Dari Kota Juang ke Kota Narkoba

Ilustrasi

Julukan Kota Juang yang diberikan oleh Bustanil Arifin kepada Bireuen karena partisipasi rakyatnya saat revolusi fisik kala Indonesia masih seumur jagung, kini berganti. Sayangnya, julukan berstigma negatif itu justru keluar dari mulut dari orang nomor satu di Bireuen, H. Saifannur, S.Sos.

Terkait julukan, Bireuen memang banyak bergonta-ganti. Kota Juang, Kabupaten 1000 Dayah, Kota Pendidikan, Kota 100 Ribu, dan kini Kota Narkoba. Khusus untuk kota narkoba, julukan ini ditabalkan oleh Bupati Bireuen yang akrab disapa Toke Saifan, Sabtu malam (19/8/2017) kala malam resepsi dan pembubaran Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) 17 Agustus 2017. Pada kesempatan itu ia juga mengatakan, bahwa pemberantasan peredaran narkoba di Bireuen tidak mampu dilakukan oleh polisi. Butuh keterlibatan keluarga dan lingkungan dalam rangka mengawal generasi Bireuen agar tidak terlibat narkoba.

Merujuk data Direktorat Narkoba Polda Aceh, tahun 2016 kasus yang berhasil masuk ke Polres Bireuen, untuk ganja 5 laporan dengan jumlah tersangka 6 orang. Kasus sabu-sabu, 55 laporan dengan tersangka 69. Tahun 2017, baru awal Agustus, kasus ganja 12 laporan dengan tersangka 14 orang. Sabu-sabu 60 laporan dan 114 tersangka. Melihat trend tersebut, secara tersurat tergambar bahwa ada peningkatan serius penyalahgunaan narkoba di Bireuen, khususnya sabu-sabu.

Angka yang dirilis oleh polisi tidaklah menjadi gambaran utama tentang jumlah peredaran narkoba di Bireuen. Bersebab, sudah menjadi rahasia umum, di tiap kecamatan di Bireuen telah bercokol bandar sabu yang tak kunjung berhasil diringkus oleh polisi. Mereka itu, dengan keuntungan sabunya, sudah menjadi “tokoh” baru di tengah masyarakat yang kian tenggelam dalam lelaki kehidupan hedonis (memuja uang sebagai Tuhan- istilah tamsilan)

Semua pihak mengaku gelisah, namun di sisi lain kehadiran bandar sabu kian diterima di tengah masyarakat. Dalih yang disampaikan sangat sederhana: di tengah ketidakmampuan pemerintah membuka lapangan kerja dan tidak transparannya pengelolaan Dana Desa, toke sabu hadir dengan solusi pasti, menawarkan pekerjaan sekaligus “nikmat” sekaligus. Sudah menjadi hukum adat, di mana ada orang mencret di situ akan berkumpul anjing lapar, maka di mana ada peluang kerja cum kenikmatan yang dilarang, di sana akan berkumpul kaum pemuja uang tanpa melihat kehalalannya. Agama, bukankah itu sangat privat?, Alasan bahwa Islam melarang perbuatan haram, tidak lagi menjadi penghalang. “Meunyoe gadoh tapateh Haba kitab, u tupe kab Han meutumeung rasa” demikian alasan yang diajukan.

Komunikasi Politik

Komunikasi Politik adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah. Dengan pengertian ini, sebagai sebuah ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara “yang memerintah” dan “yang diperintah”.

Menurut Gabriel Almond (1960): komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik. (Wikipedia)

Melihat apa yang disampaikan oleh Bupati Bireuen tentang julukan baru Bireuen sebagai Kota Narkoba, dalam imaji saya, ada kerancuan dalam membangun komunikasi politik. Entah siapa yang mengajarkan konsep pidato yang demikian, namun, pada akhirnya apa yang disampaikan oleh Bupati –mau tidak mau– telah cukup syarat untuk dianggap sebagai ucapan resmi yang memiliki kekuatan sosial dan politik. Bukankah apa yang dibicarakan oleh Bupati atau kepala daerah lainnya di depan forum resmi, merupakan pernyataan resmi pemerintah?

Saya tahu dan percaya, ada ketulusan dari penyampaian dari Toke Saifan. Ia mungkin gelisah dengan semakin bertumbuhnya narkoba di Kota Juang. Pun demikian, seharusnya ia menawarkan konsep yang cespleng untung menurunkan angka pengguna narkoba sekaligus memberantas bandar narkoba, yang tidak mampu dilakukan oleh polisi secara kelembagaan.

Ah, sudahlah, apapun cerita nasi sudah menjadi bubur. Ucapan itu sudah terlanjur keluar. Bila hari ini Bupati Bireuen sudah menasbihkan Bireuen sebagai Kota Narkoba, semoga tiga tahun ke depan Bireuen menjadi laboratorium pemberantasan narkoba. Merdeka!