang sama – rantingnya patah di ujung usia. Salam Pajero Sport!

KOMENTAR FACEBOOK