Menyulap Aceh Menjadi Pelabuhan Transit Internasional

Pesawat Militer AS dari Diego Garcia menuju Jepang dan Canada mendarat darurat di Bandara SIM

Oleh Tibrani*)

Beberapa hari yang lalu Gubernur Aceh Irwandi Yusuf menawarkan Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar sebagai bandara penghubung atau “hub port” kepada Pemerintah Qatar. Tak hanya itu, Gubernur Aceh juga Aceh sebagai pelabuhan transit pesawat. Karena menurut beliau kondisi mutakhir Jadwal transit Doha sudah sangat padat. (Baca, Serambi Indonesia, 29 Juli 2017).
Wacana untuk menjadikan Bandara SIM sebagai bandara penghubung perlu diapresiasi oleh semua pihak, karena merupakan suatu keuntungan bagi masyarakat Aceh, sekaligus dapat mengenjot perekonomian masyakarat sekitar lingkungan bandara. Konflik politik yang melibatkan Qatar dengan negara Teluk lainya, seperti, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan beberapa negara Arab lainya juga ikut memanaskan tensi politik di kawasan negara teluk.

Embargo ekonomi yang dilakukan Arab Saudi, dengan cara tidak lagi mengimpor semua bahan pangan dan sandang yang berasal dari negara yang berjuluk Ibnu Su’ud tersebut, Qatar kemudian mengimpor bahan pangan dan kebutuhan lainya melalui Turki dan Iran.
Arab Saudi juga melakukan blokade, laut dan udara, akibat dari itu maskapai penerbangan Qatar atau Qatar Air Way dihantam turbulensi politik Timur-Tengah, Qatar Air Way tidak hanya dilarang transit dan mendarat tapi juga dilarang melewati wilayah teritorial udara.

Kehilangan wilayah udara di Arab Saudi memang memberi dampak yang signifikan terhadap Pesawat-pesawat Qatar Airways terutama yang akan melintasi Eropa,Afrika dan Negara kawasan Timur-Tengah lainya.

Tidak hanya itu, gejolak politik di kawasan Negara Teluk juga berpengaruh terhadap ketersedian pangan dan sandang di Qatar, maka oleh karena itu, wilayah Aceh yang strategis cocok dijadikan pelabuhan pendukung atau bisa jadi tempat food Security atau pengamanan pangan bagi negara Qatar.

Menjadikan Aceh pelabuhan transit
Terlepas dari hiruk-pikuk konflik politik Qatar dengan negara Teluk, maka perlu dicermati bahwa, letak provinsi Aceh yang sangat strategis, memungkinkan dijadikan pelabuhan transit pesawat dan menjadi lalu lintas penerbangan internasional, Eropa ke Australia.
Hal itu perlu menjadi pertimbangan masa Pemerintahan saat ini, bahwa membangun bandara transit perlu menjadi komitmen bersama dan semua instansi harus mendukung, kebijakan tersebut.
Perluasan Bandara SIM perlu diperluas lagi dengan konsep dekorasi menarik para wisatawan asing untuk melakukan transit di Blang Bintang.
Biasanya penerbangan Internasional, melakukan transit di Bandara Udara Internasional Kuala lumpur dan Bandara Udara Internasional Chanhi Singapura.
Konsep destinasi yang ditawarkan oleh salah satu Bandara Udara Internasional Chanhi Singapura adalah Keindahan taman-taman futuristik dengan beraneka ragam tumbuh-tumbuhan. Taman yang Indah yang ditanami bungan matahari dan adanya Butterfly Garden,( Tempat tinggal ratusan kupu-kupu,) yang kemudian wisatawan dapat melihat metamorfosis ulat menjadi kepupu.

Solusi dari konsep Bandara Udara Internasional Chanhi perlu dicontohkan untuk membangun konsep destinasi di Bandara SIM Blang Bintang. Aceh tidak perlu meniru seratus persen konsep di Bandara Internasional Singapura tersebut. Tetapi harus mencontohnya konsep destinasi wisatanya.
Jika seandainya di Bandara Internasional negeri “Singa” ada Taman Indah dan Butterfly Garden, apa salahnya jika di Bandara Internasional SIM dibangun taman yang indah dan futuristik yang menarik, seperti bunga khas Aceh, Bungong Seulanga , tentunya hal itu menjadi ciri khas dan simbol daerah Aceh sebagai destinasi wisata taman bunga.
Kuliner khas Aceh, yang terkenal seperti Mie Aceh yang telah dikenal sampai seantero seluruh Nusantara dan sebagian negara tetangga, dan beberapa makanan khas lain,misalnya Kuah Beulagong, (Kuah kari kambing), dan Keumamah (Ikan Kayu Khas Aceh).
Tentunya wisata kuliner yang ditawarkan di Bandara Internasional SIM, diharapkan mampu menarik para penumpang pesawat transit dan wisatawan untuk berlabuh sebentar atau transit di Bandara Internasional sambari menikmati Kuliner khas Aceh.

Yang menjadi pertayaan kita bersama adalah, Mengapa pesawat memilih transit di Negara Malaya dan Singapura, padahal, letak Aceh sangat strategis yang sangat dekat dengan negara lainya, seperti India, Arab Saudi dan Australia dan negara-negara Eropa lainya, tentu jawabanya lebih disebabkan karena kurang kesiapan pemerintah untuk menjadikan SIM sebagai Bandara Internasional.

Pemerintah asyik sibuk dengan politik untuk kepentingan kelompok dan terlena dengan banyaknya dana otonomi khusus (otsus), tapi sudah lupa caranya bagaimana dana otsus tersebut, jika sudah habis, dan Aceh harus dibangun dengan konsep apa.

Solusi menurut hemat penulis adalah pembangunan Bandara Internasional SIM dengan konsep destinasi wisata khas Aceh perlu dilakukan guna mendongrak perekonomian masyarakat Aceh dan sebagai tempat transit pesawat Internasional.

*)Ditulis oleh Mahasiswa Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala juga Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP

KOMENTAR FACEBOOK