Persahabatan Abadi Ampon Chiek Peusangan dan Tionghoa

Ampon Chik Peusangan, Foto: atjehcyber.net

Siang itu (Senin, 07/08/17), saya dan Azmi Abubakar bersepakat untuk melakukan “kunjungan” ke areal pemakaman Tionghoa di Geulanggang Teungoh, Kota Juang, Bireuen. Agenda kunjungan ini telah diatur jauh-jauh hari oleh Azmi dan sahabat-sahabat Tionghoa yang ada di Bireuen. Azmi sendiri adalah salah seorang pakar Tionghoa di Indonesia yang saat ini aktif mengelola Museum Pustaka Peranakan Tionghoa di Serpong, Tangerang Selatan. Museum tersebut adalah milik pribadi yang didanai sendiri oleh Azmi.

*********

Setelah beberapa kali melakukan diskusi ringan di kedai kopi dengan rekan-rekan Tionghua, akhirnya mereka bersedia menemani kami untuk melakukan “tour sejarah” ke pemakaman Tionghua di Bireuen.

Dalam perjalanan hari itu, kami ditemani oleh sesepuh Tionghoa Bireuen, I Lien Fa (70 tahun). Tepat pukul 14.00 Wib, kami pun bergerak menuju areal pemakaman yang tidak berapa jauh dari Kota Bireuen. Dengan menggunakan sepeda motor jadul, Super Cup 70, Bapak I Lien Fa melaju santai di depan kami. Hanya beberapa menit, kami pun tiba di lokasi.

Sampai di lokasi, kami pun berkeliling di areal pekuburan yang menurut keterangan I Lien Fa, telah berusia lebih kurang seratus tahun. Sebelum dipindahkan ke lokasi ini, warga Tionghoa pada awalnya dimakamkan di sebuah pekuburan tua yang dikenal dengan “kuburan internasional” yang bertempat di belakang RSU Fauziah Bireuen.

*********

Sambil melihat-lihat kuburan warga Tionghoa di areal tersebut, kami pun terlibat diskusi serius seputar etnis Tionghoa dengan sesepuh Tionghua Bireuen ini. Di sela-sela diskusi, I Lien Fa menyuguhkan informasi menarik sekaligus mengejutkan. “Tanah pekuburan ini dihibahkan oleh Raja Aceh kepada warga Tionghoa”, kata I Lien Fa.

Mendengar informasi ini, saya dan Azmi hanya bisa terdiam keheranan. Di tengah kebingungan – tentang siapa Raja Aceh yang dimaksud – I Lien Fa kembali berujar: “Tanah ini hibah dari Ampon Chik Peusangan.” Tanah ini – lanjut I Lien Fa, diberikan khusus untuk masyarakat Tionghoa.

Uniknya, dalam melakukan pemakaman di tanah ini sama sekali tidak membedakan agama. Menurut keterangan I Lien Fa, setiap ada masyarakat Tionghoa yang meninggal akan dimakamkan di tanah ini. Saya dan Azmi menyaksikan sendiri beberapa kuburan warga Tionghoa yang berasal dari berbagai agama, seperti Budha dan Kristen. Dan bahkan kami juga menemukan kuburan warga Tionghoa yang beragama Islam.

*********

Dari penjelasan I Lien Fa, diketahui bahwa warga Tionghoa Bireuen di masa lalu memiliki hubungan yang sangat baik dengan masyarakat setempat. Hubungan harmonis ini sudah terbangun hampir satu abad lamanya – atau bahkan lebih. Demikian pula dengan Ampon Chik Peusangan yang menjadi penguasa negeri kala itu – juga sangat dekat dengan komunitas Tionghoa. Kedekatan inilah – masih menurut I Lien Fa – yang mendorong Ampon Chik Peusangan menghibahkan tanah pekuburan kepada masyarakat Tionghoa.

Teuku Chik Muhammad Djohan Alamsjah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ampon Chik Peusangan adalah seorang kepala negeri (ulee balang) di negeri Peusangan. Menurut Ismuha, dalam tulisannya “Ulama Aceh dalam Perspektif Sejarah” (Taufik Abdullah, ed, 1983), Ampon Chik Peusangan adalah sosok yang memiliki hubungan baik dengan Belanda, sekaligus dekat dengan kalangan ulama dan rakyat. Bahkan, ketika organisasi Persatuan Ulama Seluruh  Aceh (PUSA) dibentuk pada 1939, Ampon Chik dinobatkan sebagai Pelindung PUSA.

Ampon Chik Peusangan juga dikenal sebagai tokoh yang pro terhadap pendidikan modern di Aceh. Hal ini dibuktikan dengan persetujuan beliau terhadap gagasan Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap yang ketika itu ingin mendirikan madrasah. Pada waktu itu, Ampon Chik menyediakan tanah di Kota Matangglumpangdua untuk pembangunan Madrasah Almuslim.

Pada masanya, Ampon Chik Peusangan adalah sosok yang punya pengaruh besar di Aceh. Dalam buku Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Istimewa Aceh (1983) disebutkan bahwa organisasi Perhimpunan Indonesia yang digagas oleh para Ulee Balang di Aceh tempo doeoloe tidak berkembang akibat adanya penolakan dari Ampon Chik Peusangan. Fakta ini menunjukkan bahwa Ampon Chik Peusangan adalah sosok yang dihormati, tidak hanya di Peusangan, tapi juga di Aceh.

**********

Dalam kaitannya dengan masyarakat Tionghoa, Ampon Chik Peusangan telah mengukir sejarah yang sangat menarik untuk dikaji. Sikap Ampon Chik yang dengan suka rela memberikan tanah pekuburan kepada masyarakat Tionghoa seolah memberi pesan kepada kita semua bahwa masyarakat Aceh harus terbuka untuk membangun hubungan dan hidup rukun dengan etnis manapun, khususnya Tionghoa.

Perhatian khusus yang ditunjukkan oleh Ampon Chik Peusangan kepada masyarakat Tionghoa tentunya dilatari oleh berbagai alasan. Kuat dugaan bahwa Ampon Chik Peusangan memiliki keyakinan untuk membangun hubungan yang terus-menerus dan abadi dengan masyarakat Tionghoa.

Bagi masyarakat Tionghoa, seperti dijelaskan Azmi – kuburan memiliki arti penting, di mana setiap tahun mereka merayakan hari raya Ceng Beng di areal pekuburan. Hari raya Ceng Beng menjadi media untuk saling berinteraksi, karena pada hari itu, masyarakat Tionghoa yang telah merantau ke luar daerah akan kembali dan saling bertemu di kuburan leluhur mereka. Pada hari tersebut, mereka juga mengunjungi orang tua dan karib kerabat.

Sebagai sosok yang berwawasan modern, dapat diduga bahwa Ampon Chik Peusangan sengaja menghibahkan tanah pekuburan kepada masyarakat Tionghoa sebagai pengikat hubungan yang abadi antara mereka dengan masyarakat setempat. Dalam konteks kekinian, sudah semestinya keharmonisan antara Aceh-Tionghoa yang telah dirintis oleh Ampon Chik ini terus kita rawat bersama-sama.

Azmi dan I Lien Fa

KOMENTAR FACEBOOK