Rokoklogi

 

Guru saya, Kamaruzzaman Bustamam Ahmad (KBA) – yang juga pemikir terkenal di Aceh abad ini – dan juga Indonesia, telah sukses merumuskan satu cabang ilmu baru guna memahami Aceh. Hasil ijtihad ilmiah KBA ini telah tersusun rapi dalam beberapa jilid buku yang beliau namai Acehnologi.  Buku Acehnologi karya antropolog muda ini adalah salah satu buku penting yang harus dibaca minimal sekali dalam seumur hidup.

Tanpa bermaksud ikut-ikutan – meskipun sedikit latah, judul tulisan ini sengaja menjiplak pola Acehnologi yang telah dikonstruk secara sistematis oleh KBA. Sebagai salah seorang murid KBA, tentu wajar saja jika saya melakukan tabarruk akademik kepada guru saya. Jika kader-kader dayah tradisional melakukan tabarruk dengan cara mencium tangan – maka saya melakukan tabarruk dengan memeluk karya-karya guru saya. Ini adalah bentuk tabarruk metodologis yang masih tabu dalam lingkugan akademik – atau mungkin dianggap sebagai bid’ah akademis. Untuk itulah saya memberi tajuk tulisan ini dengan Rokoklogi.

Namun demikian, saya harus sadar-sesadar-sadarnya bahwa secara metodologis, artikel Rokoklogi ini tidak sepenuhnya akademis – dan jauh dari tradisi ilmiah – dan bahkan mungkin bertentangan dengan “SOP” yang telah dirancang oleh para akademikus. Hal ini terbilang wajar, sebab bangunan keilmuan yang saya miliki tertinggal jauh ratusan juta kilometer dari akademikus semisal KBA. Tapi, kondisi ini menjadi titik aman, karena saya akan terbebas dari gugatan ontologis, epistimologis dan aksiologis.

Jika Acehnologi kita ibaratkan seperti hujan lebat yang membasahi setiap jengkal bumi, maka Rokoklogi hanyalah titisan gerimis manja yang justru menidurkan. Rokoklogi adalah kepingan halus yang mungkin tertimbun dalam tumbukan tradisi Keacehan lainnya – sehingga ia terpental dari rumah besar Acehnologi yang telah diramu secara apik oleh KBA.

Saya harus jujur bahwa Rokoklogi ini lahir setelah saya membaca statemen Kepala Bappeda Aceh beberapa hari lalu – yang menyebut rokok sebagai penyebab kemiskinan. Sebuah statemen apologis-diskriminatif guna menutupi kegagalan mereka dalam menumbuhkan perekonomian di Aceh dengan cara melempar bola kepada para perokok.

Diskusi tentang Rokoklogi semakin menajam ketika saya menikmati sanger panas bersama senior saya, Risman Rachman di Solong Ulee Kareng (11/08/17). Dalam beberapa statusnya di facebook, Risman terlihat sangat gencar membahas rokok sebagai salah satu pintu memahami Aceh. Dari meja kupi inilah, Rokoklogi menjelma sebagai sebuah medium untuk menerjemahkan Aceh.

Untuk menjelaskan berbagai fenomena dalam kehidupannya, sebagian masyarakat Aceh cenderung menggunakan simbol tertentu yang terkadang menjelma dalam bentuk hadih maja. Di antara hadih maja kontemporer adalah kalimat sibak rukok teuk, rukok sibak teuk dan toh rukok sibak.

Kalimat sibak rukok teuk menduduki strata tertinggi dalam menafsirkan sebuah fenonema di Aceh. Tidak begitu jelas, sejak kapan istilah sibak rukok teuk ini muncul dalam perbicangan masyarakat Aceh. Tapi yang jelas, popularitas kalimat ini mencapai puncaknya ketika konflik GAM-RI berkecamuk.

Istilah sibak rukok teuk sering digunakan oleh pihak GAM untuk memberi harapan kepada masyarakat bahwa perjuangan mereka akan segera berhasil. Dan ketika kesuksesan tersebut tidak datang juga, sebagian masyarakat sering mengolok dengan sibak rukok beuso teuk (sebatang rokok besi).

Istilah sibak rukok teuk (sebatang rokok lagi) mengandung makna bahwa sebuah usaha yang sedang dirintis akan segera mencapai kesuksesan. Sibak rukok teuk dapat disepadankan dengan sebentar lagi. Dan dalam kenyataan sosial masyarakat Aceh, sibak rukok teuk tidak hanya menjadi monopoli GAM, tapi juga kerap digunakan oleh masyarakat umum sebagai simbol harapan.

Bicara sibak rukok teuk adalah bicara kesuksesan dan kejayaan. Semangat sibak rukok teuk adalah semangat yang terus menyala-nyala dan tidak pernah padam. Tidak hanya rakyat, pemerintah dan para politisi pun senantiasa bermain dengan sibak rukok teuk. Aceh akan maju dalam periode sibak rukok teuk. Kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi di Aceh juga akan dicapai dalam rentang waktu sibak rukok teuk. Pokoknya sibak rukok teuk dan selalu sibak rukok teuk.

Jika sibak rukok teuk mencerminkan sebuah harapan yang akan terwujud, sebaliknya, rukok sibak teuk (rokok sebatang lagi) memberi tanda kemunduran. Sebungkus rokok yang kemudian menyusut menjadi rukok sibak teuk mencerminkan ketidakstabilan dan keterpurukan. Rukok sibak teuk mengindikasikan gagalnya pertumbuhan ekonomi dan menjadi kode bagi menjamurnya kemiskinan.

Dalam kondisi demikian, pemerintah seharusnya mengevaluasi diri, bukan justru menyentil para perokok sebagai tersangka utama penyebab kemiskinan. Pemerintah selaku penguasa harus bertanggung jawab melakukan berbagai langkah guna mencari tahu kenapa Aceh terjebak dalam kondisi rukok sibak teuk.

Jika kondisi rukok sibak teuk dibiarkan oleh pemerintah dengan menaburkan argumen berkualitas rendah maka kondisi justru akan semakin parah. Rukok sibak teuk akan segera berubah wujud menjadi toh rukok sibak (minta rokok sebatang). Toh rukok sibak menjadi tanda bagi kondisi masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan. Untuk itu, pemerintah tidak boleh larut dalam keasyikan dan menari di atas angka-angka, tapi pemerintah harus sigap menyulap angka-angka tersebut guna menyelamatkan masyarakat dari kondisi toh rukok sibak.

Mengakhiri tulisan ini, kita berharap kepada penguasa baru di Aceh untuk tidak terlena dengan statistik yang menipu sehingga menambah kebingungan publik. Menyebut rokok sebagai penyebab kemiskinan adalah tindakan memblender perhatian publik demi menjaga marwah penguasa yang mulai terkoyak. Dan bukan tidak mungkin, justru Bappeda yang selama ini gagal membuat perencanaan sehingga menyebabkan kemiskinan di Aceh. Jika memang Bappeda serius ingin memasukkan rokok sebagai indikator kemiskinan, maka tulisan di bungkus rokok yang selama ini terkait dengan kesehatan diganti dengan kalimat yang berhubungan dengan pertumbuhan ekonomi, seperti “rokok dapat menyebabkan kemiskinan” – stempel Bappeda.

Rokok tidak selamanya menjadi simbol kemiskinan, tapi rokok juga bisa menjadi penanda maju mundurnya pertumbuhan ekonomi di Aceh. Rokok adalah salah satu pintu kecil memahami Aceh. Salam Rokoklogi.

KOMENTAR FACEBOOK