Kala Generasi Muda Bersarung Belajar Jurnalistik

ACEHTREND.CO,Bireuen- Berkali-kali ruang yang berdinding kaca itu dipenuhi tawa berderai. Pemimpin Redaksi aceHTrend, Muhajir Juli, berhasil “membangunkan” minat para santri untuk belajar, dengan joke-joke segar nan renyah. Walau masih malu-malu, pelan-pelan mereka mulai bertanya tentang dunia kewartawanan.

“Pers Indonesia diatur dengan UU Nomor 40 Tahun 1999. Bila Anda ingin mengetahui apa itu kewartawanan dan dunia jurnalistik dalam ruang lingkup Indonesia, silahkan baca UU itu, Insya Allah tidak sesat,” kata Muhajir, yang disambut tawa belasan santri Dayah Babussalam Al Aziziyah Jeunib, Bireuen, Rabu malam (09/8/2017) sekitar pukul 11.00 WIB.

Sejatinya malam itu Muhajir akan melatih mereka untuk praktek menulis berita lempang (straight news), namun setibanya di lokasi pelatihan, panitia memberitahu bila sebagian besar peserta sudah berganti dari hari pertama. “Peserta kemarin banyak yang mengaji dan mengajar ngaji. Ini peserta lain,” lapor panitia.

“Wew, saya tidak lagi membawa power points bahan pelatihan. Karena rencananya malam ini kita akan langsung praktek. Okelah, kita andalkan ingatan saya saja, hehehe,” ujar Muhajir. Kembali tawa berderai.

Dalam hitungan menit kemudian, Pimred AceHTrend pun mulai menjelaskan tentang UU Pers yang di dalamnya membahas tentang semua hal yang mengatur tentang jurnalistik dan kewartawanan.

“Wartawan Indonesia itu diatur oleh UU Nomor 40 Tahun 1999. Secara praktis Kode Etik Jurnalistik (KEJ) merupakan norma dasar yang mengatur gerak wartawan Indonesia. Jadi, kartu pers itu bukan tiket untuk seorang wartawan bebas aturan,” terang Muhajir.

Suasana pelatihan selanjutnya penuh dengan ceramah dari Pimred aceHTrend. Ia menjelaskan tentang teori jurnalistik, kewartawanan, etika, serta jenis-jenis berita. “Tidak semua informasi adalah berita. Karena sesuatu dapat disebut berita bila ditulis oleh wartawan dan memenuhi unsur jurnalistik. Sebuah informasi baru disebut berita karena memenuhi unsur 5 W +1 H. Juga dipublikasikan di media massa yang memenuhi persyaratan umum yang sudah ditetapkan,” terang aktivis literasi itu.

Pada kesempatan tersebut Muhajir Juli juga menjelaskan perbedaan antara media massa dengan situs informasi yang mirip portal berita, sembari menyebut nama-nama situs. “Sama seperti di dunia santri, tidak semua yang bersurban ianya adalah manusia alim dan taat, karena untuk melihat ketaatan itu harus diukur dari perilaku. Demikian juga dengan media, tidak semua website adalah portal berita, karena untuk menjadi portal berita yang diakui sesuai aturan, harus memenuhi beberapa persyaratan yang sudah diatur oleh regulasi dan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Sebagai pelatihan awal, santri yang berasal dari berbagai latar belakang, bertanya banyak hal kepada Muhajir Juli terkait dengan materi yang disampaikan. Diselingi dengan lawak-lawak kecil dan pengindonesiaan bahasa Aceh, membuat para santri betah hingga pelatihan dinyatakan selesai. []

KOMENTAR FACEBOOK