Meneguhkan Makna “Stress”

(Apresiasi Bedah Buku Habis Sesat Terbitlah Terang di ICAIOS)

Mungkin jika ada pertanyaan, “Apakah judul buku yang paling aneh dan provokatif ? Tentu saya akan menjawab, “Habis Sesat Terbitlah Stress” karya fenomenal seorang Khairil Miswar. Judul tersebut terkesan mirip dengan Habis Gelap Terbitlah Terang, yaitu kumpulan surat menyurat Kartini, yang diterjemahkan oleh Armin Pane. Buku Habis Sesat Terbitlah Stress ingin mengingatkan perilaku yang merasa paling tercerahkan, lalu kemudian men-cap sesat siapa saja yang berbeda adalah prilaku stress. Sehingga, “Ketika tidak ada lagi yang disesatkan, akhirnya ia menyesatkan dirinya sendiri.” Begitulah kesimpulan diskusi terakhir kami.

Habis Sesat Terbitlah Stress adalah buku yang laris manis bak kacang goreng. Mungkin sudah ada 600 eks yang terjual. Selain karena pengiklanan dan pemasaran yang masif oleh Khairil Miswar dan dibantu oleh rekan-rekan Padebooks dan media, juga karena judulnya yang menggoda, dan isinya yang ringan jenaka namun menusuk sanubari mengungkap fenomena-fenomena anti-wahabi. Selain itu, nama populer Khairil Miswar sebagai kontributor kolom opini di beberapa media, juga menjadi pendorong. Bahkan hari ini di Acehtrend.co, Khairil Miswar punya kolom sendiri juga dengan titel yang menggelitik, yaitu Tuanku Nan Kacau.

Habis Sesat Terbitlah Stress bukan hendak menyasar kelompok tertentu. Ia justru menyasar siapa saja, tak terkecuali mereka yang dicap sebagai wahabi. Ia menyasar mereka yang tidak mampu berfikir jernih dalam melihat kebenaran. Ia menyasar prilaku-prilaku tidak wajar yang dipertontonkan oleh umat ketika merespon satu fenomena tertentu. Ia menyasar mereka yang melupakan narasi tabayyun, ketika berhadapan dengan perbedaan-perbedaan fur’iyah. Ia juga menyasar mereka yang mempolitisasi Agama, walaupun Khairil Miswar sendiri bukan seorang yang anti-politik apalagi anti-agama.

Fenomena menarik dari buku Habis Sesat Terbitlah Stress adalah kejadian poh ureung pungoe, atau razia orang gila yang terjadi beberapa saat setelah buku tersebut diluncurkan. Buku tersebut seolah ingin meneguhkan dirinya bahwa inilah stress massal itu, ketika dengan mudahnya berita hoax menjadi penggerak kegilaan massa. Mereka meninggalkan akal jernih dan lebih mengimani berita-berita yang tidak memiliki sanad yang jelas. Dan termasuk ketika itu adalah berita-berita miring dan isu tentang “Wahabi.”

Kamis, 10 Agustus 2017, buku Habis Sesat Terbitlah Stress memperoleh kehormatan untuk dibedah di ICAIOS (International Center for Aceh and Indian Ocean Studies) Banda Aceh yang dibedah oleh M. Alkaf dan Fajran Zain dan dimoderatori oleh Asrijal Luthfi. Dalam bedah buku tersebut juga dihadiri oleh sejumlah nama seperti Budi Azhari, Miswari, Teuku Zulkhairi, Kamaruzzaman Bustamam – Ahmad, Saiful Akmal dan lain-lain. Peserta yang hadir juga membludak. Bahkan beberapa peserta harus rela berdiri karena ruangan yang sempit dan jumlah kursi yang terbatas.
Sebuah analogi menarik dari Miswari ketika menjelaskan mengenai perbedaan pandangan di kalangan umat Islam. Menurutnya, kita semua sedang mengambil air dari lautan yang sama. Hanya berbeda plok (tempat air) dan kapasitas saja. Sehingga ada yang mengambil air laut satu plok minuman kemasan, ada yang mengambil satu ember, ada juga yang mengambil satu tangki. Begitupun kita dalam memahami atau mengambil hikmah kebenaran dari Tuhan. Bahwa kita hanya mengambil dari lautan yang sama, dan tidak ada hak untuk mengklaim bahwa air yang kita ambil dalam plok sebagai lautan. Artinya, timbulnya perpecahan itu karena semua pihak mengklaim bahwa dirinya yang paling benar. Selama mereka mampu untuk saling menghargai dan memahami, maka tidak akan terjadi apa-apa.

Analogi lain diajukan oleh Fajran Zain ketika mengumpamakan seorang petani yang membawa karung berisi tikus ke kota dalam sebuah bis. Setiap satu menit sekali, karung tersebut dibalik dan menimbulkan kericuhan di dalam karung. Petani bertujuan, dengan membalik karung secara terus menerus akan menimbulkan kepanikan dan kesibukan para tikus. Namun jika karung tersebut tidak dibalik, tikus-tikus itu akan tenang dan mampu berfikir untuk melobangi karung. Artinya, Fajran Zain mengingatkan kita untuk tidak mudah terjebak dalam setting-setting konflik yang sengaja diciptakan, untuk membuat kita lalai dan tidak sempat mengkritisi prilaku elit.
Dalam kesempatan yang sama, Teuku Zulkhairi juga mengemukakan pandangannya. Menurutnya, kita harus bersikap adil dalam melihat kedua sisi. Baik itu sisi “wahabi” maupun sisi aswaja. Penolakan dan permusuhan yang berlebihan pada tema-tema yang berbeda tanpa mengedepankan dakwah kasih sayang adalah tidak dibenarkan. Dan ada banyak lagi pandangan-pandangan Zulkhairi yang dipaparkan dalam kesempatan tersebut.
Kesimpulan dari diskusi tersebut adalah selalu adanya potensi persinggungan antara kelompok yang diklaim sebagai wahabi dan aswaja. Potensi tersebut telah terjadi berpuluh-puluh tahun dan diperkirakan tidak akan habis sampai hari kiamat. Namun potensi tersebut tidak akan benar-benar menjadi konflik jika sesama kita mampu untuk saling menghargai perbedaan dan tidak mudah menyesatkan yang berbeda.

Selain itu, kita harus cerdas untuk membedakan mana konflik yang muncul secara natural dan mana konflik yang diciptakan untuk kepentingan-kepentingan politik-ekonomi. Jangan sampai kita menjadi tikus dalam karung, yang ribut sesama mereka dan lupa untuk melobangi karung tersebut.